100 Kasus Dugaan Mal Praktek Terbengkalai

 

JAKARTA – Sedikitnya 100 kasus dugaan mal praktek tidak tertangani dengan baik oleh kepolisian. Bahkan hampir seluruh kasus gagal memenangkan gugatan pidananya.

“Kalau penanganan di perdata selalu menang, tapi kalau di pidana tidak sesuai yang diharapkan, karena tim penyidik hanya mendasarkan pada keterangan saksi ahli,” ujar Direktur LBH Kesehatan Sentot Sedayu Aji, saat mendampingi dua korban mal praktek di Polda Metro Jaya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (8/3/2008).

Saksi ahli, menurut Sentot, selalu berargumen para dokter telah melakukan tindakannya sesuai dengan SOP Kedokteran, sehingga kasus otomatis terhenti. “Mestinya tim penyidik meminta resume medis untuk dilakukan analisa, apa sudah masuk ke dalam pelanggaran kode etik kedokteran,” sesal Sentot.

Sementara itu, dua korban yang melaporkan dugaan mal praktek adalah keluarga Ibrahim Adenan, warga Jalan Kembang III/36 RT09 RW01, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat dan Martin, warga kompleks Setneg Blok A31 No 1 RT06 RW09, Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Keluarga Adenan menuntut RS Bunda Menteng yang dituding melakukan kekeliruan yang mengakibatkan anak dalam kandungan istrinya meninggal dalam kandungan. Sedangkan Martin kehilangan anaknya setelah menjalani dua kali operasi di RS Satya Negara.

“Katanya kekurangan cairan, ternyata paskaoperasi muncul benjolan dan akhirnya meninggal, padahal banyak biaya yang dikeluarkan untuk operasi, diagnosanya juga tidak jelas,” terang Sentot.

Dalam dua kasus tersebut, Sentot menuntut kedua rumah sakit dengan UU Praktek Kedokteran No 29/ 2004 pasal 51 jo 79c, serta pasal 359 KUHP atas tindakan yang mengakibatkan korban meninggal dunia. (pie)

Yuni Herlina Sinambela – Okezone, Sabtu, 8 Maret 2008

 

Referensi: http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/03/08/1/89926/100-kasus-dugaan-mal-praktek-terbengkalai

 

Buat Akun Baru
Reset Password