Penahanan Pasien Oleh Rumah Sakit Bukan Tanggung-jawab Depkes

TEMPO Interaktif, Jakarta: Tertahannya pasien oleh pihak rumah sakit lantaran tidak dapat membayar biaya pengobatan, menurut Menteri Kesehatan Ahmad Suyudi adalah murni masalah antara pasien dan rumah sakit itu. “Jika rumah sakit sampai menahan pasien karena tidak dapat membayar biaya pengobatan, rumah sakit sendiri yang rugi. Tapi, semuanya kembali pada perjanjian antara pasien dan rumah sakit,” kata Sujudi di Jakarta, Kamis (16/9).


Persoalan itu, kata Sujudi, bukanlah tanggung-jawab Departemen Kesehatan. “Biasanya, pihak kesehatan Pemerintah Daerah DKI Jakarta yang menanganinya,” kata Sujudi.


Sementara itu, pihak Rumah Sakit Siloam Gleaneagles Karawaci, Tangerang -seperti diberitakan sebelumnya, melakukan penahanan pasien- membantah adanya sandera pasien. Menurut Jessy Quantero, Direktur Utama Healt Care selaku pengelola RS Siloam, pasien bernama Leonardus, 53 tahun, memang merupakan pasien yang sudah lama dirawat di rumah sakit itu. “Pasien itu memang pasien nakal dan tidak punya etikat baik,” kata Jessy kepada Tempo.


Leonardus, kata Jessy, mulai masuk dan dirawat di RS Siloam sejak 16 Agustus 2004 dengan kondisi cukup parah, karena sudah banyak komplikasi. Pihak rumah sakit pun sudah meminta komitmen pasien seputar kesanggupan membayar biaya pengobatan, karena pihak tempat Leonardus bekerja tidak mau menanggung biaya pengobatan Leonardus. “Pasien menyatakan sanggup untuk membayar sendiri, dan kami menjalankan kewajiban untuk merawatnya,” kata Jessy.


Alhasil, kondisi Leonardus membaik, dan Leonardus berencana pulang. Tapi ketika pihak rumah sakit menagih biaya pengobatan, Leonardus justru mengaku disandera rumah sakit. “Mahalnya biaya perawatan selama sebulan dan operasi yang harus dibayar, membuat Leonardus kalap dan takut. Ia tidak bisa pulang sebelum menyelesaikan semua Adminisrtasi sebesar Rp. 45 Juta,” kata Jessy.


Menurut Jessy, pihaknya sudah mendahulukan nilai-nilai kemanusiaan dengan tidak menagih secara rutin semua biaya dan mendahulukan pengobatan. Tapi kemudian, nyonya Leni -isteri Leonardus- melaporkan RS Siloam ke Kepolisian Daerah Metro Jaya, karena suaminya disandera rumah sakit itu. “Walau Leonardus sudah membuat kami malu, kami tetap akan menyelesaikan masalah ini dengan cara baik-baik,” kata Jessy.


Sebelum dilaporkan ke kepolisian, kata Jessy, pihaknya sudah mendapatkan kesepakatan dengan Leonardus: Leonardus akan membayar tagihan dengan mencicil Rp. 3 juta per bulan. “Tapi ketika ditangani LBH Kesehatan, kesepakatan itu langsung berubah dengan tawaran mencicil Rp. 100 ribu per bulan,” kata Jessy lagi.


Joniansyah, RR Ariyani – Tempo, Kamis, 16 September 2004

 

 

Referensi: http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2004/09/16/brk,20040916-40,id.html

Register New Account
Reset Password

Lihat panduan!

KONSULTASI GRATIS

Konsultasikan permasalahan kesehatan Anda dengan cara klik DI SINI.

Konsultasi!