Home » Customer Alert » Mammografi Bukanlah Pendeteksi Kanker Payudara yang Baik dan Dapat Menyebabkan Kanker

Mammografi Bukanlah Pendeteksi Kanker Payudara yang Baik dan Dapat Menyebabkan Kanker

test-mamografiKematian akibat kanker payudara umumnya muncul di antara usia 30 sampai 50 tahun. Untungnya, saat ini Anda memiliki lebih banyak pilihan dalam mendeteksi kanker payudara dibandingkan beberapa dekade yang lalu.

Namun sayang, pendidikan dan sosialisasi akan pilihan ini serta keefektifannya dalam mendeteksi kanker payudara dalam tingkatan berbeda sangatlah kurang.

Lebih Baik Dibandingkan Mamografi

Di awal artikelnya, Beyond Mammography, Dr. Len Saputo menceritakan bahwa ia mengikuti perkembangan segala metode deteksi yang dipakai oleh komunitas medis, termasuk mamografi, test klinis payudara, ultrasound, Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan scan PET.

Di bagian berikutnya, Dr. Len menjelaskan tentang suatu metode deteksi yang lebih baik dibandingkan mammografi, menjelaskan dengan detail betapa mutakhir dan hebat metode yang satu ini, yaitu termografi payudara (breast thermography).

Termografi payudara, adalah metode deteksi kanker payudara yang sudah ada sejak sekitar 1960-an, menggunakan scanner pemantau panas untuk mendeteksi variasi panas badan dijaringan payudara. Namun, scanner infra merah di tahun-tahun tersebut kurang begitu sensitif. Hari ini, termografi payudara yang lebih modern telah mengalami kemajuan yang sangat pesat dibandingkan sebelumnya.

Kanker payudara merupakan kanker paling ganas kedua bagi kaum wanita di Amerika Serikat. Berdasarkan laporan terbaru Cancer.org , Data Kanker Payudara 2007-2008, di tahun 2007 telah ada 178.000 kasus kanker payudara baru dan lebih dari 40.000 wanita meninggal oleh karenanya.

Tapi yang perlu diwaspadai adalah pria tidaklah kebal terhadap kanker payudara. Telah didapati lebih dari 2.000 pria terdiagnosa kanker payudara di tahun 2007 dan kira-kira 450 pria meninggal dunia karenanya. Oleh karena deteksi kanker payudara bagi pria hampir tidak pernah dilakukan, sepertinya ini membuat pria terdiagnosa dengan stadium yang lebih berat dan dengan demikian tingkat selamatnya kecil.

Sungguh disayangkan, dalam hal ini medis konvensional tetap saja memakai metode lama dalam mendeteksi dan merawat kanker, tidak peduli betapa kurang efektifnya metode tersebut.

Penggunaan mammografi sebagai standar adalah salah satu contoh kesalahan medis konvensional dalam mendeteksi kanker.

Kasus Melawan Mammografi

Lembaga-lembaga kesehatan di Amerika merekomendasikan semua wanita di atas 40 tahun mendapatkan mammogram tiap 1 atau 2 tahun, namun tidak ada bukti kuat bahwa test mammogram bisa menyelamatkan hidup dan manfaatnya pun juga kontroversial. Justru bahaya mamografi bagi kesehatan telah jelas diketahui.

John Gofman, M.D., Ph.D. – seorang ahli fisika nuklir dan seorang dokter medis, serta salah satu dari ahli kelas dunia di bidang bahaya radiasi, mempresentasikan bukti-bukti tak terbantahkan dalam bukunya “Radiation from Medical Procedures in the Pathogenesis of Cancer and Ischemic Heart Disease”, yang menjelaskan bahwa lebih dari 50% angka kematian akibat kanker sebenarnya dipicu oleh penggunaan x-ray.

Sekarang coba pertimbangkan fakta bahwa praktik rutin dari mengambil 4 gambar film di tiap payudara seseorang tiap tahunnya, menghasilkan kira-kira 1 rad (dosis serap radiasi) paparan radiasi, itu artinya sama saja dengan 1.000 kali lebih besar daripada foto x-ray dada.

Bagaimana Mammografi Meningkatkan Resiko Anda Terkena Kanker

X-ray dan radiasi ionisasi sekelas lainnya dalam beberapa dekade telah terbukti dapat menyebabkan segala jenis mutasi biologis. Pada awalnya mutasi biologis tidaklah mematikan. Tapi mutasi tersebut lambat laun berakumulasi dengan tiap penambahan paparan x-ray atau radiasi ionisasi lainnya.

X-ray juga diketahui menyebabkan adanya ketidakstabilan genomic, yang merupakan salah satu karakteristik dari kanker yang paling agresif.

Sebagai tambahan, resiko dari radiasi adalah 4 kali lebih besar bagi 1-2% wanita yang adalah pembawa gen A-T (ataxia-telangiectasia), yang dalam perhitungan rata-rata per tahunnya 20% ada pada pasien kanker payudara.

Ketika diperhitungkan, mengurangi frekuensi paparan radiasi medis seperti misalnya mammogram akan mengurangi angka kematian.

Praktek skrining mammografi itu sendiri mengakibatkan resiko kumulatif kanker payudara, terutama bagi wanita yang berada pada masa premenopause.

Yang lebih parah lagi, diagnosa positif yang salah sering terjadi sebesar 89%, yang mengakibatkan banyak wanita mendapatkan mastectomy (operasi pengangkatan payudara) yang sebenarnya tidak diperlukan dan membahayakan, ditambah dengan radiasi atau kemoterapi.

Dalam hal tertentu mammografi memang bermanfaat. Tapi faktanya adalah diluar sana ada teknologi-teknologi yang terbukti lebih murah, benar-benar tidak membahayakan kesehatan dan lebih efektif dalam menyelamatkan banyak orang.

Sekarang bayangkan bagaimana jika Anda mampu melihat kedalam diri sendiri dan mengetahui apa yang bakal terjadi dan “berkembang” 10 tahun kemudian pada payudara Anda, dimana hal ini akan memampukan Anda untuk mengambil langkah PENCEGAHAN terhadap perkembangan kanker sejak dini dan merubah pola hidup secara radikal untuk kesehatan Anda.

Teknologi tersebut sudah ada sejak tahun 1960-an, yaitu Skrining Termografi Payudara.

Skrining Termografi Payudara – Metode Alternatif yang lebih Aman dan lebih Efektif

Kebanyakan para dokter tetap merekomendasikan mammogram karena takut dituntut oleh pasien wanita yang kanker payudaranya berkembang karena ia tidak menganjurkan pasien untuk mengeceknya dengan mammogram. Tapi saya sarankan Anda untuk memikirkan kesehatan Anda dan mempertimbangkan metode alternatif yang lebih aman dan efektif dibandingkan mammogram.

Pilihan atas skrining payudara yang saya sangat anjurkan adalah skrining termografi payudara.

termografi-payudaraSkrining termografi sangatlah sederhana. Ia mengukur panas radiasi infra merah dari tubuh Anda dan menerjemahkan informasi ini ke dalam bentuk gambar. Sirkulasi darah Anda yang normal berada dalam kendali sistem syaraf autonomik yang mengatur fungsi tubuh Anda.

Termografi tidak memakai peralatan mekanik yang menekan atau radiasi ionisasi, dan dapat mendeteksi tanda-tanda kanker payudara sebelum ia berkembang 10 tahun lebih awal dibandingkan mammografi atau pemeriksaan fisik!

kanker-payudaraMammografi tidak bisa mendeteksi suatu tumor kecuali sampai tumor itu telah lama tumbuh dan berukuran tertentu. Tapi lain halnya dengan termografi dimana ia sanggup mendeteksi kemungkinan akan adanya kanker payudara jauh lebih awal.

Ia bahkan bisa mendeteksi potensi adanya kanker sebelum satu pun tumor terbentuk karena ia dapat menggambarkan tahapan awal angiogenesis, yaitu formasi suatu penyaluran langsung darah ke sel kanker, yang merupakan langkah penting sebelum formasi tersebut berkembang tumbuh menjadi seukuran tumor.

Banyak pria akan diselamatkan nyawanya dengan metode ini karena mamografi tidak secara teratur diterapkan atas pria.

Faktor Resiko Lainnya yang Biasanya Diabaikan dan Bagaimana Anda Menghindarinya

Kepadatan payudara dan tingkat sirkulasi hormon seks yang tinggi adalah dua faktor resiko kanker payudara yang umum ditemukan pada wanita dalam tahap pasca menopause. Suatu penelitian di tahun 2007 yang dipublikasikan dalam Journal of the National Cancer Institute mengkonfirmasikan bahwa walaupun kedua faktor tersebut biasanya muncul bersamaan, mereka juga faktor resiko yang independen.

Para peneliti menemukan bahwa (sesudah mengendalikan faktor lainnya) ketika kepadatan payudara tidak diperhitungkan, para wanita dengan jumlah sirkulasi hormon seks yang tinggi, memiliki resiko berkembangnya kanker payudara dua kali lebih besar dibandingkan mereka yang sirkulasi hormon seksnya rendah. Dan para wanita yang memiliki kepadatan payudara seperempat lebih tinggi, memiliki resiko empat kali lebih besar dibandingkan yang rendah, tanpa memperhitungkan tingkat hormon seks.

Para wanita dengan kedua faktor yaitu hormon seks yang tinggi dan payudara yang paling padat memiliki resiko enam kali lebih besar terkena kanker payudara.

Para pengemuka dalam penelitian ini menekankan akan pentingnya skrining dan mungkin, yang terpenting adalah mempertahankan berat badan seimbang untuk menjaga tingkat hormon tetap baik. American Cancer Society mengakui bahwa obesitas sangat berpengaruh terhadap beberapa kematian akibat kanker.

Jika Anda membutuhkan resep alami, tanpa efek samping, dan tanpa operasi untuk menyembuhkan segala jenis kanker, silahkan klik di sini.

Link referensi:

http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2008/11/26/why-mamografi-is-not-an-effective-breast-cancer-screen.aspx

http://mercola.fileburst.com/PDF/Beyond.Mamografi.pdf


8 Comments

  1. Titiek Setiawati says:

    Teknologi mutahir tidak menjadi jaminan amannya suatu produk, sebaiknya kita mulai berhati-hati memilih dan memilah segalanya dgn lbh cermat. Puji Tuhan, seumur hidup saya yg mendekati setengah abad ini saya baru menjalani mamogram 1x dan dgn adanya pendapat ini saya pikir saya tidak akan mengulangi pemeriksaan itu lagi sambil menunggu berita selanjutnya. Sebaiknya kita hidup sehat dan seimbang utk menghindari segala penyakit termasuk kanker.

  2. Payudara says:

    mudah2an terus ditemukan lagi metode2 yang lebih canggih dan aman

  3. Binsar OS says:

    Salam hormat,
    Istri saya, 40 tahun, dirujuk dokter spesialis bedah umum untuk melakukan mammografi, setelah mendapat hasil USG. Karena membaca artikel bahayanya mamografi, mohon informasi alamat rumahsakit/klinik/laboratorium yg melayani termografi ini. Jika ada, kira-kira berapa biaaya untuk satu kali termografi?

    terimakasih,

    Binsar OS

  4. Awan says:

    @ Pak Binsar: Di Indonesia blm ada termografi Pak. Sy menulis ini utk supaya masy tahu akan bahaya mammografi dan supaya paramedis segera memiliki alat termografi.

    Tapi ada alternatif lain utk mendeteksi kesehatan yg baik, yaitu GDV Camera. Kamera ini melihat bio-energy manusia dan bs melihat organ2 mana sj yg bermasalh dan memprediksi kemungkinan penyakit dimasa depan.

    Alatnya ada di Jakarta dg alamat:
    Jl. Mangga Dua Raya, Harco Mangga Dua Blok C-6, 10730 Jkt Pusat
    Telp: 021 6013738

    Bilang saja Bapak tahu dari saya , Awan – Healindonesia Bali

  5. Dewi Anita says:

    Saya pernah mengalami adanya benjolan di payudara dan telah diangkat dokter, setelah hasil lab keluar dinyatakan bahwa tidak ada indikasi tumor ganas, yang menjadi pertanyaan saya perlukah saya melakukan mamografi dan di Yogyakarta adakah klinik yang mempunyai alat termografi

  6. Awan says:

    @ Bu Dewi Anita: Di Indonesia blm ada termografi. Sy menulis ini utk supaya masy tahu akan bahaya mammografi dan supaya paramedis segera memiliki alat termografi.

    Anda tdk perlu melakukan mamogram. Yg diperlukan adl manjaga pola makan dan gaya hidup yg sehat. Jika Ibu butuh pengobatan alami utk menuntaskan tumor, silahkan klik link:

    http://sites.google.com/site/tokohomart/paket-resep-alami/kankertumorkista

  7. rizal says:

    yth dr Awan,

    Dok sekarang sudah ada alat PAINLESS Mamografi yang tidak pakai X-ray
    tapi pakai system Laser ( CTLM ) . Pasien boleh dari umur berapa saja, tidak ada radiasi , efek samping dan tanpa rasa sakit ( kompresi )

    Belum ada di Indonesia, tapi untuk investor yang mau membeli alat

    tersebut bisa hubungi email : figie.ptbup@gmail.com

    ( saya yakin banyak membantu wanita indonesia dalam deteksi dini )

    alat ini sudah di install di sebuah klinik di Kualalumpur.
    dengan tarif RM 500.

    salam
    Rizal

Comments are closed.

Tips Menghindari Malpraktek

Arsip Artikel