Home » Apa Itu Holistik?

Apa Itu Holistik?

Mengenal Medis Holistik dan Medis Konvensional

.

.

Banyak dari masyarakat tidak menyadari bahwa konspirasi dan bisnis di dunia medis konvensional itu ada. Banyak orang tidak percaya bahwa sains medis konvensional telah dipenuhi dengan “konflik kepentingan” sehingga melahirkan standar dan praktek kesehatan yang “error”.

Untuk membuktikan kebenaran “gugatan” saya terhadap sains medis konvensional ini sangat gampang, bisa dibuktikan dalam pengalaman Anda sendiri, dan juga dibuktikan dari hasil uji test lab. Saya bahkan akan dengan senang hati jika ada yang menantang saya dengan kompetisi “LIFE” di media massa untuk membuktikan mana pengobatan yang lebih unggul dan ramah lingkungan; medis konvensional atau holistik modern?!

Tulisan-tulisan saya di situs Healindonesia tidak saya tulis untuk menyenangkan hati semua orang. Bukan… Saya menulisnya untuk menyelamatkan banyak orang. Jadi jangan heran jika bahasa penulisan saya begitu blak-blakan menyatakan atau menilai sesuatu.

Semua tulisan saya tidak ditulis untuk menjelek-jelekan pihak tertentu. Jika sesuatu itu benar, saya akan katakan benar. Dan jika sesuatu itu salah, maka saya juga akan katakan salah. Lain dari itu, berarti saya berbohong. Oleh karena itu, saya harap Anda sebagai pembaca bisa memahami kenapa tulisan saya penuh dengan pernyataan atau penilaian negatif yang “seolah-olah” dengan sengaja bermaksud untuk menjelek-jelekan pihak tertentu.

Tujuan saya adalah untuk menyelamatkan banyak orang, dengan cara menyatakan sesuatu apa adanya.

Manusia memiliki kecenderungan untuk berasumsi dan terpengaruh dengan lingkungan. Apabila kita melihat seseorang yang tampan dan berbaju rapi, pikiran bawah sadar kita otomatis berasumsi bahwa orang tersebut “berduit”, punya pacar banyak atau dicari-cari wanita, baik hati, dan punya pekerjaan bagus.

Tapi lain ketika kita melihat seorang pria yang jelek mukanya dan dengan pakaian rumahan biasa, pikiran bawah sadar kita otomatis berasumsi bahwa orang ini “tidak berduit”, tidak banyak wanita yang suka, tidak enak untuk diajak menjadi teman, perlu diwaspadai, dan mungkin pekerjaannya adalah pekerjaan kasar atau rendahan. Bahkan, jika pria ini kita temui membuka pintu pagar rumah yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya, kita bahkan bisa berasumsi bahwa ia pasti pembantu di rumah itu, padahal pria inilah yang punya rumah!

Banyak slogan-slogan salah dari medis konvensional memakai teknik marketing yang sangat cerdik dimana slogan-slogan tidak benar tersebut, melekat sangat dalam di batin bawah sadar masyarakat MENJADI SUATU KEBENARAN DAN KEYAKINAN.

Inilah yang disebut sebagai “brain wash” atau cuci otak dari medis konvensional kepada masyarakat luas.

Untuk membantu Anda menghapus program “brain wash” atau cuci otak ini, terlebih dulu saya akan membawa Anda untuk memahami penyembuhan holistik dan kemudian melihat kejahatan bisnis merawat dan menjual penyakit dalam dunia medis konvensional, karena dari sinilah berbagai masalah kesehatan berawal.

Untuk lebih memahaminya, saya ajak Anda untuk membaca artikel ini dari awal sampai habis dan Anda akan terheran-heran, kaget, dan geram karena menyadari bahwa selama ini kita semua ditipu!

Anda penasaran untuk mengetahui kebenarannya? Baca terus artikel ini…

.

SEJARAH HOLISTIK

Mungkin Anda mengira bahwa holistik diambil dari kata holy (suci) yang berarti penyembuhan holistik adalah penyembuhan supranatural. Bukan…, holistik diambil dari kata whole (menyeluruh) atau dari pandangan holisme (dari bahasa Yunani ὅλος holos, yang artinya semua, keseluruhan, total) yaitu suatu pandangan bahwa semuanya di sistem alam semesta ini (sistem fisik, biologis, kimia, sosial, ekonomi, mental, bahasa, dll) tidak bisa ditentukan atau dijelaskan secara bagian-bagian terpisah saja, tapi dijelaskan secara keseluruhan.

Sejarah holistik dimulai sebelum istilah holism diperkenalkan oleh Jan Christiaan Smuts dalam bukunya “Holism and Evolution”. Holisme saat ini berkembang dalam istilah holistik, yang mengkombinasikan penyembuhan, seni, dan ilmu hidup. Holistik populer dengan cepat di tahun 70-an.

Saat ini, penyembuhan holistik sangat dikenal sebagai pendekatan terbaik untuk menyeimbangkan kehidupan dan kesehatan seseorang dengan cara menyatukan aspek fisik, mental, dan spiritualnya sebagai manusia yang utuh.

Walaupun istilah holisme diperkenalkan di tahun 1926, penyembuhan holistik sebenarnya sudah ada jauh di jaman kuno kira-kira 5000 tahun yang lalu. Sejarawan belum bisa memastikan dari bangsa manakah pertama kali ia dipraktekkan. Kebanyakan sejarawan percaya bahwa penyembuhan holistik dimulai di India dan atau Cina. [1]

Para praktisi holistik mempraktekkan prinsip hidup sehat lewat menyeimbangkan tubuh, pikiran, dan roh untuk menyatu atau harmonis dengan alam.

Contoh praktis holistik adalah Socrates, yang hidup 4 abad sebelum kelahiran Kristus. Ia menganut pandangan ini dan mengajarkan bahwa kita harus memandang tubuh sebagai keseluruhan, bukannya bagian yang terpisah. [2]

Plato juga pendukung pandangan holistik, menyarankan para dokter bahwa menghormati hubungan antara pikiran dan tubuh adalah sangat penting bagi kesehatan. [2]

Pengobatan Allopathic atau allopathy (berasal dari Bahasa Yunani ἄλλος, állos, lain, berbeda, + πάϑος, páthos, menderita) adalah istilah yang diungkapkan pertama kali oleh Samuel Hahnemann, pendiri pengobatan homeopathy (salah satu disiplin ilmu holistik modern). Allopathy ditujukan pada pengobatan standar di awal abad 19 sampai sekarang, atau biasa disebut sebagai pengobatan medis konvensional, pengobatan Barat (Western Medicine), biomedicine, scientific medicine, atau pengobatan modern. [3]

Di Amerika Serikat, pengobatan allopathy atau medis konvensional ditujukan pada disiplin ilmu dengan gelar Doctor of Medicine (DM) bukannya Doctor of Osteopathic Medicine (DO). DO berasal dari disiplin ilmu penyembuhan holistik modern. [3]

.

.

CABANG PENYEMBUHAN HOLISTIK

Disiplin ilmu holistik terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Holistik Tradisional

Suatu teknik penyembuhan yang memanfaatkan alam dengan prinsip holisme, berawal sejak ribuan tahun lalu. Biasa disebut sebagai penyembuhan/pengobatan alternatif atau pengobatan tradisional. Yang termasuk holistik tradisional adalah akupuntur, akupresur, herbal, ayurveda, uropathy, pranic healing, apitherapy, dan lain-lain. Gelar para praktisinya bermacam-macam. Ada yang disebut sebagai tabib, sin-se, dukun, dan lain-lain.

Tapi di jaman sebelum adanya aliran allopathy (medis konvensional), gelar dokter adalah milik dari para praktisi holistik tradisional ini. Gelar dokter itupun akhirnya diambil alih oleh praktisi allopathy karena kelihaian “marketing” yang mereka miliki dan menggeser paradigma masyarakat untuk lebih mempercayai allopathy dibandingkan holistik tradisional. Sebagai penggantinya, sebutan alternatif justru diberikan kepada pengobatan/penyembuhan holistik “awal” atau asli dari Tuhan ini.

2. Holistik Modern

Suatu teknik penyembuhan yang menggabungkan penyembuhan tradisional/kuno dengan teknologi dan sains modern yang memanfaatkan alam dengan prinsip holisme. Holistic modern berawal sekitar 200 tahun yang lalu dengan adanya homeopathy.

Yang termasuk holistik modern adalah homeopathy, osteopathy, ananopathy, psikologi hipnotis, naturopathy modern, dan sebagainya. Gelar para praktisinya bermacam-macam sesuai dengan aliran/disiplin ilmunya. Untuk homeopathy, praktisinya disebut sebagai homeopath. Osteopathy, praktisinya disebut sebagai osteopath atau DO (Doctor of Osteopathy) di belakang nama. Naturopathy, praktisinya disebut sebagai naturopathy atau DN (Doctor of Naturopathy) di belakang nama. Saya pribadi dari aliran/disiplin ilmu ananopathy, praktisinya disebut sebagai ananopath (syukur bukan psikopat) atau Dt (Danton) di awal nama.

Tapi perlu juga Anda ketahui bahwa tidak semua alternatif adalah holistik.  Jika suatu pengobatan alternatif tidak memandang permasalahan kesehatan secara menyeluruh, pengobatan tersebut berarti bukan pengobatan holistik.

Oh iya, saya perlu jelaskan juga bahwa jika maksud saya dengan menyembuhkan, itu artinya benar-benar menyembuhkan, bukan sekedar merawat saja. Menyembuhkan yang saya maksud di sini juga berarti dari sisi peran manusia dalam proses kesembuhan karena selain kebenaran bahwa Tuhanlah yang menyembuhkan, tapi kita juga harus ingat bahwa Tuhan memakai manusia juga dalam proses menyembuhkan.

Sebagai perumpamaan: Dalam pertanian, manusialah yang menabur, merawat, dan menuai. Tapi yang memberi pertumbuhan adalah Tuhan. Tapi dalam BAHASA umumnya (bukan bahasa religius), tindakan manusia dalam proses menabur, merawat, dan menuai tersebut adalah tindakan menumbuhkan karena TUJUANNYA adalah supaya tanaman yang ditanam itu TUMBUH dan bisa dipanen.

Saya harap ini bisa mencegah Anda salah paham dengan GAYA BAHASA saya yang selalu menyebutkan kata-kata menyembuhkan, supaya Anda tidak berkata dalam hati.. “Wah sombong sekali…memang siapa Anda kok bisa menyembuhkan? Yang menyembuhkan khan hanya Tuhan?!”

Baiklah, mari kita lanjutkan topik berbau sejarah ini…

.

HOLISTIK MODERN ANANOPATHY

Ananopathy adalah gabungan teknik pengobatan alternatif tradisional/kuno dengan teknologi dan sains modern, dimana tujuannya adalah menyembuhkan, bukan sekedar merawat. Pengobatan Ananopathy fokus pada akar penyakit, bukan pada gejala; merawat manusia secara keseluruhan (whole), bukan pada apa yang tampak saja. Tehnik yang digunakan adalah dengan menggunakan Hukum Alam, Hukum Sebab-Akibat, perbaikan pola makan dan gaya hidup, penggunaan bahan-bahan alami, yang diterapkan dengan basis alam dan sains modern.

Praktisi Ananopathy disebut sebagai ananopath, sedangkan gelar master atau pemimpin Ananopath adalah Danton.

Ananopathy dari segi aplikasinya bersifat 3, yaitu:

  • Sederhana. Begitu sederhana karena tidak memerlukan obat-obatan kimia dan operasi.
  • Cerdik. Mengajarkan Anda untuk berpikir dan bertindak cerdik, bukannya pandai.
  • Bijaksana. Menekankan pemikiran bijak yang melihat faktor moralitas dan keselarasan.

Dari segi pemikiran, prinsip dasar Ananopathy juga ada tiga yaitu:

  • Tuhan. Selalu melihat permasalahan dari sudut pandang Ketuhanan.
  • Hukum Alam. Berpedoman pada Hukum Alam.
  • Kasih. Mendasari pemikiran dan prakteknya atas dasar kasih.

Dari 6 hal di atas, ini membuat Ananopathy jadi suatu cabang pengobatan yang sangat efektif, praktis, alami dan berbasis sains modern, serta menekankan sisi spiritualitas dan humanisme yang tak terpisahkan. Anda akan memahaminya jika telah belajar sains holistik secara online di HIOS. Situs HIOS bisa Anda klik di link http://hios.co.nr

Tuhan Sang Maha Pencipta, dengan “pemikirannya” yang Maha Bijaksana, telah menyiapkan alam untuk memenuhi SEGALA kebutuhan kita akan kesehatan. Sebenarnya kita telah MEMILIKI SEGALANYA di dalam alam dan Hukum Alam ciptaanNya.

Atas dasar pemikiran ini, sebenarnya SEMUA penyakit di dunia ini bisa sembuh TANPA  HARUS MEMAKAI OBAT-OBATAN KIMIA DAN OPERASI. Dengan teknik Ananopathy Anda akan diajarkan untuk bisa menyembuhkan beberapa penyakit kecil, menengah, dan juga mematikan, yang BIASANYA OLEH MEDIS KONVENSIONAL DISTANDARKAN HARUS DENGAN OBAT DAN OPERASI, tapi bagi Anda tidak perlu.

Contoh beberapa “penyakit serius” yang bisa Anda taklukkan setelah menguasai beberapa teknik Ananopathy, tanpa obat-obatan kimia dan operasi adalah:

  • diabetes melitus,
  • kolesterol tinggi dan sakit jantung,
  • stroke,
  • asam urat dan rematik,
  • tumor dan kanker,
  • TBC,
  • Maag akut dan kronis,
  • hepatitis,
  • gagal ginjal,
  • demam berdarah.
  • AIDS

Anda pasti tahu bahwa para dokter harus belajar bertahun-tahun untuk bisa mengobati berbagai penyakit yang saya sebutkan di atas. Tapi tahukah Anda bahwa dengan Ananopathy, Anda bisa menguasai pengobatan untuk mengatasi penyakit-penyakit tersebut tidak sampai 1 minggu? Ya benar… saya tidak bercanda dan membual. Anda bisa menguasainya kurang dari 1 minggu, jauh lebih pendek rentang waktunya dan bisa segera Anda praktekkan dengan tingkat keberhasilan 50-100%, tanpa obat-obatan kimia dan operasi. Itulah kedahsyatan daripada sains Ananopathy!

.

MEREBUT DAN MEMONOPOLI PENGAKUAN STANDAR PENGOBATAN DI DUNIA YANG SAH

Nah sekarang setelah mempelajari sejarah pengobatan di dunia, Anda jadi tahu bahwa dulu yang disebut dengan panggilan dokter adalah para praktisi alternatif. Jadi jaman dulu, tidak ada istilah alternatif. Para praktisi pengobatan tradisional-lah yang dulu pertama kali memiliki gelar sebagai dokter. Pengobatan medis yang memakai unsur kimia atau “prinsip racun dilawan dengan racun” baru ada sekitar lebih dari 2000 tahun yang lalu, tapi kemudian kira-kira dua ratus tahun yang lalu mulai “terkorupsi” ilmunya dengan yg namanya “cinta akan uang/ketamakan”. Uang bukanlah akar kejahatan, tapi CINTA AKAN UANG-lah penyebab terkorupsinya hati manusia.

Dengan kelihaian ilmu marketingnya (karena demi keuntungan dan monopoli), perusahaan farmasi besar melalui allopathy berhasil mengambil gelar “dokter” dari para praktisi alternatif dan “mempatenkan”-nya, meng-klaim bahwa HANYA praktisi dari aliran allopathy sajalah yang diakui/diberi gelar sebagai dokter. Lain dari allopathy berarti disebut sebagai dukun/tabib atau panggilan lainnya, selain dokter RESMI.

Oleh karena kecerdikan para raksasa farmasi dan allopath/dokter konvensional yang bekerjasama dengan pemerintah  ratusan tahun lalu, disertai ilmu marketing yang “brillian”, ilmu bahasa yang “menghipnotis”, penampilan luar yang rapi dan mempesona, dan dilengkapi dengan memanfaatkan kekuatan media massa, dunia allopathy berhasil memonopoli standar kesehatan di seluruh dunia. [4]

Jika Anda memperhatikan ada seseorang dengan gelar dokter dan dibelakangnya ada singkatan MD, PhD, atau Prof Dr tapi menentang ilmu allopathy dan atau memakai ilmu alternatif, itu berarti mereka adalah dari aliran holistik, bukan allopathy. Mereka yang bergelar MD mungkin dulunya adalah seorang allopath murni, tapi kemudian beralih ke holistik setelah melihat “ketidakmampuan” sains allopathy dalam MENYEMBUHKAN berbagai penyakit.

Contoh para dokter holistik modern berkelas internasional adalah Dr. Joseph Mercola, DO; Dr. Hiromi Shinya, MD; Etienne de Harven, MD; Peter H. Duesberg, Ph.D; Charles Thomas, PhD; Dr. Stefan Lanka; Dr. Leonard Horowitz; Dr. Alan Cantwell, MD; Dr. Mohammed Al-Bayati,  Ph.D., D.A.B.T., D.A.B.V.T.; Gary Null, Ph.D; dan masih banyak lagi lainnya.

.

PENGOBATAN DARI TUHAN VS PENGOBATAN DARI MANUSIA

Disiplin ilmu kesehatan ribuan tahun lalu adalah ilmu yg berasal dari Tuhan, karena diturunkan atau diilhami dari Tuhan. Tapi tentu saja, tidak semua pengobatan tradisional berasal dari Tuhan. Ada juga yang berasal dari sumber lain, yang mungkin berasal dari manusia itu sendiri atau dari “roh/makhluk spiritual” lain. Oleh karena itu maka ada juga yang disiplin ilmu tradisional yang disebut sebagai santet, teluh, voodoo, dan sebagainya.

Jika saya katakan pengobatan dari Tuhan, itu bukan berarti pengobatan yang sekedar bersifat meta-fisika atau gaib. Bukan. Pengobatan herbal, terapi tanah liat, terapi juice, pengaturan pola makan, terapi madu, terapi air, dan sebagainya adalah juga pengobatan dari Tuhan, dimana para praktisinya terilham dari alam dan Hukum Alam ciptaanNya. Jadi pengobatan jenis ini sejalan dengan kehendak dan metode Tuhan dalam menyembuhkan. Sekarang saya harap Anda mengerti bahwa jika ada seseorang yang merendahkan, meragukan, atau menentang aliran tradisional ini, itu sama saja dengan merendahkan, meragukan, atau menentang Tuhan yang sudah “menurunkan” ilmu ini ke kita.

Lain halnya dengan allopathy, ilmu allopathy adalah ilmu dari manusia, karena JAUH LEBIH BANYAK mengandalkan metode-metode buatan manusia. [6]

Penyembuhan holistik modern sangat jauh berbeda dengan allopathy/medis konvensional. Bukan hanya berbeda, tapi juga menentang medis konvensional. Tapi yang ditentang hanya allopathy, bukan ilmu kesehatan dan cabang ilmu pengetahuan modern lainnya, seperti misalnya biologi, fisika, kimia, virology, pathologi, dan sebagainya. Dunia medis konvensional memiliki banyak kesalahan yang fatal, sedangkan cabang ilmu pengetahuan lainnya adalah benar-benar ilmu pengetahuan modern sejati karena disesuaikan dengan Hukum Alam ciptaan Tuhan. Holistik modern yg ada termasuk Ananopathy justru menggabungkan semua ilmu pengetahuan modern yang ada, tapi tanpa dikorupsi oleh “ketamakan”.

Jadi apakah medis konvensional disiplin ilmunya TIDAK SESUAI dengan Hukum Alam ciptaan Tuhan? Ya, benar sekali. KEBANYAKAN (tidak semuanya) SOP dan disiplin ilmu medis konvensional bertentangan dengan hukum alam.

.

.

SAINS HOLISTIK MODERN JAUH LEBIH UNGGUL DIBANDINGKAN MEDIS KONVENSIONAL

.

Sains Medis Konvensional Tidak Sama Dengan Sains Ilmiah

Hampir semua masyarakat termasuk dokter sendiri mengira bahwa sains medis konvensional sama dengan sains ilmiah. Ini adalah pandangan yang keliru dan ada perbedaan besar antara keduanya.

Sains medis konvensional lebih banyak diprakarsai dari penelitian perusahaan farmasi, lebih subyektif dan lebih fokus pada hal-hal materi (nampak dan berwujud). Untuk lebih jelasnya, mari kita simak jurnal kesehatan berikut ini:

.

Apakah Dokter Anda telah DISUAP oleh Perusahaan Obat?

Berdasarkan hasil survey nasional di Amerika, yang menyelidiki para dokter mengenai hubungan keuangan dan praktek mereka dengan perusahaan obat, didapati akan adanya campur tangan mulai dari peluncuran obat gratis sampai dengan tarif konsultasi dan perkuliahan.

Survey nasional tersebut dilakukan pada lebih dari 3000 dokter seperti misalnya anesthesiologis, kardiologis, dokter keluarga, dokter bedah umum, internis dan dokter anak. Lebih dari separuh dokter menjawab survey tersebut.  Sekitar 94 persen mengakui adanya hubungan dengan perusahaan obat, serta 80 persen dari mereka biasanya menerima contoh suplemen atau obat dengan gratis.

Namun dalam penelitian juga diketahui bahwa walaupun dengan “hadiah-hadiah” tidak mahal pun, ini dapat “mempengaruhi” tingkah laku seseorang.

Sebagai tambahan, lebih dari sepertiga dokter yang merespon survey tersebut telah menerima bayaran dari perusahaan obat untuk pergi ke pertemuan-pertemuan penting atau menghadiri kelas-kelas pendidikan medis. Para dokter keluarga mengakui kalau mereka bertemu dengan representatif perusahaan obat sekitar 16 kali dalam sebulan. Untuk golongan kardiologis, mereka dua kali lipat melebihi para dokter keluarga dalam menerima bayaran langsung dari perusahaan obat.

Para dokter yang biasanya menerima bayaran dari perusahaan obat adalah dokter pria, punya posisi dalam pendidikan medis, atau yang punya sedikit pasien tanpa asuransi kesehatan.

.

Sumber:

New England Journal of Medicine, Vol. 356, No. 17, April 26, 2007: 1742-1750

USA Today April 26, 2007

Washington Post April 29, 2007

.

Kebanyakan ilmu yang diajarkan di sekolah kedokteran adalah ilmu yang berasal dari penelitian perusahaan obat besar, bukan dari mayoritas hasil penelitian ilmuwan “murni”. Jika suatu pengetahuan tidak menguntungkan perusahaan tersebut, maka perusahaan tidak mendanai penyebaran pengetahuan tersebut. Jadi, ilmu tersebut tidak murni, tapi telah dicemari dengan unsur bisnis. [7]

Andalan dokter medis konvensional adalah obat, bukan pengetahuan ilmiah tentang alam ciptaan Tuhan yang lebih sempurna. Pengobatan konvensional lebih menekankan bahwa obat buatan manusia itu lebih manjur dibandingkan alam buatan Tuhan. Oleh karena itu Anda akan mendapati bahwa mata perkuliahan dokter konvensional dipenuhi dengan ilmu obat dan  teknik-teknik buatan manusia, dan sangat sedikit materi yang mempelajari alam dan bagaimana memanfaatkan alam untuk kesehatan manusia. [8]

Lain halnya dengan sains ilmiah, ia tidak diprakarsai dari penelitian perusahaan farmasi, bersifat obyektif dan tidak sekedar fokus pada hal-hal materi. Ilmu-ilmu dari sains ilmiah ini dihasilkan dari penelitian para ilmuwan “murni” yang tidak dibayar oleh suatu perusahaan farmasi. Para ilmuwan ini melakukan penelitian karena “kecintaan dan kehausan” mereka akan pengetahuan. Uji ilmiah mereka lebih obyektif karena tidak didasari oleh unsur bisnis.

Untuk bisa melihat perbedaannya, mari kita lihat 2 contoh kasus berikut:

.

Contoh 1

Para dokter dan ahli gizi konvensional akan menganjurkan pasien diabetes untuk mengkonsumsi kentang, susu, buah manis, bahkan pemanis buatan aspartame dalam menu keseharian pasien diabetes. Ini adalah resep sarat karbohidrat yang fatal dan hanya akan memperparah diabetes pasien, baik itu diabetes tipe 1 maupun tipe 2. Selain itu, jika ada ganggren atau luka besar pada kaki penderita diabetes, rumah sakit akan mengambil keputusan untuk mengamputasi kaki pasien karena TIDAK MAMPU MEMULIHKAN kondisi tersebut. Inilah yang DISTANDARKAN oleh medis konvensional.

Berbeda dengan standar medis konvensional, sains ilmiah tidak menganjurkan kentang, susu, buah manis dan pemanis buatan aspartame untuk dikonsumsi pasien diabetes. Dari hasil banyak penelitian yang obyektif, telah didapati bahwa semua hal tadi akan memperparah kondisi diabetes. Dan hebatnya, walaupun ada ganggren atau luka besar pada kaki penderita diabetes, sains ilmiah modern memiliki solusi yang bisa memulihkan kondisi tersebut tanpa harus mengamputasi kaki.

.

Contoh 2

Untuk mendeteksi kanker payudara, medis konvensional sampai sekarang masih menggunakan mammografi. Padahal mammografi sangat tidak akurat dan meningkatkan resiko seseorang menderita kanker payudara setelah diskrining.

Praktek skrining mammografi itu sendiri mengakibatkan resiko kumulatif kanker payudara, terutama bagi wanita yang berada pada masa premenopause.

Yang lebih parah lagi, diagnosa positif yang salah sering terjadi sebesar 89%, yang mengakibatkan banyak wanita mendapatkan mastectomy (operasi pengangkatan payudara) yang sebenarnya tidak diperlukan dan membahayakan, ditambah dengan radiasi atau kemoterapi. Nah, mammografi inilah yang DISTANDARKAN oleh medis konvensional.

Sains ilmiah sejak tahun 1960-an, telah menemukan metode skrining yang JAUH aman dan lebih baik, yaitu termografi. Skrining termografi sangatlah sederhana. Ia mengukur panas radiasi infra merah dari tubuh Anda dan menerjemahkan informasi ini ke dalam bentuk gambar. Sirkulasi darah Anda yang normal berada dalam kendali sistem syaraf autonomik yang mengatur fungsi tubuh Anda.

Termografi tidak memakai peralatan mekanik yang menekan atau radiasi ionisasi, dan dapat mendeteksi tanda-tanda kanker payudara sebelum ia berkembang 10 tahun lebih awal dibandingkan mammografi atau pemeriksaan fisik!

Mammografi tidak bisa mendeteksi suatu tumor kecuali sampai tumor itu telah lama tumbuh dan berukuran tertentu. Tapi lain halnya dengan termografi dimana ia sanggup mendeteksi kemungkinan akan adanya kanker payudara jauh lebih awal.

Ia bahkan bisa mendeteksi potensi adanya kanker sebelum satu pun tumor terbentuk karena ia dapat menggambarkan tahapan awal angiogenesis, yaitu formasi suatu penyaluran langsung darah ke sel kanker, yang merupakan langkah penting sebelum formasi tersebut berkembang tumbuh menjadi seukuran tumor.

Informasi mengenai bahaya mammografi ini bisa Anda dapatkan di link

http://healindonesia.wordpress.com/2009/01/08/mamografi-bukanlah-pendeteksi-kanker-payudara-yang-baik-dan-dapat-menyebabkan-kanker/

.

Apa yang Distandarkan Medis Konvensional Berbeda dengan Sains Modern

Untuk bisa melihat perbedaan antara sains medis konvensional dengan sains ilmiah adalah APA YANG DISTANDARKAN. Itulah kuncinya.

Itulah sebabnya Anda akan menemukan kenapa di rumah sakit dan sekolah kedokteran, standar yang dipraktekkan berbeda dengan ilmu pengetahuan lainnya. Dan juga karena unsur bisnis, standar medis menolak pengobatan alami yang murah apalagi gratis.

Jika Anda mendapatkan seorang dokter, klinik, atau rumah sakit yang menerapkan akupuntur, terapi suplemen alami, terapi sayur, dan pengobatan alternatif lainnya, itu berarti mereka TIDAK MENGIKUTI STANDAR MEDIS KONVENSIONAL, karena standar medis konvensional tidak menyarankan terapi-terapi alternatif.

Pengobatan seperti terapi bawang putih,  terapi matahari, terapi garam laut, terapi minyak ikan, dan terapi alami/alternatif lainnya tidak akan MENJADI STANDAR medis konvensional, bukannya karena semua terapi tersebut kurang uji ilmiah, tapi karena kurang komersil bagi perusahaan farmasi.

Semua terapi alami yang saya sebutkan di atas sebenarnya telah melewati BANYAK uji ilmiah dan LOLOS untuk digunakan sebagai pengobatan yang LEBIH EFEKTIF, LEBIH AMAN dan LEBIH MURAH dibandingkan pengobatan kimia medis konvensional. Jadi adalah kebohongan jika seseorang mengatakan bahwa pengobatan alami atau yang biasa disebut sebagai alternatif belum terbukti secara ilmiah. Sebagai bukti, lihat saja toko-toko buku di kota Anda dan juga jelajahilah internet, maka akan Anda dapatkan beribu-ribu penelitian ilmiah tentang kehebatan terapi alami yang menyembuhkan segala penyakit. Ini pun bukan sekedar teori belaka, faktanya pun bisa Anda dapatkan di sekitar kita dan di seluruh dunia.

Contoh lain sains ilmiah dalam kesehatan yang TIDAK DISTANDARKAN DALAM MEDIS KONVENSIONAL: sains peran leptin dalam penyembuhan kasus diabetes, sains energy psychology, sains akupuntur (ya benar, ini sudah ada penelitian ilmiahnya), sains quantum-physic, dan lain-lain. Semua sains ini sebenarnya telah terbukti LEBIH EFEKTIF, LEBIH AMAN dan LEBIH MURAH dibandingkan pengobatan kimia medis konvensional.

Berbeda dengan medis konvensional, holistik modern yang memiliki banyak aliran, DASAR DAN STANDAR sainsnya CENDERUNG sama dengan sains ilmiah, dan dengan demikian jauh lebih maju dibandingkan medis konvensional (ingat contoh 1 dan 2 di atas).

.

Demi Masa Depan Anda dan Keluarga, Sains Pengobatan Mana yang Anda Pilih?

Mengapa  holistik modern menentang medis konvensional? Apa karena kepentingan bisnis? Bukan. Holistik modern menentang medis konvensional bukan karena kepentingan atau persaingan bisnis, tapi karena hati nurani dan kebenaran.

Sebagai gambaran, Anda tahu bahwa demi membela kesehatan masyarakat, BPOM bekerja keras membasmi penjualan daging mengandung formalin dan daging kadaluarsa. Kenapa harus dibasmi? Karena bisnis ini jika dibiarkan akan merugikan kesehatan banyak orang dan memakan korban jiwa.

Nah, sama dengan tindakan BPOM ini, holistik modern dengan terang-terangan menentang praktek dan standar medis konvensional yang SALAH dan membahayakan jiwa banyak orang. Holistik modern tidak akan menentang medis konvensional, jika hanya karena masalah perbedaan cara berbisnis dan teknik menyembuhkan yang tidak membahayakan nyawa. Tapi pada kenyataannya, standard dan praktek medis konvensional benar-benar BERBAHAYA DAN BERESIKO TINGGI.

Saya tidak memfitnah dan sisi negatif dari medis konvensional telah banyak diberitakan di seluruh dunia seperti misalnya jurnal berikut ini:

.

Penggunaan Obat Menyebabkan 700.000 Warga Amerika Dirawat di UGD per Tahunnya

Suatu penelitian mempelajari dokumentasi kejadian akibat kontraindikasi obat, yang dilaporkan oleh 63 rumah sakit di Amerika di antara tahun 2004 dan 2005. Selama masa penelitian, semua rumah sakit tersebut melaporkan adanya kunjungan gawat darurat hampir berjumlah 21.300 kunjungan.

Itu berarti jika secara keseluruhan semua rumah sakit yang ada di Amerika Serikat digabungkan, itu berarti ada lebih dari 700.000 orang, terutama yang berusia 65 tahun ke atas, telah mengunjungi Ruang Unit Gawat Darurat (UGD) tiap tahunnya oleh karena kontraindikasi obat.

Para manula ternyata 7 kali lebih sering dirawat rumah sakit dibandingkan yang masih muda, dan perbandingannya dua kali lebih sering dirawat di UGD.

Kriteria obat-obatan yang masuk dalam penelitian tersebut adalah termasuk obat yang diresepkan, obat pelengkap, vaksin, vitamin, suplemen harian, dan produk herbal. Kontraindikasi obat termasuk reaksi alergi, beberapa efek samping, overdosis, pingsan dan leher terasa tercekik.

Kejadian oleh karena kontraindikasi obat kebanyakan oleh karena overdosis dan reaksi alergi. Faktor kematian yang berhubungan karena obat, usaha untuk bunuh diri, penyalahgunaan obat, dan penarikan diri dari obat, tidak dimasukkan sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian ini.

Kebanyakan pasien dirawat dengan cepat sehingga dengan segera bisa pulang tanpa harus rawat inap. Tapi rata-rata 117.000 pasien per tahunnya perlu rawat inap oleh karena kontraindikasi obat. Dalam hal ini kebanyakan berasal dari kasus-kasus pemakaian obat yang perlu pemonitoran untuk menghindari akumulasi racun, yaitu:

    • Insulin.
    • Obat penghilang rasa sakit yang mengandung opioid.
    • Obat anti penggumpalan darah.
    • Amoxicillin.
    • Antihistamin dan anti masuk angin.
    • Khusus manula berusia 65 ke atas, kunjungan ke UGD berhubungan dengan :
    • Coumadin, obat untuk mencegah penggumpalan darah.
    • Digoxin, obat untuk membantu jantung lemah bekerja lebih efisien.

.

Sumber:

·Journal of the American Medical Association October 18, 2006; 296(15): 1858-1866

·WebMD October 17, 2006

.

Coba Anda renungkan pertanyaan-pertanyaan saya berikut ini:

  1. Apakah Anda rela menyerahkan istri Anda pada skrining mammografi beresiko tinggi (ingat contoh 2 di atas), padahal ada teknologi skrining termografi dari holistik modern yang sangat maju dan aman untuk deteksi kanker payudara?
  2. Apakah Anda rela membiarkan keluarga Anda yang menderita diabetes diamputasi kakinya (ingat contoh 1 di atas) padahal ada sains ilmiah dari holistik modern yang dapat memulihkan kaki pasien diabetes dengan alami, murah, dan efektif tanpa amputasi?
  3. Apakah Anda rela menjadikan anak Anda tempat pembuangan racun obat kimia pas ketika dia sakit padahal ada sains ilmiah dari holistik modern yang memanfaatkan alam secara LEBIH EFEKTIF, AMAN, DAN LEBIH MURAH? Ingat, semua pengobatan alami telah TERBUKTI SECARA ILMIAH DAN TAK TERBANTAHKAN LAGI!

Dalam ilmu matematika, jika kita telah salah menghitung dari awal, maka hasil perhitungan berikutnya juga akan salah. Itulah yang terjadi pada dunia medis konvensional, kesalahan telah dibuat dari sejak awal dan jutaan jiwa melayang sia-sia karena PENERAPAN PENGETAHUAN YANG SALAH ini.

Saya mencintai bangsa Indonesia dan saya tahu, kesalahan dunia medis konvensional sekarang ini telah mengakibatkan melayangnya jutaan jiwa di antara saudara-saudari kita tercinta. Hati nurani saya tidak bisa tinggal diam dengan kenyataan ini dan oleh karena itulah saya membuat situs Healindonesia yang kontroversial.

Sekarang, sudah jelaskah Anda melihat perbedaan antara holistik modern dengan medis konvensional dan tahu konsekuensi jika SALAH MEMILIH pengobatan yang BENAR?

.

PERBEDAAN DOKTER YANG SETIA KEPADA MEDIS KONVENSIONAL DENGAN DOKTER YANG “MURTAD”

Banyak orang belum mengerti dan belum bisa membedakan mana dokter konvensional dan mana dokter holistik; mana ilmu medis konvensional dan mana yang ilmu holistik. Ketidaktahuan ini menyebabkan beberapa orang “mengernyitkan dahi” ketika saya secara blak-blakkan “mengkoreksi” kesalahan-kesalahan bahkan kejahatan di dunia medis konvensional. Para dokter holistik modern dan sains holitik yang sudah benar jalurnya dikira sebagai bagian dari medis konvensional, padahal bukan. Ketidaktahuan inilah yang secara TIDAK SADAR akan membawa Anda kepada MALAPETAKA bahkan KEMATIAN.

Kok bisa membawa malapetaka bahkan kematian? Baiklah coba Anda simak penjelasan saya berikut ini…

Mungkin Anda bingung dengan judul di atas, apa maksud saya dengan dokter yang setia kepada medis konvensional dan apa maksudnya dengan dokter yang “murtad”?! Yang saya maksudkan dengan “murtad” di sini adalah dokter medis konvensional yang menolak ilmu dan standar utama medis konvensional, kemudian memilih memakai ilmu dan standar holistik dalam praktek pengobatan mereka. Jadi para dokter ini memakai CARA BERBEDA DAN MENYIMPANG DARI STANDAR MEDIS.

Saya ingatkan kembali dari tulisan saya mengenai sejarah holsitik sebelumnya, jika Anda perhatikan ada seseorang dengan gelar dokter dan dibelakangnya ada singkatan MD, PhD, atau Prof Dr tapi menentang ilmu medis konvensional dan atau memakai ilmu alternatif, itu berarti mereka adalah dari aliran holistik, bukan medis konvensional (atau disebut juga aliran allopathy). Mereka yang bergelar MD mungkin dulunya adalah seorang medis konvensional murni, tapi kemudian beralih ke holistik setelah melihat “ketidakmampuan” allopathy dalam MENYEMBUHKAN berbagai penyakit.

Contoh para dokter holistik modern berkelas internasional yang dulunya merupakan dokter medis konvensional adalah Dr. Hiromi Shinya; Dr. Joseph Mercola, DO; Etienne de Harven, MD; Peter H. Duesberg, Ph.D; F. Batmanghelidj, MD; Charles Thomas, PhD; Dr. Stefan Lanka; Dr. Leonard Horowitz; Dr. Alan Cantwell, MD; Dr. Mohammed Al-Bayati,  Ph.D., D.A.B.T., D.A.B.V.T.; Gary Null, Ph.D; dan masih banyak lagi lainnya.

.

Pendapat Dokter “Murtad” Mengenai Medis Konvensional

Para dokter medis yang “murtad” berpendapat bahwa kelemahan dari sistem ilmu medis konvensional (sistem kedokteran Barat) yang fatal adalah ilmu ini terbagi-bagi dalam berbagai spesialisasi. Spesialisasi ini yang membuatnya jadi kehilangan perhatian pada satu fakta bahwa tubuh dan pikiran adalah 2 hal yang berfungsi secara bersama-sama dalam satu sistem yang menyatu.

Karena itu seorang ahli dokter kandungan mendekati masalah secara berbeda dengan ahli penyakit dalam atau dokter ahli bedah tulang atau dokter ahli jiwa. Inilah prinsip holistik yang dianut oleh para dokter murtad tersebut, sehingga mereka tidak lagi memakai standarisasi medis konvensional yang terspesialisasi, lebih condong memperhatikan gejala saja dan lebih bersifat merawat ketimbang menyembuhkan.

F. Batmanghelidj, MD, (salah seorang dokter “murtad”) mengemukakan, praktik kedokteran klinis yang masih berlaku sekarang ini didasarkan pada penerapan kimiawi farmakologis pada tubuh manusia. Di sekolah-sekolah kedokteran, lebih dari enam ratus tujuh jam dialokasikan pada penggunaan produk-produk farmasi. Hanya beberapa jam saja yang dialokasikan pada petunjuk diet dan makanan. Sepertinya, pada sebagain besar kondisi penyakit, para pendidik kedokteran berusaha memaksakan pengertian laboratoris kimia ke dalam tubuh manusia.

Lebih lanjut Batmanghelidj berkata:

“Masalahnya, produk-produk farmasi atau kimia tidak menyembuhkan sebagian besar penyakit. Lagipula, produk-produk ini (obat-obatan kimia) belum tentu aman untuk penggunaan jangka panjang. Produk tersebut hanya menutup dan membuat diam wujud lahir penyakit untuk sementara waktu.

Terlepas dari seberapa ilmiah, canggih, dan menariknya, tampaknya pembenaran penggunaan produk kimia ini sering kali tidak menghilangkan gejala medis, kecuali penggunaan antibiotika untuk infeksi. Orang-orang bertekanan darah tinggi, yang memulai perawatan dengan diuretika atau bahan kimia lainnya, bukanlah disembuhkan. Mereka divonis harus melakukan perawatan selama hidup. Bahkan, mereka sering kali harus menambah diuretika dan jenis obat lain pada saat yang sama.

Orang-orang yang menderita rematoid artritis tidak disembuhkan secara permanen oleh semua analgesik yang ada di pasaran. Mereka harus menggunakan obat analgesik seumur hidup mereka yang penuh dengan rasa nyeri.

Tidak ada penderita diabetes yang disem buhkan; tidak ada penderita miastenia gravis yang disembuh kan; tidak ada penderita distrofi muskuler yang disembuhkan. Meskipun ada penelitian yang luas, bagaimana mungkin tidak ditemukan penyembuhan bagi setiap kondisi yang banyak terjadi, misalnya “panas perut”, dispepsia, nyeri punggung, rematoid artritis, migrain, atau asma?”

Dr. Hiromi Shinya, salah seorang dokter holistik modern yang terkenal dikalangan para gastroenterologist dan ahli bedah seluruh dunia, mengemukakan keluhannya:

“Saya sangat terpukul. Saya seorang dokter, tetapi tidak dapat menyembuhkan istri saya yang muda dan cantik ataupun menghilangkan penderitaan putra dan putri saya. Di sekolah kedokteran, saya tidak pernah mempelajari apa pun yang dapat memberi tahu saya apa yang menyebabkan mereka sakit. Saya berkonsultasi dengan dokter-dokter lain, dokter-dokter terbaik yang saya kenal, tetapi tak ada yang dapat membantu saya. Menjadi seorang ahli bedah yang ahli maupun memberi obat untuk gejala-gejala penyakit tidaklah cukup. Saya ingin tahu apa yang menyebabkan penyakit.”

Dr. Shinya, menjabat sebagai Profesor Klinis Pembedahan di Albert Einstein College of Medicine, New York City dan sebagai Kepala Unit Endoskopi Bedah di Beth Israel Medical Centre. Sebagai seorang dokter dengan prestasi yang gemilang di komunitas medis, ia melihat banyak kesalahan-kesalahan dalam standarisasi ilmu pengobatan medis konvensional dan kemudian setelah ia mengadakan banyak pengamatan dan beribu uji klinis pada pasien-pasiennya, ia pun beralih ke metode holistik karena telah mendapati kebenaran dibalik pengobatan holistik.

.

Pernyataan Para Dokter Murtad Mengenai Obat-Obatan Kimia

Pernyataan-pernyataan berikut ini perlu kita pertimbangkan, karena mereka adalah para dokter yang SANGAT TAHU APA ITU OBAT-OBATAN KIMIA:

“Penyebab kebanyakan penyakit adalah pada obatan-obatan kimia beracun yang para dokter berikan dan yakini akan membawa kesembuhan.”

- Charles E. Page, M.D.

.

“Obat-obatan kimia bisa dikatakan tidak begitu penting karena sifatnya hanya menekan gejala penyakit.”

- Hans Kusche, M.D.

.

“Jika semua obat-obatan kimia diseluruh dunia dibuang ke laut, ini akan berakibat buruk bagi ikan-ikan tapi baik bagi manusia.”

- O.W. Holmes, (Prof. of Med. Harvard University)

.

“Pengobatan obat-obatan kimia meliputi tindakan pemberdayaan, bertindak seperti pengobatan bagi penyakit, tapi justru menghasilkan penyakit pada orang sehat.Materia medicasebenarnya hanya sekedar mengenai obat-obatan atau bahan dan larutan kimia yang dalam satu kata disebut dengan racun. Semua ini tidak cocok dengan tubuh vital dan menghasilkan penyakit ketika diberikan kepada makhluk hidup. Semuanya beracun.”

- R.T. TraIl, M.D., dalam ceramah dua setengah jamnya kepada para anggota kongres dan para dokter, dikemukakan di the Smithsonian Institute, Washington D.C.

.

“Tiap obat meningkatkan dan membuat komplikasi kondisi pasien.”

- Robert Henderson, M.D.

.

“Obat-obatan tidak pernah menyembuhkan penyakit. Mereka hanya menekan tanda bahaya alami tubuh ketika muncul masalah kesehatan. Racun kimia apapun yang dimasukkan dalam tubuh manusia harus segera dibereskan walaupun ia mengurangi gejala. Rasa sakit mungkin hilang, tapi tanpa disadari pasien malah makin parah kondisinya.”

- Daniel. H. Kress, M.D.

.

“Bagian terbesar dari semua penyakit kronis disebabkan dari obat-obatan kimia beracun yang menekan gejala-gejala penyakit akut.”

- Henry Lindlahr, M.D.

.

“Tiap dokter senior tahu bahwa kebanyakan penyakit tidak begitu terbantu dengan obat-obatan kimia.”

- Richard C. Cabot, M.D. (Mass. Gen. Hospital)

.

“Obat-obatan kimia hanyalah pereda, karena dibalik penyakit ada penyebabnya. Dan untuk penyebab inilah obat-obatan kimia tak pernah bisa menjangkaunya.”

- Wier Mitchel, M.D.

.

“Orang yang minum obat perlu pulih dua kali. Sekali untuk pulih dari penyakit dan satu lagi dari obat kimia itu sendiri.”

- William Osler, M.D.

.

“Praktek medis tidak memiliki filosofi atau akal sehat yang patut untuk direkomendasikan. Ketika sakit, tubuh sudah penuh dengan racun. Dengan minum obat-obatan kimia, tubuh makin penuh dengan racun, sehingga membuat kondisi makin susah untuk disembuhkan.”

- Elmer Lee, M.D., Past Vice President, Academy of Medicine.

.

“Perhitungan kami menunjukkan kira-kira empat setengah juta orang per tahun masuk rumah sakit diakibatkan karena efek samping obat. Lebih jauh lagi, rata-rata pasien rumah sakit memiliki sebanyak 30% kemungkinan, – tergantung berapa lama ia dirawat inap – , akan kembali lagi karena efek samping obat.”

- Milton Silverman, M.D. (Professor of Pharmacology, University of California)

.

“Untuk apa seorang pasien yang karena sakit kemudian menelan racun, atau menelan sesuatu yang bisa membuat orang sehat jadi tambah sakit.”

- L.F. Kebler, M.D.

.

“Perlunya mengajarkan umat manusia untuk tidak mengambil obat-obatan kimia merupakan tugas semua pihak yang tahu efek tidak menentu dan merusak dari pengobatan medis. Dan tidaklah lama lagi masa dimana sistem pengobatan medis akan ditinggalkan.”

- Charles Armbruster, M. D.

.

“Kita cenderung berpikir bahwa penyalahgunaan obat selalu di populasi pria dan dalam bentuk narkoba seperti heroin, kokain, dan mariyuana. Akan mengejutkan Anda jika tahu bahwa sebenarnya telah ada masalah yang jauh lebih besar lagi dibandingkan dugaan Anda karena telah ada jutaan wanita yang BERGANTUNG dengan obat-obatan kimia yang diresepkan oleh dokter.”

- Robert Mendelsohn, M.D

.

Semoga dari penjelasan-penjelasan di atas, Anda bisa memilih pengobatan yang tepat bagi Anda dan keluarga yang Anda cintai. Sebagai penutup, saya kutip perkataan Thomas Alva Edison sebagai berikut: “Dokter masa depan tidak lagi memberi obat, namun akan menempatkan kepentingan pasiennya dalam rangka bimbingan kemanusiaan, bimbingan pengaturan pola makan, dan mengenai penyebab serta pencegahan penyakit.”

.

.

BISNIS MERAWAT DAN MENJUAL PENYAKIT

Di dunia pengobatan konvensional, Anda akan mendapati “bisnis MERAWAT & MENJUALpenyakit”, bukannya “bisnis MENYEMBUHKAN penyakit.”

Ada beberapa aliran alternatif yang bersifat netral terhadap allopathy/medis konvensional. Biasanya mereka adalah dari cabang holistik tradisional. Mereka mengambil sikap netral pada umumnya oleh karena faktor kurangnya pemahaman akan kesehatan modern dan “wajah” dunia allopathy yang sebenarnya. Berbeda sekali dengan aliran holistik modern yang benar-benar paham akan sains modern, kami tahu DENGAN PASTI akan kesalahan-kesalahan FATAL medis konvensional dan oleh karena itulah kami mengambil sikap MENENTANG, bukan netral.

Mungkin Anda berkata, “Adalah wajar jika ada perbedaan dalam pengobatan toh asal tujuannya untuk mengobati dan menyembuhkan. Jadi untuk apa orang-orang holistik modern menentang medis konvensional?!”

Pernyataan tersebut ada benarnya, tapi tidak untuk medis konvensional. Mengapa para praktisi holistik modern, termasuk saya, tidak bersifat netral adalah karena standar medis allopathy telah sangat banyak sekali menelan korban jiwa dan telah merenggut kebahagiaan serta kesejahteraan banyak orang. Itulah “buah” dari standar yang berlawanan dengan Hukum Alam atau lebih mengandalkan cara manusia dibandingkan cara Tuhan dalam menyembuhkan.

Tidak ada toleransi bagi medis konvensional karena DOSA-DOSAnya sudah terlalu besar!

Sekarang saya ajak Anda untuk belajar dari kasus-kasus yang terjadi di Amerika Serikat, negara “Super Power” yang seharusnya sangat canggih, bisa dipercaya, dan bisa dijadikan contoh dalam pengobatan medis.

.

PARA DOKTER MERUPAKAN PENYEBAB KEMATIAN UTAMA KE 3 DI AMERIKA SERIKAT – 250 RIBU JIWA MENINGGAL PER TAHUNNYA

Dr. Barbara Starfield dari the Johns Hopkins School of Hygiene and Public Health, menulis salah satu artikel terbaik dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) yang dipublikasikan secara umum, mendukumentasikan tragedi dari paradigma pengobatan konvensional dan dia mendeskripsikan bagaimana sistem kesehatan Amerika Serikat memiliki sistem kesehatan yang buruk. [10]

Di bawah ini adalah angka kematian per tahun di Amerika oleh karena kesalahan-kesalahan dalam medis konvensional:

  • 12.000 – karena operasi yang tidak perlu.
  • 7.000 – karena kesalahan pengobatan di rumah sakit.
  • 20.000 – karena kesalahan lainnya di rumah sakit.
  • 80.000 – karena infeksi di dalam rumah sakit.
  • 106.000 – karena efek  samping negatif dari obat.

Total keseluruhan adalah 225.000 kematian per tahunnya karena penyebab iatrogenic!!

Iatrogenic adalah kondisi yang disebabkan oleh karena perawatan dokter terhadap suatu penyakit atau keadaan. Istilah ini biasanya digunakan sebagai komplikasi dari suatu perawatan.

Dr. Starfield menyerukan beberapa peringatan dalam mengartikan “angka-angka maut” di atas:

  • Pertama, kebanyakan data yang ada berasal dari studi atas para pasien yang dirawat inap.
  • Kedua, perkiraan ini hanya menunjukkan angka kematian dan belum termasuk efek negatif yang berhubungan dengan cacat atau ketidaknyamanan.
  • Ketiga, perkiraan kematian oleh karena kesalahan, masih lebih rendah dibandingkan dalam laporan IOM (Institute of Medicine).

Jika perkiraan lebih tinggi dipakai, kematian oleh karena iatrogenic bisa mencapai antara 230.000 sampai dengan 284.000. Dalam kasus apapun, 225.000 kematian per tahun menjadi dasar atas kesimpulan bahwa dokter merupakan penyebab kematian utama ketiga di Amerika Serikat sesudah penyakit jantung dan kanker.

Analisa lainnya menyimpulkan bahwa antara 4% dan 18% dari pasien mengalami efek negatif pada setting rawat jalan, dengan:

  • 116 juta kunjungan ekstra dari dokter.
  • 77 juta resep ekstra.
  • 17 juta kunjungan bagian gawat darurat.
  • 8 juta rawat inap.
  • 3 juta admisi jangka panjang.
  • 199.000 angka kematian tambahan.
  • $77 miliar biaya ekstra yang dihabiskan.

Biaya tinggi sistem kesehatan diperhitungkan sebagai defisit tapi tetap ditolerir karena dengan asumsi bahwa kesehatan yang lebih baik dihasilkan dari perawatan yang lebih mahal. Namun bagaimanapun juga, bukti dari beberapa studi mengindikasikan bahwa sebanyak 20% sampai 30% pasien mendapatkan perawatan yang tidak baik.

Diperkirakan juga 44.000 sampai 98.000 di antara mereka meninggal setiap tahunnya dikarenakan kesalahan medis.

Hal ini bisa ditolerir lebih kecil lagi jika dihasilkan dari kesehatan yang lebih baik, tapi benarkah jika demikian? Sebagai perbandingan terbaru,  dari 13 negara, Amerika Serikat menduduki peringkat rata-rata ke 12 (kedua dari bawah) dari 16 angka indikator. Lebih spesifik lagi, urutan peringkat dari Amerika Serikat terhadap beberapa indikator adalah:

  • Ke 13 (paling akhir) untuk indikasi persentasi kelahiran dengan berat rendah (low-birth-weight).
  • Ke 13 untuk indikasi kematian bayi baru lahir dan kematian balita secara keseluruhan.
  • Ke 11 untuk indikasi kematian balita.
  • Ke 13 untuk indikasi potensi resiko kematian (tidak termasuk penyebab luar).
  • Ke 11 untuk indikasi harapan hidup sampai satu tahun bagi perempuan, tapi urutan ke 13 bagi laki-laki.
  • Ke 10 untuk indikasi harapan hidup sampai 15 tahun bagi perempuan, tapi ke 12 bagi laki-laki.
  • Ke 10 untuk indikasi harapan hidup sampai 40 tahun bagi perempuan, tapi ke 9 bagi laki-laki.
  • Ke 7 untuk indikasi harapan hidup sampai 65 tahun bagi perempuan, tapi ke 7 bagi laki-laki.
  • Ke 3 untuk indikasi harapan hidup sampai 80 tahun bagi perempuan, dan ke 3 juga bagi laki-laki.

Performa buruk Amerika Serikat di atas telah dikonfirmasi kebenarannya oleh penelitian WHO, dengan memakai data yang berbeda dan memberi Amerika urutan ke 15 di antara 25 negara industri lainnya.

Ada suatu pernyataan umum bahwa masyarakat Amerika lebih memiliki kebiasaan buruk dengan merokok, minum-minuman keras, dan kekerasan perilakunya dibandingkan dengan negara lain. Namun bagaimanapun juga, data-data berikut tidak menyokong pernyataan tadi.

  • Proporsi untuk perempuan yang merokok mencakup 14% di Jepang, 41% di Denmark. Di Amerika Serikat, 24% (kelima terbaik). Untuk laki-laki, mencakup 26% di Swedia, 61% di Jepang dan 28% di Amerika Serikat (ketiga terbaik).
  • Amerika menduduki peringkat ke 5 terbaik untuk indikasi konsumsi minum-minuman beralkohol.
  • Amerika Serikat secara relative rendah mengkonsumsi lemak hewani (kelima terendah untuk laki-laki berusia 55-64 tahun di 20 negara industri) dan ketiga terendah untuk indikasi konsumsi kolesterol jahat untuk laki-laki berusia 50 sampai 70 tahun di antara 13 negara industri.

Perkiraan kematian karena kelalaian manusia ini masih lebih rendah dibandingkan perkiraan-perkiraan dari laporan terbaru Institutes of Medicine. Dan jika perkiraan lebih tinggi dipergunakan, maka angka kematian oleh karena penyebab iatrogenic bisa mencakup 230.000 sampai 284.000.

Bahkan dengan perkiraan lebih rendah yaitu 225.000 kematian per tahun, ini sudah menjadi dasar atas kesimpulan bahwa dokter merupakan penyebab kematian utama ketiga di Amerika Serikat sesudah penyakit jantung dan kanker. [11]

Teknologi yang kurang canggih tentu bukan faktor penyebab rendahnya ranking kesehatan Amerika Serikat.

  • Di antara 29 negara, Amerika Serikat menduduki urutan kedua sesudah Jepang dalam hal ketersediaan unit penggambaran resonansi magnetic dan scanner tomography per juta penduduk.
  • Jepang, bagaimanapun juga, menduduki peringkat tertinggi di bidang kesehatan, dimana Amerika hanya mendapat kedudukan di antara terendah.
  • Adalah mungkin bahwa penggunaan tinggi akan teknologi di Jepang dibatasi oleh teknologi diagnosis tidak sebanding dengan angka tinggi untuk perawatan, dimana Amerika, pemakaian tinggi teknologi diagnosis berhubungan dengan perawatan lebih.
  • Menyokong hal-hal di atas adalah data yang menunjukkan bahwa jumlah karyawan rumah sakit per tempat tidur di Amerika Serikat adalah paling tinggi di antara negara lainnya, dimana Jepang sangat sedikit, jauh lebih sedikit karena kebiasaan umum masyarakat Jepang dimana anggota keluargalah yang menyediakan kebutuhan selama rawat inap, bukannya karyawan.

.

DOKTER KONVENSIONAL SERINGKALI MENGESAMPINGKAN EFEK NEGATIF OBAT

Kekhawatiran pasien akan efek samping obat seringkali dikesampingkan oleh dokter mereka, berdasarkan hasil survey atas 650 pasien yang mengkonsumsi obat anti kolesterol yang dikenal sebagai statin.

Obat statin, seperti misalnya Lipitor dan Zocor, adalah obat umum yang memiliki berbagai efek samping berbahaya, termasuk kerusakan hati, masalah pada otot, perubahan memori dan keinginan, dan lain-lain. Dalam kasus masalah pada otot, jika efek samping ini tidak disadari, ia kan berkembang menjadi kondisi yang lebih fatal lagi yaitu rhabdomyolysis.

Meskipun begitu, pasien yang merespon survey tersebut mengatakan bahwa mereka telah berinisiatif untuk mendiskusikan efek samping obat dengan dokter mereka, namun ketika mereka melakukannya:

  • 47 persen mengatakan dokter mereka mengesampingkan masalah otot atau otak yang ada dan berkata itu tidak berhubungan dengan obat yang dikonsumsi.
  • 51 persen dengan efek samping sakit pada saraf atau disebut peripheral neuropathy mengatakan bahwa dokter mereka menyangkal hubungan gejala tersebut dengan obat yang dikonsumsi.
  • 32 persen mengatakan bahwa dokter mereka menyangkal hubungan antara gejala-gejala yang ada dengan obat statin.
  • 29 persen mengatakan bahwa dokter mereka tidak membenarkan atau pun menyangkal hubungan antara gejala yang ada dengan obat statin.

Bukannya menanggapi keluhan pasien mengenai obat yang diresepkan, banyak dokter malah mengkambinghitamkan “proses penuaan normal” atau bahkan sepenuhnya menyangkal gejala yang nampak. Disamping tidak menaruh perhatian pada kesehatan pasien, ketidakpedulian terhadap efek samping berat obat-obatan juga dilakukan oleh FDA (Food and Drugs Administration) dengan pencantuman “tidak ada laporan efek samping dari pasien”, padahal tidak benar demikian.

Efek samping obat telah dilaporkan di bawah dari jumlah aktual yang ada sekitar 90 sampai 99 persen, berdasarkan salah satu ahli di Harvard Medical School, dan FDA dengan berat menerima laporan keamanan suatu obat jika obat tersebut meroket penjualannya di pasaran.

Oleh karena itu, hasil survey menyimpulkan bahwa FDA telah lalai dalam memperhatikan efek samping obat karena para dokter tidak “melihatnya” pada pasien mereka.

Pencetus penelitian percaya bahwa efek samping statin bukanlah satu-satunya yang tidak diperhatikan atau diabaikan.

Mereka menilai bahwa banyak efek samping obat lainnya juga tidak diperhatikan dan diabaikan. Para peneliti mengkalkulasi bahwa kecenderungan para dokter mengesampingkan efek samping obat adalah karena pengaruh kuat kampanye marketing mengenai manfaat obat yang diheboh-hebohkan dan menyembunyikan efek sampingnya.

Drug Safety August 2007 30(8):669-675 [12]

Reuters August 28, 2007 [13]

Washington Post August 28, 2007 [14]

.

PENGGUNAAN OBAT MENYEBABKAN 700.000 WARGA AMERIKA DIRAWAT DI UGD PER TAHUNNYA

Suatu penelitian mempelajari dokumentasi kejadian akibat kontraindikasi obat, yang dilaporkan oleh 63 rumah sakit di Amerika di antara tahun 2004 dan 2005. Selama masa penelitian, semua rumah sakit tersebut melaporkan adanya kunjungan gawat darurat hampir berjumlah 21.300 kunjungan.

Itu berarti jika secara keseluruhan semua rumah sakit yang ada di Amerika Serikat digabungkan, itu berarti ada lebih dari 700.000 orang, terutama yang berusia 65 tahun ke atas, telah mengunjungi Ruang Unit Gawat Darurat (UGD) tiap tahunnya oleh karena kontraindikasi obat.

Para manula ternyata 7 kali lebih sering dirawat rumah sakit dibandingkan yang masih muda, dan perbandingannya dua kali lebih sering dirawat di UGD.

Kriteria obat-obatan yang masuk dalam penelitian tersebut adalah termasuk obat yang diresepkan, obat pelengkap, vaksin, vitamin, suplemen harian, dan produk herbal. Kontraindikasi obat termasuk reaksi alergi, beberapa efek samping, overdosis, pingsan dan leher terasa tercekik.

Kejadian oleh karena kontraindikasi obat kebanyakan oleh karena overdosis dan reaksi alergi. Faktor kematian yang berhubungan karena obat, usaha untuk bunuh diri, penyalahgunaan obat, dan penarikan diri dari obat, tidak dimasukkan sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian ini.

Kebanyakan pasien dirawat dengan cepat sehingga dengan segera bisa pulang tanpa harus rawat inap. Tapi rata-rata 117.000 pasien per tahunnya perlu rawat inap oleh karena kontraindikasi obat. Dalam hal ini kebanyakan berasal dari kasus-kasus pemakaian obat yang perlu pemonitoran untuk menghindari akumulasi racun, yaitu:

  • Insulin.
  • Obat penghilang rasa sakit yang mengandung opioid.
  • Obat anti penggumpalan darah.
  • Amoxicillin.
  • Antihistamin dan anti masuk angin.

Khusus manula berusia 65 ke atas, kunjungan ke UGD berhubungan dengan :

  • Coumadin, obat untuk mencegah penggumpalan darah.
  • Digoxin, obat untuk membantu jantung lemah bekerja lebih efisien.

.

Sumber:

·         Journal of the American Medical Association October 18, 2006; 296(15): 1858-1866 [15]

·         WebMD October 17, 2006 [16]

.

.

WASPADALAH, OBAT-OBATAN MENCEMARI AIR KITA!

.

Perairan Amerika Serikat Telah Dicemari Oleh Obat Kimia

Sejumlah antibiotik, antidepresan, anti-convulsant dan hormonseks telah ditemukan di air minum sepanjang Amerika dalam hasil 5 bulan investigasi oleh Associated Press (AP).

Dalam pemeriksaan selama 5 bulan, AP menemukan obat-obatan terdeteksi di suplai air minum dari 24 area utama metropolitan, mulai dari Kalifornia Selatan sampai ke New Jersey Utara, dari Detroit, Michigan, ke  Louisville, Kentucky.

Konsentrasi obat-obatan ini kecil, dengan ukuran sepermiliar atau sepertrilyun, jauh dari level dosis medis. Selain itu pejabat menekankan bahwa air mereka masih aman.

Tapi keberadaan dari begitu banyaknya obat-obatan seperti misalnya acetaminophen dan ibuprofen – ada di air minum meningkatkan kekhawatiran di antara para ilmuwan akan konsukuensi jangka panjang bagi kesehatan manusia.

Tidak ada peraturan pemerintah untuk menguji obat-obatan ini di air minum. Salah satu contoh, Philadelphia, jejak 56 obat-obatan berbeda telah ditemukan di air keran. Ini meliputi obat-obatan yang telah disebutkan di atas, obat anti kolesterol dan juga pil-pil lainnya yang orang Amerika biasa konsumsi.

Sebagaimana perusahaan air (termasuk perusahaan air minum kemasan) dan pejabat tidak secara rutin menyaring bahan-bahan kimia ini, ini berarti obat-obatan kembali lagi ke sistem perairan melalui pipa saluran, mengikuti pemrosesan ulang air kotor dari sumber manusia.

Kita mengambil obat-obatan dan kemudian membuangnya yang akhirnya masuk ke saluran air kota yang dipakai untuk memproduksi air minum, dimana jejak obat-obatan kimia tadi kembali ke tubuh kita karena proses penyaringan air tidak bisa menyaring bersih jejak obat-obatan.

Beberapa laporan dari AP:

  • Pejabat di Philadelphia, Pennsylvania, mengatakan pengujian air di sana telah menemukan 56 jenis obat di air minum, diantaranya adalah obat untuk penghilang rasa  sakit, infeksi, kolesterol, asma, epilepsy, depresi, dan jantung. Terdapat enam puluh tiga jenis obat ditemukan di penampungan air kota.
  • Obat epilepsy dan depresi telah terdeteksi di air minum untuk 18,5 juta jiwa di Kalifornia Selatan.
  • Para peneliti U.S. Geological Survey menganalisa tempat penampungan air minum Passaic Valley Water Commission, yang menyediakan air bagi 850.000 orang di New Jersey Utara, telah menemukan obat untuk angina dan obat depresi carbamazepine di air minum.
  • Hormon seks telah terdeteksi di air minum San Francisco, Kalifornia.
  • Air minum untuk Washington, D.C., dan sekitarnya telah terdeteksi positif tercemar 6 jenis obat-obatan.

Hasil laporan AP telah membuktikan bahwa air kemasan dan sistem penyaringan air dalam rumah tidak bisa menghindari pencemaran ini karena sistem yang ada tidak bisa menyaringnya. Tidak juga dengan sumur atau air tanah dalam. Laporan tersebut juga menambahkan bahwa pencemaran telah terdeteksi di Asia, Australia, Kanada dan Eropa, danau-danau Swiss dan Laut Utara.

Perlu diadakan penelitian lainnya untuk meneliti dampak dari jejak obat-obatan, tapi dengan kekhawatiran yang ada akan pengaruh obat dirupsi endokrin, ini cukup untuk membuat kita mengerti akan pengaruhnya bagi penampungan air dan diri kita sendiri dan diperlukan langkah mendesak untuk mengatasinya.

.

Sumber:

science.the-environmentalist.org, Maret 2008 [17]

edition.cnn.com, 2008 [18]

.

Berita-berita seperti di atas bisa banyak kita temukan di Amerika karena mereka selalu mengadakan penelitian-penelitian yang meneliti lingkungan mereka. Sungguh disayangkan, saya tidak mendapati hasil temuan seperti ini di Indonesia kita tercinta. Tidak ada publikasi seperti ini, bisa disebabkan oleh beberapa kemungkinan:

  • Belum ada yang meneliti pengaruh obat-obatan terhadap lingkungan karena tidak ada yang peduli.
  • Sudah ada yang meneliti tapi tidak dipublikasikan karena tidak ditemukan pencemaran.
  • Sudah ada yang meneliti tapi tidak dipublikasikan karena ditekan oleh pihak-pihak tertentu yang akan dirugikan.
  • Dan lain-lain.

Artikel di atas telah menunjukkan kepada kita bahwa Amerika yang adalah negara lebih maju dibandingkan Indonesia dalam hal teknologi dan kesehatan, ternyata bisa “kecolongan” juga terhadap ancaman pencemaran air dari obat-obatan. Penampungan air mereka ternyata tidak sanggup menyaring limbah obat-obatan! Bagaimana dengan di Indonesia?!

Inilah yang para ilmuwan pecinta linkungan telah cemaskan lama sejak meningkatnya produksi obat di dunia secara besar-besaran. Masyarakat awam tidak mengetahui efek negatif jangka panjang dari obat-obatan kimia.

.

Indonesia Kita Terancam!

Berton-ton produk sintetis seperti sabun, shampoo, deterjen, pestisida, pengawet, kosmetik, dan obat-obatan telah dibuang ke tanah dan air kita Indonesia. Mudah dibayangkan apa yang akan terjadi 50 tahun kemudian di Indonesia jika kita tidak mengambil langkah bijaksana: Kita akan kehilangan air bersih kita yang sangat berharga.

Air merupakan komoditi yang sangat berharga dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita. Apa jadinya ekonomi, pariwisata, keagamaan, sosial, industri, dan kesehatan jika tanpa air bersih? Jawabannya hanyalah berupa hal-hal yang negatif: kemerosotan, kemunduran, bencana, penyakit, masalah, kehausan, dan masih banyak lagi lainnya.

Telah terbukti di Amerika dan belahan negara lainnya bahwa obat-obatan selain memiliki efek samping negatif bagi tubuh kita, ternyata juga memiliki efek negatif bagi lingkungan.

Tim United States Geological Survey telah menemukan “ikan bass dengan kelamin ganda” di Sungai Potomac dan sekitarnya. Ikan tersebut walaupun jantan ternyata memiliki telur. [19]

Bagaimana jadinya jika hal seperti ini ditemukan di Indonesia? Mungkin bukan hanya pada ikan, tapi bagaimana halnya dengan hewan piaraan dan ternak yang meminum air tercemar ini? Apa yang terjadi dengan tanaman disekitar air yang tercemar? Bagaimana hasil panennya? Apakah aman untuk dikonsumsi padahal tanaman tersebut menyerap obat-obatan kimia?

Di tahun 1999, seorang gadis berusia 17 tahun bersekolah di SMA West Virginia, Ashley Mulroy, membaca laporan di suatu majalah ilmiah yang memberitakan bagaimana para ilmuwan Eropa telah menemukan “berbagai macam obat-obatan, termasuk antibiotik, ikut mengalir di sungai, selokan, air tanah, bahkan di air keran.” Setelah membacanya, dia memutuskan untuk melakukan penelitian ilmiah atas inisiatif sendiri. Selama 10 minggu, Ashley dan ibunya berkendara melintasi sepanjang Sungai Ohio, mengambil sampel air dari sisi-sisi sungai berbeda. Dia membawa pulang sampel tersebut dan didapati ada 3 antibiotik pada sampel air:  penicillin, tetracycline dan vancomycin.

Dia terkejut karena ternyata dia juga menemukan ketiga antibiotik ini pada semua sampel air yang dia ambil. Ashley kemudian mengambil sampel pada air keran di tiga kota terdekat. Ternyata ketiganya, termasuk air dari sumber air minum di sekolahnya, telah tercemar antibiotik.  Ashley pun akhirnya menerima beberapa penghargaan proyek ilmiah, dan yang lebih penting, dia telah membuka mata banyak para ilmuwan Amerika Serikat.

Jika Anda seorang mahasiswa, tidak ada salahnya berinisiatif melakukan penelitian ilmiah seperti yang telah dilakukan Ashley dan siapa tahu, Anda bisa mendapatkan penghargaan atau nilai bagus. Namun lebih dari itu, penelitian Anda akan membuka mata kita semua akan efek negatif obat-obatan kimia terhadap lingkungan terutama air.

Ketika kita memproduksi obat-obatan kimia, mengkonsumsinya, dan membuangnya, kita tanpa menyadarinya telah merusak lingkungan dan diri sendiri. Dalam jangka panjang, tanpa sadar kita mewarisi kerusakan, penderitaan, dan penyakit pada anak-cucu kita sendiri.

Apakah ini yang Anda inginkan?

Saya percaya hati nurani Anda pasti berkata TIDAK.

.

Enam Pertanyaan “Menggigit” untuk Direnungkan Dokter dan Perusahaan Obat

Enam pertanyaan ini saya utarakan dengan tujuan untuk membuka mata hati dan “logika” para dokter konvensional dan juga para produsen obat-obatan kimia. Jika Anda seorang dokter konvensional atau produsen obat kimia, silahkan menjawab enam pertanyaan ini. Tiap jawaban Anda adalah cerminan dari siapa Anda, apa yang Anda percayai, bagaimana moral Anda, dan masa depan apa yang akan Anda miliki serta berikan bagi Indonesia yang ber-Pancasila.

  1. Mana yang lebih manjur: Alam ciptaan Tuhan atau obat-obatan kimia buatan manusia?
  2. Apa yang terjadi jika Anda memberikan anak Anda obat antidepresan dan obat anti maag tiga kali setiap hari dalam setahun dibandingkan dengan Anda memberikan minyak ikan scott dan Virgin Coconut Oil tiga kali sehari dalam setahun? Semuanya berfungsi untuk menenangkan pikiran dan anti peradangan pada perut, tapi manakah yang Anda pilih untuk kesehatan anak Anda yang tercinta?
  3. Apa yang terjadi 50 tahun kemudian jika kita membuang berton-ton obat-obatan kimia ke tanah dan air kita, dibandingkan dengan jika kita membuang berton-ton suplemen VCO, klorofil, minyak ikan, dan suplemen-suplemen lainnya ke tanah dan air kita?
  4. Manakah yang paling banyak terjadi kasus malpraktek: Perawatan oleh dokter konvensional atau perawatan oleh praktisi holistik?
  5. Manakah yang lebih banyak memiliki efek samping negatif terhadap tubuh: obat-obatan kimia atau alam ciptaan Tuhan?
  6. Manakah yang paling banyak mengalirkan uang pada Anda: obat-obatan kimia atau alam ciptaan Tuhan?

Semoga keenam pertanyaan di atas bukan hanya membuka mata hati dan “logika” para dokter konvensional dan para produsen obat-obatan kimia, tapi juga semua lapisan masyarakat Indonesia.

Produsen obat-obatan kimia berkata, “Tapi bukankah kami mengolah alam?”

Benarkah memproduksi obat-obatan kimia adalah tindakan mengolah alam? Tidak. Yang benar adalah merusak alam. Hanya pembuatan suplemen saja yang merupakan mengolah alam. Perbedaannya sungguh besar karena pembuatan suplemen tidak merusak “rancangan” Tuhan atas materi asal yang dijadikan suplemen. Unsur alam yang ada telah memiliki fungsi atau manfaat yang telah ditentukan Tuhan sebelumnya dan tinggal kita yang memanfaatkan alam tersebut sesuai dengan yang “dimaksudkan” Tuhan untuk kebaikan kita.

Contoh mengolah alam adalah pemanfaatan khasiat kelapa dengan membuat suplemen Virgin Coconut Oil, pemanfaatan khasiat omega-3 pada minyak ikan dengan ekstrak minyak ikan, pembuatan suplemen klorofil, pembuatan ekstrak bawang putih, dan sebagainya.

Lain halnya dengan obat-obatan yang dibuat oleh manusia dengan cara pemisahan unsur molekul dari molekul aslinya (yang sebenarnya “menyeimbangkan”) sehingga “rancangan awal Tuhan” atas molekul tersebut jadi hilang.

Contoh merusak alam dari molekul asli yang sebenarnya untuk “menyeimbangkan” adalah pembuatan garam meja yang digembor-gemborkan mengandung yodium yang baik untuk kesehatan ternyata adalah garam berbahaya yang telah dipecah dari unsur garam aslinya. Garam yodium malah terbukti menyebabkan hipertensi sedangkan garam laut asli yang “kita jauhi” ternyata diciptakan oleh Tuhan untuk penyedap rasa yang nikmat dan baik untuk meyembuhkan berbagai masalah kesehatan. [20]

Tindakan seperti ini sama saja dengan mengulangi sejarah awal kejatuhan manusia oleh Adam dan Hawa, ketika manusia ingin menjadi seperti Tuhan. Tindakan menggantikan alam ciptaan Tuhan dengan obat-obatan kimia dan lebih percaya pada cara manusia, sama saja dengan berkata (dalam tindakan, bukan dalam kata-kata), “Tuhan, saya lebih percaya dengan cara saya sendiri dibandingkan caramu dan ciptaanmu. Caramu kuno Tuhan.”

Ada banyak laporan-laporan ilmiah yang membeberkan tentang malpraktek dan kesalahan-kesalahan di dunia medis saya publikasikan di Healindonesia. [21] Jika Anda melakukan pencarian pada Search Engine Google, akan Anda dapati beribu-ribu jurnal ilmiah yang mempublikasikan permasalahan ini. Bukti-bukti dan fakta sejarah telah ada di depan mata kita!

.

Benarkah Cara Tuhan Kuno?

Seratus persen tidak? Kami praktisi holistik modern telah mendapati bahwa penyembuhan yang tidak sekedar “back to nature” (kembali ke alam) tapi lebih dari itu, yaitu penyembuhan dengan “back to God’s design” (kembali ke rancangan Tuhan) membuat proses kesembuhan atas semua jenis penyakit adalah mungkin dan terjadi dalam jangka waktu yang sangat singkat.

Dalam holistik modern, kami memanfaatkan teknologi untuk mengelola dan meneliti alam. Alam telah dirancang sedemikian rupa oleh Pencipta dan sains kami terus-menerus berusaha untuk mengungkapkan rahasianya bagi kesehatan dan keseimbangan alam.

Lain halnya dengan pengobatan medis konvensional, obat-obatan medis lebih bersifat merawat bukannya meyembuhkan. Selain itu, obat-obatan medis juga lebih bersifat menekan gejala, bukannya menyembuhkan akar penyakit.

.

Apa Ini Berarti Kita Tidak Memerlukan Obat?

Ini tergantung situasi dan diri kita sendiri. Jika Anda awam akan kesehatan, Anda masih memerlukan obat-obatan kimia tersebut. Obat-obatan medis telah mempengaruhi seluruh dunia dan adalah mustahil untuk bisa lepas 100% darinya. Tapi ada yang bisa kita lakukan bersama-sama secara pribadi, yaitu berangsur-angsur “back to God’s design” (kembali ke rancangan Tuhan), memakai alam lebih banyak dibandingkan medis dan mulai berkata tidak pada obat-obatan kimia.

Lakukanlah ini mulai dari diri sendiri dan saat ini juga. Percayalah pada alam ciptaan Tuhan dan rancanganNya, maka kita akan menciptakan dunia yang lebih baik untuk diri sendiri dan anak-cucu kita.

Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana jika AIDS tanpa obat ARV, kanker tanpa kemoterapi, diabetes tanpa insulin dan obat-obatannya, infeksi tanpa antibiotik, dan masih banyak lagi lainnya?

Jangan khawatir, Tuhan telah menyediakan obat alami untuk mengatasi semua jenis penyakit di dunia ini termasuk AIDS. Holistik modern bisa jadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi, bahkan dengan proses penyembuhan yang singkat dan aman.

Tulisan-tulisan saya memang sangat kontroversial tapi alasan saya menulis semuanya adalah karena saya tahu apa yang akan terjadi pada Indonesia jika kita saling “cuek” dan tidak ada yang memulai untuk berjuang mengungkapkan kebenaran. Jutaan nyawa akan melayang setiap tahunnya karena ketidaktahuan. Jutaan tangis akan terdengar disekitar kita dan kita pun akan kehilangan alam Indonesia yang asri dan permai ini.

Ingatlah dengan 6 pertanyaan “menggigit” tadi dan renungkanlah! Kita bisa menilai apakah sesuatu itu baik atau buruk adalah dari buah yang dihasilkannya.

.

MALPRAKTEK DI INDONESIA

Kasus Malpraktek. Sejak 2003 hingga 2006, LBH Kesehatan telah menerima 373 kasus kesehatan dari seluruh Indonesia, 90 kasus diantaranya malpraktek. Berdasarkan data yang dimiliki LBH Kesehatan, sampai dengan empat tahun terakhir, jumlah kasus yang LBH Kesehatan tangani rata-rata meningkat sekitar 80 persen. Ini baru kasus yang terdokumentasi. [22] Bagaimana dengan banyaknya kasus malpraktek yang tidak terdokumentasi. Siapa sangka Anda dan keluarga Anda adalah salah satu korbannya!?!

Kasus AIDS. Jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia dalam waktu 10 tahun terakhir berdasarkan laporan Ditjen Pengendalian Penyakit dan Pengendalian Lingkungan [23] hingga bulan Juni 2008 mencapai 12.686 jiwa. Kasus AIDS terbanyak dari daerah DKI Jakarta, Jawa Barat, Papua, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Kepulauan Riau. Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Denpasar [24] yang tercatat hingga akhir Juli mencapai 1.085 orang dari 2.208 kasus di Bali.

Nah, jika tadi kita sudah melihat contoh kasus-kasus yang terjadi Amerika, mari sekarang kita melihat yang terjadi di Indonesia yang saya ambil dari beberapa artikel di Internet:

.

Ramai-Ramai Menggugat Dokter

Pengaduan masyarakat atas dugaan malpraktek semakin marak. Perlu lembaga audit medis dan standar profesi dokter.

ANA Kusmanto tak bisa menyembunyikan kepedihannya. Setiap kali memandang Dherens, bayinya yang kini berumur empat bulan, hati perempuan itu tersayat. Kaki Dherens tak tumbuh normal. Kaki kanan lebih pendek ketimbang yang kiri, dari paha kaki kanan itu tumbuh tulang baru yang mendesak tulang kulit paha. Tulang paha kanan itu kemudian membesar, mengikuti bentuk tulang baru.

Bagi Ana, ini bukan pertumbuhan alamiah. Ia yakin anak keduanya itu korban malpraktek dokter di Rumah Sakit Medistra ketika ia menjalani persalinan lewat bedah caesar di sana, 9 Juli silam. Menurut Ana, beberapa saat setelah dilahirkan, Dherens terus menangis. Kaki Dherens, kata Ana, ketika itu berwarna biru lebam dan gerakannya tak normal. Ketika dilakukan rontgen, diketahui tulang paha kanan bayinya patah.

Tetapi dokter yang menangani persalinannya meminta Ana tenang. “Kasus patah tulang seperti ini biasa, dua atau tiga bulan lagi akan sembuh,” kata sang dokter seperti ditirukan Ana. Tapi, ya, itu: kaki Dherens tak kunjung normal. Kusmanto dan Ana melayangkan somasi ke rumah sakit terkenal di Ibu Kota itu. Mereka meminta Medistra ikut bertanggung jawab atas keadaan yang dialami bayinya.

Karena jawaban Medistra tak memuaskan, Ana membawa kasus ini ke polisi. Ia menuduh Medistra melakukan kelalaian sehingga bayinya cacat. Pasangan ini juga berencana menuntut ganti rugi Rp 17 miliar. Tuduhan dugaan malpraktek yang dilakukan dokter di rumah sakit ini juga datang dari keluarga Sukma Ayu. Mereka menduga ada kejanggalan yang dilakukan tim dokter saat menangani almarhumah.

Sukma dirawat di Rumah Sakit Medistra mulai 9 April lalu, setelah lengannya dioperasi karena mengalami kecelakaan. Sukma kemudian koma selama lima bulan, sebelum akhirnya wafat pada akhir September lalu. Keluarga Sukma, lewat pengacara Hotman Paris Hutapea, mengajukan somasi. Mereka menduga artis ini meninggal karena adanya penanganan tak benar dari dokter.

Persidangan terhadap dugaan malpraktek dua pekan lalu juga muncul di Pengadilan Jakarta Pusat. Indra Syafri Yacub menggugat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, RS Pelni Petamburan, dan RS Palang Merah Indonesia (PMI) Bogor dengan tuduhan telah melakukan malpraktek terhadap istrinya, Adya Vitry Harisusanti.

Menurut Indra, pada 10 November 2002, Adya memeriksakan kesehatannya ke RS PMI Bogor. Karena informasi medis di rumah sakit itu tak memuaskan, Indra membawa istrinya ke RS Pelni, Jakarta. Dari tempat itu, setelah meminta rujukan, pada 17 Desember ia memindahkan istrinya ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Di RSCM, kata Indra, terjadi kesalahan pemasangan alat CVP (central vena pressure).

Pemasangan alat yang menggunakan jarum suntik itu, menurut Indra, tidak pada tempatnya. “Darah yang muncrat adalah darah segar yang berasal dari arteri, dan bukan masuk ke vena,” ujarnya. Beberapa saat kemudian, Adya tewas. Namun, gugatan Indra ditolak. Menurut majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, gugatan Indra terlalu prematur karena tidak ada autopsi terhadap pasien sehingga tak diketahui penyebab kematiannya.

Indra tak menyerah. Lewat Pengacara Erna Ratnaningsih, yang juga Wakil Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, ia melaporkan kasus ini ke Polda Metro Jaya. Erna yakin terjadi malpraktek terhadap Adya. Apalagi, menurut dia, dokter yang memasang CVP, Dokter Fahrurozi, adalah dokter “residen”?dokter yang masih ikut pendidikan spesialisasi anestesi di RSCM. “Dokter itu melanggar Pasal 359 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) karena kelalaiannya menyebabkan Adya meninggal,” kata Erna. Erna juga mengadukan atasan Fahrurozi karena tidak melakukan pengawasan terhadap bawahannya.

Gugatan kasus malpraktek kini marak di mana-mana. LBH Kesehatan, misalnya, saat ini menangani tak kurang dari 180 kasus berkaitan dengan dugaan malpraktek. “Beberapa kasus sudah dilaporkan ke polisi,” kata Iskandar Sitorus, Ketua LBH Kesehatan. Jumlah ini jauh lebih besar dari yang ditangani LBH Jakarta. Sepanjang 2001-2004, LBH Jakarta menangani 21 kasus. Menurut Erna Ratnaningsih, tiga kasus di antaranya sudah ke pengadilan.

Banyaknya laporan pengaduan kasus dugaan malpraktek tentu saja mengkhawatirkan para dokter. Tentu saja tak semua dokter setuju dengan istilah malpraktek ini. Mantan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Kartono Mohamad, misalnya, menyatakan tidak semua kesalahan medis yang dilakukan dokter akan berujung sebagai kasus dugaan malpraktek. Malpraktek, kata Kartono, adalah istilah hukum untuk kasus kesalahan medis yang diadukan ke pengadilan.

Erna tak sependapat dengan Kartono. Menurut dia, seorang dokter diduga malpraktek jika salah mengambil tindakan medis. Tindakan pembiaran pun, kata Erna, dikategorikan malpraktek. “Dokter yang seharusnya melakukan sesuatu tapi tidak melakukannya, itu pun termasuk malpraktek. Atau sebaliknya, melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan,” tuturnya.

Erna sendiri menyatakan pihaknya tak pernah langsung menuduh seorang dokter melakukan malpraktek. Menurut dia, LBH lebih dulu akan meminta data rekaman medis untuk mengetahui apakah tindakan dokter sudah sesuai dengan standar atau belum. “Kami berkonsultasi dan meminta second opinion dari dokter lain berdasarkan rekaman medis itu,” katanya.

Ganjalannya: tak mudah mendapatkan rekaman medis. “Pihak rumah sakit enggan memberikan data dengan alasan milik rumah sakit,” kata Erna. Meminta second opinion dari dokter lain juga tak mudah. Karena itu, menurut Erna, perlu ada lembaga audit medis yang independen untuk memberikan pendapat mengenai rekaman medis itu.

Ketua Umum IDI, Farid Anfasa Moeloek, memandang masalah ini dari kurangnya komunikasi pasien dengan dokter. Farid mengakui, tindakan medis yang dilakukan dokter kadang tak sesuai dengan harapan pasien. Menurut dia, tindakan medis yang dilakukan dokter selalu mengandung risiko, dan tidak menjanjikan kesembuhan. “Ada tiga kemungkinan: kesembuhan, cacat, atau meninggal,” kata Farid kepada Edy Can dariTempo.

Tindakan medis yang dilakukan dokter, kata Farid, sudah ada prosedurnya. Jika pun ada dugaan malpraktek, majelis kode etik akan menanganinya, meminta klarifikasi tindakan yang dilakukan dokter tersebut. Namun, pasien tidak bisa mengetahui tindakan dokter itu sudah sesuai atau tidak. “Hanya majelis kode etik yang mengetahuinya,” kata Farid. Klarifikasi tindakan medis seorang dokter bisa dilakukan karena adanya pengaduan masyarakat, atau inisiatif IDI.

Bagi Marius Widjajarta, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI), kasus malpraktek timbul karena selama ini dokter tidak punya standar profesi. Sejak enam tahun silam pihaknya telah menuntut perlunya standar itu bagi profesi kedokteran dan tenaga kesehatan. “Bukan standar terhadap 200 jenis penyakit yang dibuat IDI, melainkan standar yang harus dibuat sekitar 30 perhimpunan dokter, mulai dari dokter bedah, penyakit dalam, kebidanan, dan sebagainya,” kata Marius.

Hubungan dokter dengan pasien pun menurut Marius adalah sederajat. “Karena itu, jika terjadi sesuatu, sah saja masyarakat mengatakan ini malpraktek. Sebab, aturan mainnya tidak ada,” katanya. Marius juga mengkritik dokter yang kerap mengelak dengan menyatakan tindakan medis yang diambilnya telah sesuai dengan SOP(standard operational procedure). Menurut dia, tak ada standar SOP di Indonesia karena, jika ada, masyarakat pasti mengetahuinya. “Kalau sekarang kan SOP-SOP-an. Rumah sakit yang satu berbeda SOP-nya dengan rumah sakit lain,” katanya.

Rancangan Undang-Undang Praktek Kedokteran, yang disahkan DPR September lalu, dinilai tidak memihak pada pasien. Marius melihat RUU Praktek Kedokteran hanya mengatur hulunya, dokternya, dan tidak melindungi pasien. “Padahal undang-undang itu seharusnya mencakup hulu, hilir, dan mudik,” katanya. Lantaran tak adanya standar profesi dan aturan hukum yang jelas inilah, menurut Marius, tidak bisa dibedakan antara malpraktek, kelalaian, dan kegagalan tindakan medis seorang dokter. “Dari sisi hukum, ini sulit, semua dianggap kecelakaan,” ujarnya.

TempoInteraktif.Com, Sukma N. Loppies, 11 Oktober 2004[25]

.

100 Kasus Dugaan Mal Praktek Terbengkalai

JAKARTA – Sedikitnya 100 kasus dugaan mal praktek tidak tertangani dengan baik oleh kepolisian. Bahkan hampir seluruh kasus gagal memenangkan gugatan pidananya.

“Kalau penanganan di perdata selalu menang, tapi kalau di pidana tidak sesuai yang diharapkan, karena tim penyidik hanya mendasarkan pada keterangan saksi ahli,” ujar Direktur LBH Kesehatan Sentot Sedayu Aji, saat mendampingi dua korban mal praktek di Polda Metro Jaya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (8/3/2008).

Saksi ahli, menurut Sentot, selalu berargumen para dokter telah melakukan tindakannya sesuai dengan SOP Kedokteran, sehingga kasus otomatis terhenti. “Mestinya tim penyidik meminta resume medis untuk dilakukan analisa, apa sudah masuk ke dalam pelanggaran kode etik kedokteran,” sesal Sentot.

Sementara itu, dua korban yang melaporkan dugaan mal praktek adalah keluarga Ibrahim Adenan, warga Jalan Kembang III/36 RT09 RW01, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat dan Martin, warga kompleks Setneg Blok A31 No 1 RT06 RW09, Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Keluarga Adenan menuntut RS Bunda Menteng yang dituding melakukan kekeliruan yang mengakibatkan anak dalam kandungan istrinya meninggal dalam kandungan. Sedangkan Martin kehilangan anaknya setelah menjalani dua kali operasi di RS Satya Negara.

“Katanya kekurangan cairan, ternyata paskaoperasi muncul benjolan dan akhirnya meninggal, padahal banyak biaya yang dikeluarkan untuk operasi, diagnosanya juga tidak jelas,” terang Sentot.

Dalam dua kasus tersebut, Sentot menuntut kedua rumah sakit dengan UU Praktek Kedokteran No 29/ 2004 pasal 51 jo 79c, serta pasal 359 KUHP atas tindakan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

news.okezone.com, Yuni Herlina Sinambela, 8 Maret 2008[26]

.

Dokter ”Kejar Setoran” Memicu Malpraktek

JAKARTA – Mata Murnawati berkaca-kaca menahan tangis. Walau sudah tiga tahun peristiwa itu berlalu, masih terlekat jelas bagaimana Oka, putrinya, kehilangan nyawa. Barangkali hati ibu setengah baya ini tak terlalu perih kalau kematian Oka normal-normal saja. Namun nyawa Oka melayang dalam usia begitu muda, 5,5 tahun, justru karena tindakan malpraktek dokter.

”Tiga orang dokter di sebuah rumah sakit anak terkemuka di Jakarta terlibat dalam malpraktek yang membuat anak saya meninggal. Padahal rumah sakit tersebut sudah menjadi langganan keluarga saya selama sepuluh tahun,” ungkap Murnawati kepada pers dalam acara peluncuran buku Sang Dokter di Jakarta baru-baru ini.

Oka yang demam disertai muntah-muntah selama satu malam tidak mendapat perawatan apa pun dari dokter di rumah sakit. Padahal Murnawati tidak kurang ”rewel” memohon agar dokter segera menangani putrinya.

”Dokter pertama hanya menuliskan resep tanpa menyentuh putri saya. Dokter kedua justru menegur saya yang tidak memberi minum, padahal anak saya selalu muntah tiap kali disuapi sesuatu. Dan dokter ketiga lagi-lagi cuma menjanjikan akan memberi resep, menyentuh anak saya pun tidak,” ujar perempuan ini dengan nada terisak. Baru setelah anaknya menghembuskan nafas terakhir, seluruh tim medis berdatangan.

Murnawati tidak diam saja terhadap peristiwa ini. Ia menghadap direktur rumah sakit dan mengadukan semuanya. Sang direktur berjanji akan menindak tegas dokter-dokternya. Tapi hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, ketiga dokter tersebut tetap bebas merdeka berpraktek di rumah sakit yang sama.
Ibu tiga anak ini tak patah semangat. Ia bahkan berani mengadu ke Menteri Kesehatan (Menkes) saat itu, Dr.FA. Moeloek. Namun sampai era Menkes saat ini, Ahmad Sujudi, kerja keras Murnawati belum mendapat titik cerah. Sekarang ibu ini tengah menunggu proses tuntutan terhadap ketiga dokter tersebut melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Ia tak tergoda dengan tawaran uang ganti rugi sebesar Rp10 juta dari rumah sakit. Tuntutan ganti rugi yang diajukannya Rp 1,5 miliar, tanpa bergeming sepeser pun.

Murnawati hanya salah satu dari warga masyarakat yang dirugikan oleh kesalahan ahli medis berprofesi dokter. Menurut Dr. Hendrawan Nadesul, dokter sekaligus kolomnis pemerhati masalah sosial, antara dokter dengan pasien ada satu jurang yang luar biasa dalam.

”Dari hari ke hari, dokter menjadi tambah pintar berkat makin banyaknya kasus dan pergaulan sesama dokter. Tapi di sisi lain pasien tak pernah bertambah pintar. Mereka adalah orang awam yang polos, lugu dan pasrah pada apa kata dokter,” papar Hendrawan yang banyak mengasuh rubrik konsultasi kesehatan di media massa ini.

Ibarat kata, kalau ada pertandingan antara tim dokter melawan tim pasien maka selamanya tim pasien tidak akan pernah bisa menang melawan. Kondisi memprihatinkan macam inilah yang kerap terjadi di Indonesia.

Memang tidak semua dokter berlaku sewenang-wenang terhadap pasien. Semua kembali pada tipe dokter macam apakah ia. Dr. Bahar Azwar, penulis buku Sang Dokter mengategorikan dokter di Indonesia ke dalam empat tipe.

”Pertama adalah dokter dengan jurus ”angin puyuh”, yakni terdapat di banyak klinik swasta. Rata-rata pasiennya 40-50 orang per hari. Ia buka praktik dari pukul 16.00 sampai pukul 22.00. Dikurangi waktu untuk acara makan ringan, sembahyang, berarti ia memberi waktu enam menit per pasien,” papar dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Siaga Raya, Jakarta ini pada kesempatan serupa.

Tipe kedua adalah dokter ”ban berjalan”. Bahar memberi contoh dokter kebidanan di sebuah rumah sakit swasta dengan pasien rata-rata 30 orang, sedangkan jam praktiknya hanya dua jam. Para pasien akan disuruh antri di beberapa tempat tidur sekaligus. Saat memeriksa tempat tidur pertama, pasien lain disuruh membuka baju, begitu seterusnya. Mirip dengan tipe ”angin puyuh”, dokter jenis ini harus cepat bertindak dan menekankan efisiensi.

Dokter ”memukul angin” adalah tipe ketiga. Di sini terjadi di mana sekali periksa, seorang dokter langsung memutuskan agar pasien dioperasi tanpa banyak perundingan dengan pasien atau keluarganya. Dan tipe terakhir adalah yang jarang ditemui di kota besar, yakni dokter ”amanah”. Biasanya dokter ini ada di desa-desa terpencil, di mana pasiennya tidak bisa membayar dengan uang nominal.
sinarharapan.co.id, Merry Magdalena, 2002 [27]

.

PERBANDINGAN PENGOBATAN MEDIS KONVENSIONAL DENGAN PENGOBATAN HOLISTIK MODERN

Andalan medis konvensional adalah obat-obatan kimia itu berarti KEKUATAN mereka terletak pada obat-obatan tersebut. Coba bayangkan apa yang terjadi jika semua obat-obatan kimia dan peralatan operasi di dunia ini tidak ada, apa yang terjadi pada mereka? Bisakah mereka mengatasi sakit penyakit tanpa obat-obatan dan peralatan operasi?

Jawabannya sudah pasti tidak bisa. Inilah yang semua orang tidak perhatikan dan tidak sadari bahwa para dokter medis konvensional tidak akan berkutik melawan penyakit tanpa obat-obatan kimia dan peralatan operasi.

Lain halnya dengan pengobatan holistik (baik yang tradisional maupun modern), kami tidak perlu obat-obatan kimia maupun peralatan operasi untuk mengatasi segala penyakit yang ada bahkan yang maut seperti misalnya kanker stadium 4, diabetes, stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, hepatitis, AIDS, lupus, dan lain-lainnya (silahkan Anda sebutkan nama-nama penyakit yang Anda pernah dengar sebelumnya).

Ya benar… tidak perlu. Saya berkata benar dan ini merupakan REALITA bukan teori belaka.

Untuk mempermudah Anda memahaminya, simaklah dengan seksama tabel perbandingan berikut:

Tabel Perbandingan Pengobatan Medis Konvensional dengan Pengobatan Holistik Modern

Pengobatan Medis Konvensional

Pengobatan Holistik Modern

Modern dan memakai teknologi canggih. Modern dan memakai teknologi canggih.
Ditunjang uji ilmiah, tapi kurang ditunjang kesaksian KESEMBUHAN pasien. Ditunjang uji ilmiah + ditunjang banyak kesaksian KESEMBUHAN pasien.(Inilah yang selalu tidak diperhatikan oleh masyarakat bahwa selain uji ilmiah, seharusnya ada bukti nyata dari kesaksian para pasien yang berhasil sembuh karena uji ilmiah bisa dimanipulasi, sedangkan realita tidak bisa dimanipulasi)
Uji ilmiah lebih banyak dilakukan di dalam laboratorium. Uji ilmiah dilakukan di dalam laboratorium dan di lapangan.(Perlu Anda sadari realita bahwa manusia tidak tinggal di dalam laboratorium, jadi diperlukan uji ilmiah di lapangan untuk menentukan validitas kebenaran suatu pengobatan. Habitat asli manusia bukan di dalam lab tapi di lingkungan bebas yang “penuh warna”).
Mengandalkan obat-obatan kimia dan operasi. Tidak mengandalkan obat-obatan kimia dan operasi.
Memandang penyakit dan kondisi manusia secara terpisah. Memandang penyakit dan kondisi manusia secara menyeluruh.
Lebih cenderung menekan gejala. Mengatasi akar penyakit dan gajalanya.
Sintetis atau tidak alami. Alami.
BANYAK memiliki efek samping. Bukan efek samping, tapi reaksi awal atau proses penyembuhan.
Mahal. Murah bahkan bisa gratis.
Hasil yang terlihat dalam mengurangi atau menghilangkan gejala penyakit cepat. Hasil yang terlihat dalam mengurangi atau menghilangkan gejala penyakit juga cepat bahkan DALAM KEBANYAKAN KASUS bisa lebih cepat lagi.
Mencemari lingkungan. Tidak mencemari lingkungan.
Pengobatan tidak aman dikonsumsi dalam jangka panjang, apalagi untuk seumur hidup. Pengobatan aman dikonsumsi dalam jangka panjang, apalagi untuk seumur hidup.

.

Sebagai bukti, coba Anda nyalakan TV Anda di Minggu pagi dan tonton acara “Sehat Ala Gus Muh” di TransTV. Para pasien yang berobat di sana akan memberikan kesaksian bahwa dulu sebelumnya mereka pernah mendapatkan pengobatan medis konvensional tapi tidak sembuh-sembuh juga. Tapi setelah mendapatkan terapi ala Gus Muh, mereka pun sembuh secara alami, singkat, dan murah tanpa operasi.

Hal yang sama juga dialami oleh para pasien-pasien di acara “sehat Bersama Akar Pinang” di Trans7.

Untuk bukti holistik modern, bisa Anda baca buku “The Miracle of Enzime” karya Dr. Hiromi Shinya (salah satu dokter holistik modern), yang mengobati pasien-pasiennya jauh lebih efektif dengan makanan.

Bukti-bukti lainnya yang adalah REALITA, bisa Anda temukan di rak-rak toko buku pengobatan alternatif yang menyodorkan kesaksian-kesaksian mereka yang sembuh dengan cara holistik (ditambah pernyataan para pasien bahwa sebelumnya mereka pernah mendapat perawatan medis tapi tidak sembuh-sembuh juga).

Bagi Anda yang “melek” internet, saya sarankan Anda juga mencari bukti via fasilitas Search Engine Google atau Yahoo. Di internet Anda akan mendapatkan BERJUTA-JUTA bukti kehebatan dan keefektifan sains holistik, ditambah dengan tunjangan bukti-bukti ilmiah. Ini semua adalah REALITA bukan sekedar pernyataan belaka. Inipun saya alami dalam kasus-kasus penyakit yang saya alami sendiri dan juga pasien-pasien saya.

Sekali lagi saya tekankan, ini adalah REALITA bukan sekedar PERNYATAAN ATAU TEORI BELAKA.

.

MEMANFAATKAN SUPLEMEN UNTUK MENYEMBUHKAN

Para praktisi holistik modern walaupun tidak mengandalkan obat-obatan kimia, tapi kami juga punya media penyembuh lainnya yang PRAKTIS yaitu SUPLEMEN. Ya benar… suplemen itu bisa dipakai untuk MENYEMBUHKAN, bukan sekedar sebagai makanan pelengkap atau sekedar menjaga tubuh supaya tetap sehat belaka.

Saya selalu menemukan “REALITA MENYEMBUHKAN” ini dalam kasus-kasus penyakit yang saya alami sendiri terlebih dalam kasus-kasus para pasien saya.

Jika Anda butuh bukti lain, silahkan Anda datang ke acara pertemuan MLM yang menjual suplemen kesehatan, maka Anda akan menemukan BANYAKNYA KESAKSIAN sebagai bukti bahwa konsumen mereka bisa SEMBUH hanya karena SUPLEMEN, tanpa obat-obatan kimia dan operasi. REALITA ini bertolak belakang dengan PERNYATAAN para ahli medis yang menyatakan bahwa suplemen itu tidak bisa menyembuhkan.

Dalam kesaksian-kesaksian tersebut ada banyak disebutkan bahwa mereka sebelumnya mendapatkan pengobatan medis konvensional tapi tidak sembuh-sembuh juga. Inilah bukti REALITA bahwa suplemen BISA JAUH MELEBIHI OBAT-OBATAN KIMIA DAN PERALATAN OPERASI, DENGAN TINGKAT EFEKTIFITAS TINGGI, AMAN TANPA EFEK SAMPING, ALAMI, CEPAT, DAN MURAH.

.

Antara Suplemen Natural dan Suplemen Sintetis

Anda perlu tahu bahwa suplemen itu ada dua jenis yaitu natural dan sintetis. Suplemen natural adalah hasil ekstraksi langsung dari sumber makanan yang mengandung unsur-unsur zat alami, seperti jaringan tubuh hewan, tumbuh-tumbuhan, madu, tanah liat, dan garam. Sedangkan yang sintetis umumnya merupakan rekayasa kimiawi dalam laboratorium.

Dalam praktek pengobatan, saya menyarankan Anda untuk memilih suplemen natural karena suplemen jenis ini mudah diserap oleh tubuh dan tidak perlu banyak enzim mineral untuk mencernanya. Dalam banyak kasus, suplemen natural jauh lebih efektif dan menyembuhkan dibandingkan sintetis.

.

Perbedaan Antara Efek Samping dengan Proses Penyembuhan

Kita semua perlu memahami adanya perbedaan antara efek samping dengan proses penyembuhan. Efek samping adalah suatu reaksi tubuh yang menolak terhadap pengobatan yang diberikan, dan ini biasanya diakibatkan oleh karena pengobatan sintetis atau kimia dimana unsur tidak alami ini dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh.

Sedangkan proses penyembuhan secara garis besar digolongkan menjadi 3, yaitu:

1.      Proses penyesuaian tubuh, dimana tubuh menyesuaikan sistem metabolisme untuk bisa memanfaatkan pengobatan yang diberikan. Reaksi yang mungkin muncul berbeda-beda pada tiap individu, misal: pusing, mual, sakit perut.

2.      Proses detoksifikasi, dimana tubuh mengeluarkan racun atau zat-zat berbahaya dari dalam tubuh ketika/setelah menerima pengobatan. Reaksi yang mungkin muncul: batuk-batuk, pilek, demam, gatal-gatal, borok, banyak mengeluarkan keringat, sering buang air kecil dan besar.

3.      Proses regenerasi, dimana setelah menerima pengobatan, tubuh menganti sel-sel lama dengan  sel-sel baru untuk memperbaiki sel, jaringan atau organ yang telah rusak. Reaksi yang mungkin muncul: rasa sakit pada bagian tubuh tertentu, kulit pecah-pecah, badan lemas, demam, dll.

Proses penyembuhan yang terkadang menimbulkan reaksi tidak nyaman di atas, harus dialami oleh tubuh supaya tubuh bisa mengalami kesembuhan. Jika Anda merasakan reaksi tidak mengenakkan setelah menggunakan pengobatan alternatif, dan kemudian Anda menghentikan pengobatan yang diberikan, itu sama saja dengan menghentikan proses penyembuhan.

Suatu reaksi bisa dkatakan merupakan suatu efek samping (tubuh menolak pengobatan yang diberikan) apabila setelah melewati 3 hari, kondisi penderita MAKIN BERTAMBAH PARAH pada saat pengobatan diteruskan. Reaksi-reaksi negatif ini biasanya terlihat langsung pada saat penderita mengonsumsi obat-obatan kimia yang tidak cocok dengan tubuh.

Lain halnya dengan reaksi “tidak nyaman” pada proses penyembuhan, tubuh akan merasa tidak nyaman pada awalnya, tapi kemudian tubuh menjadi makin membaik dan akhirnya sembuh total ketika meneruskan pengobatan yang diberikan. Reaksi-reaksi tidak nyaman ini TERKADANG (tidak selalu) muncul pada orang yang belum pernah atau belum biasa mengonsumsi suplemen yang memiliki kandungan gizi sangat tinggi.

Ingat! Jika Anda mengalami reaksi tidak nyaman seperti ini, kemudian menghentikan pengobatan, itu sama saja dengan menghentikan proses penyembuhan. Jadi teruskan pengobatan alami Anda supaya Anda bisa SEMBUH TOTAL. Tapi jika Anda tidak tahan dengan reaksi tidak nyaman yang ada, Anda bisa mengurangi setengah dari dosis sebelumnya.

Kini Anda sudah tahu rahasia kecil dari kedahsyatan terapi suplemen. Alami, murah, dan praktis tapi jauh lebih efektif dibandingkan obat-obatan kimia medis konvensional. Mari kita lanjutkan lagi pembahasan kontroversial kita.

.

SOP DAN STANDAR ILMIAH HOLISTIK MODERN LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN MEDIS KONVENSIONAL

Medis konvensional BIASA MEMBERIKAN KLAIM bahwa mereka jauh lebih baik karena ada penelitian, SOP, dan juga “evidence based science”, dibandingkan dengan pengobatan alternatif. Pengobatan alternatif atau juga holistik, mereka katakan tidak memiliki dasar penelitian dan ilmiah yang kuat.

Nah, ini adalah suatu kebohongan dari komunitas medis konvensional karena holistik tradisional maupun modern telah memiliki banyak penelitian, SOP, dan “evidence based science” yang jauh lebih baik karena TIDAK DIMANIPULASI DEMI KEUNTUNGAN.

Saat ini pasien tidak memiliki ekspetasi tinggi terhadap alternatif dan holistik itu dikarenakan pengaruh cuci otak atau “brain wash” allopathy yang mensosialisasikan bahwa pengobatan alternatif itu adalah pengobatan “di bawah” allopathy dan tidak lebih baik daripada allopathy, jadi untuk apa berekspektasi tinggi kepada alternatif?!?

Sangat disayangkan sosialisasi yang diberikan oleh komunitas kedokteran medis konvensional dan media masa tentang HIV/AIDS, flu burung dan flu babi, tentang diabetes, tentang kanker, dan sebagainya banyak memiliki kesalahan ilmu ilmiah. Komunitas kedokteran medis konvensional menganggap bahwa AIDS dan diabetes belum bisa disembuhkan. Komunitas ini sepertinya telah menutup mata ketika melihat bahwa pengobatan alternatif ataupun holistik modern telah berkali-kali berhasil menyembuhkan AIDS dan diabetes dengan mudahnya.

Disamping itu, STANDAR pengobatan komunitas kedokteran medis konvensional menolak untuk merubah standar pengobatan mereka yang telah terbukti GAGAL, untuk belajar dari pengobatan tradisional bahkan dari para ILMUWAN holistik, dengan dalil bahwa “pengobatan alternatif atau holistik masih kurang uji ilmiah-nya”.

Benarkah pengobatan alternatif atau holistik masih kurang uji ilmiah-nya? Pernyataan ini tidaklah benar. Itu hanya dalil komunitas kedokteran medis konvensional saja, padahal penelitian yang bersifat holistik telah SANGAT banyak dilakukan dan hasilnya telah mendukung kebenaran ilmu holistik mengenai berbagai macam penyakit.

Manakah bukti bahwa holistik modern banyak memiliki dasar-dasar ilmiah yang telah diuji dalam berbagai penelitian? Gampang. Jelajahilah internet dan Anda akan menemukan jutaan artikel-artikel ilmiah tentang kemanjuran alam ciptaan Tuhan dan juga keefektifan holistik dalam menyembuhkan berbagai penyakit.

Salah satu contoh uji ilmiah yang mendukung holistik adalah penelitian tentang khasiat jahe dalam memerangi kanker, seperti yang terpapar pada artikel berikut:

.

Jahe Menyebabkan Sel Kanker Rahim Mati

Jahe biasanya dikenal bermanfaat untuk mengurangi rasa mual dan mengendalikan peradangan. Namun para peneliti di University of Michigan Comprehensive Cancer Center menyelidiki manfaat baru dari jahe yaitu untuk mengobati kanker rahim.

Dalam studi laboratorium, para peneliti menemukan jahe bisa menyebabkan sel kanker rahim mati. Lebih lanjut lagi, cara sel kanker tersebut mati memperlihatkan bahwa jahe bisa menghindarkan masalah umum sel kanker rahim yang biasanya makin kebal terhadap perawatan secara konvensional.

Para peneliti mulai memperkenalkan hasil temuan mereka di dalam suatu sesi pertemuan tahunan American Association for Cancer Research.

Para peneliti menggunakan bubuk jahe, serupa dengan dijual pada toko-toko sembako, sebagai standar penelitian mereka. Bubuk jahe telah dilarutkan dalam air dan diberikan pada sel kanker rahim. Jahe memicu kematian sel di semua bentuk sel kanker rahim yang diuji.

Lebih dari itu, para peneliti menemukan bahwa jahe menyebabkan dua jenis kematian sel. Satu jenis, dikenal sebagai apoptosis, suatu proses yang menyebabkan sel kanker melakukan tindakan bunuh diri. Jenis kematian sel lainnya disebut autophagy, menyebabkan sel memakan atau menyerang diri sendiri (sesama sel kanker).

“Kebanyakan rahim para pasien kanker mengembangkan penyakit yang sering kumat karena reaksi penolakan alami terhadap pemberian kemoterapi baku akan apoptosis. Jika jahe dapat menyebabkan kematian sel autophagic sebagai tambahan terhadap apoptosis, ini bisa digunakan sebagai pengganti perawatan kemoterapi konvensional,” kata pengarang studi J. Rebecca Liu, M.D., Profesor Asisten obstetrics and gynecology di U-M Medical School dan anggota dari U-M Comprehensive Cancer Center.

Hasil studi ini baru awal, dan para peneliti merencanakan untuk menguji apakah mereka dapat memperoleh hasil serupa pada hewan percobaan. Penelitian pada jahe sebagai perawatan potensial untuk kanker rahim juga memperlihatkan jahe tidak memiliki efek samping dan mudah dikemas dalam bentuk kapsul.

Jahe efektif dalam mengendalikan peradangan apalagi peradangan yang menyebabkan berkembangnya sel kanker rahim. Dengan menghentikan reaksi peradangan, para peneliti menduga, jahe juga akan menghentikan sel kanker untuk bertumbuh.

“Dalam berbagai bentuk sel kanker rahim, kami menemukan bahwa jahe menyebabkan kematian sel kanker serupa atau lebih baik dibandingkan obat kemoterapi yang biasanya diterapkan untuk merawat sel kanker rahim,” ujar Jennifer Rhode, M.D., seorang gynecologic oncology di U-M Medical School.

Laboratorium Liu juga meneliti efek-efek yang terjadi pada kanker rahim oleh karena resveratrol, yaitu suatu zat yang ada pada anggur merah, dan curcumin, bahan aktif dalam golongan rempah-rempah. Sebagai tambahan, para peneliti di U-M Comprehensive Cancer Centerjuga menyelidiki jahe untuk mengendalikan rasa mual dari efek kemoterapi dan juga untuk mencegah kanker usus.

“Pasien menggunakan produk-produk alami baik sebagai pengganti atau digunakan bersamaan dengan kemoterapi, dan kita tidak mengetahui jika mereka manjur atau bagaimana mereka manjur. Kita tidak mengetahui bagaimana produk-produk ini berinteraksi dengan kemoterapi atau perawatan kanker lainnya. Tidak ada data klinis yang baik,” ujar Liu. Oleh karena itulah penelitian ini diadakan.

medicalnewstoday.com, 9 April 2006 [28]

.

.

WEBSITE HOLISTIK PALING BANYAK DIKUNJUNGI OLEH PARA “NETTER” DISELURUH DUNIA

Untuk melihat artikel-artikel lainnya yang memuat kehebatan penyembuhan holistik dan laporan-laporan uji ilmiahnya, Anda bisa mengaksesnya di internet.

Berikut adalah 25 website kesehatan holistik paling banyak dikunjungi oleh para “netter” diseluruh dunia berdasarkan kategori Alexa.com. Anda bisa mengaksesnya untuk membuktikan sendiri kata-kata saya bahwa holistic memiliki standar ilmiah dan SOP lebih tinggi dibandingkan medis konvensional. Di sini Anda akan menemukan banyak “evidence based science” yang jauh lebih kredibel (karena didukung dengan “buah” yang baik) dibandingkan medis konvensional.

Website Holistik Paling Banyak Dikunjungi [29]

Nama Website

URL

1. Dr. Mercola www.mercola.com
2. Prevention www.prevention.com
3. Mothering www.mothering.com
4. Health A to Z www.healthatoz.com
5. Dr. Weil www.drweil.com
6. LEF www.lef.org
7. Gary Craig’s EFT www.emofree.com
8. Weston A. Price Foundation www.westonaprice.org
9. Dr. Chopra www.chopra.com
10. Chet Day www.chetday.com
11. HSI Baltimore www.hsibaltimore.com
12. Health World Online www.healthy.net
13. Dr. Mirkin www.drmirkin.com
14. Seek Wellness www.seekwellness.com
15. Shirley’s Wellness Cafe www.shirleys-wellness-cafe.com
16. ChiroWeb www.chiroweb.com
17. True Star Health www.truestarhealth.com
18. Dr. Whitaker www.drwhitaker.com
19. Consumer Lab www.consumerlab.com
20. Dr. D’Adamo www.dadamo.com
21. Dr. Stoll www.askwaltstollmd.com
22. Gary Null www.garynull.com
23. Holistic Healing www.holisticmed.com
24. Whole Health MD www.wholehealthmd.com
25. Charming Health www.charminghealth.com

.

.

STOP KEJAHATAN MEDIS KONVENSIONAL SEKARANG JUGA!

Saya rasa, penjelasan panjang lebar di bab ini cukup memberikan gambaran jelas mengenai holistik dan sisi “gelap” medis konvensional. Semuanya memberikan alasan untuk supaya praktisi holistik modern berdiri membela kedaulatan Tuhan yang diinjak-injak oleh dunia medis konvensional yang selalu:

  1. Merendahkan Tuhan dengan slogan nonverbal-nya: “obat buatan kami lebih baik dibandingkan alam ciptaan Tuhan. Jangan percaya dengan herbal dan alam yang belum diuji klinis.” Itulah sebabnya sampai sekarang orang lebih percaya dokter dibandingkan praktisi holistik, datang ke dokter dulu baru ke holistik. Cara kerja manusia diutamakan, sedangkan cara kerja Tuhan dikesampingkan atau jadi urutan paling akhir.
  2. Menyebarkan kebohongan bahwa obat konvensional jauh lebih aman dibandingkan alam, padahal terbukti bahwa obat kimia memiliki lebih banyak efek samping dibandingkan alam.
  3. Mencemari dan merusak alam (air, tanah, hewan, tumbuhan, dan tubuh kita) ciptaan Tuhan dengan cara memproduksi, “memaksa” mengkonsumsi, dan membuangnya di air, tanah, hewan, tumbuhan, dan tubuh kita.
  4. Menyesatkan publik dengan pandangan bahwa penelitian (yang adalah cara kerja manusia) adalah bukti nomer satu untuk menetapkan kebenaran dibandingkan fakta sehari-hari dan sejarah (yang adalah cara kerja Tuhan untuk menyatakan suatu kebenaran). Penelitian itu BISA DIMANIPULASI, sedangkan fakta sehari-hari dan sejarah tidak bisa. Penelitian paling utama dipakai untuk MENJELASKAN suatu hal atau kebenaran, BUKAN SEBAGAI BUKTI UTAMA akan suatu hal atau kebenaran.
  5. Dengan malprakteknya telah membunuh jutaan orang dalam setahun diseluruh dunia, MELEBIHI kasus kecelakaan, perang, pembunuhan, dan bencana alam!

Yang kami tentang bukanlah dokternya, tapi sistem medis konvensional mereka. Beberapa dari mereka yang memiliki hati yang baik dan memiliki pikiran terbuka, mau belajar dari pengobatan holistik dan memakai alam. Akhirnya dokter-dokter ini beralih menjadi dokter holistik. Untuk mereka yang berpaling ke holistik, saya ucapkan selamat, karena mereka telah memilih jalan yang benar dan terbaik. Selamat bergabung di dunia pengobatan holistik!

ARV, kemoterapi, mamografi, obat kimia, dan standar pengobatan medis konvensional lainnya bukanlah pengobatan yang terbaik, malahan pembawa petaka dalam jangka panjang. Dari 100% obat-obatan kimia di dunia ini, hanya 2% saja yang aman dan bermanfaat. 98% lainnya lebih membawa kerugian dibandingkan manfaat, bahkan merusak alam dan tubuh kita.

Ada banyak ilmu kesehatan modern di dunia ini yang lebih baik daripada medis konvensional. Jika kita cukup rasional, buat apa kita memilih yang buruk padahal ada yang JAUH LEBIH BAIK.

Jika ada pengobatan yang JAUH LEBIH BAIK asli dari Tuhan, mengapa Anda memakai pengobatan kimia murni buatan manusia?!

Pilihlah penyembuhan holistik bukannya medis konvensional!

.

Salam Healindonesia!

Dt. Awan (Andreas Hermawan)

.

.

Referensi:

[1] http://www.gentle-angel-lessons.com/holistic-history.html

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Holism

[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Allopathic_medicine

[5] http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2003/06/18/drug-industry-part-six.aspx

[6] http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2005/12/17/medicalisation-.aspx

[7] http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2002/03/23/drug-companies-part-five.aspx

[8] http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2008/04/19/shocking-facts-about-the-pharmaceutical-industry.aspx

[9] http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2008/07/05/researchers-take-drug-company-pay-then-lie-about-it.aspx

[10] http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=PubMed&list_uids=10904513&dopt=Abstract

[11] http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2000/07/30/doctors-death-part-one.aspx

[12] http://drugsafety.adisonline.com/pt/re/drs/abstract.00002018-200730080-00003.htm;jsessionid=GclVpXQppbZ15GYdNTgqbJTLbJy4JDxQr6ppSLs8yWPwjyTPZc2F%21-933386751%21181195628%218091%21-1

[13] http://www.reuters.com/article/healthNews/idUSCOL86315820070828?feedType=RSS&feedName=healthNews

[14] http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2007/08/24/AR2007082401714.html?nav=rss_health

[15] http://jama.ama-assn.org/cgi/content/short/296/15/1858

[16] http://www.webmd.com/content/article/128/117147?src=RSS_PUBLIC

[17] http://science.the-environmentalist.org/2008/03/prescription-drugs-found-in-drinking.html

[18] http://edition.cnn.com/2008/HEALTH/03/10/pharma.water1/index.html

[19] http://topics.nytimes.com/top/reference/timestopics/organizations/u/united_states_geological_survey/index.html?inline=nyt-org

[20] http://healindonesia.wordpress.com/2008/08/07/%E2%80%9Cgaram%E2%80%9D-yang-menyehatkan/

[21] http://healindonesia.wordpress.com/tag/malpraktek/

[22] http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2462&Itemid=2

[23] http://72.14.235.132/search?q=cache:zOPYQXEQbg8J:www.aidsindonesia.or.id/index2.php%3Foption%3Dcom_content%26do_pdf%3D1%26id%3D2869+Jumlah+kasus+AIDS+indonesia&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id&client=firefox-a

[24] http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/18/19332998/1.085.kasus.hivaids.tercatat.di.bali

[25] http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2004/10/11/HK/mbm.20041011.HK92553.id.html

[26] http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/03/08/1/89926/100-kasus-dugaan-mal-praktek-terbengkalai

[27] http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2002/093/kes4.html

[28] http://www.medicalnewstoday.com/articles/41021.php

[29] http://www.mercola.com/forms/rankings.htm

5450 Total Views 52 Views Today