RSCM Usir Pasien Miskin

 

Naik Ojek ke LBH, Bawa Kateter dan Kardus

JAKARTA, KAMIS – Rumah  Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Salemba, Jakarta Pusat, mengusir sekitar 30-an pasien peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jankesmas) dan keluarganya, Rabu (16/7). Pengusiran itu membuat para pasien yang sebagian besar berasal dari luar Jakarta terlunta-lunta.

Para pasien Jankesmas tersebut antara lain adalah pengidap tumor, ginjal, dan katarak. Mereka berasal dari luar Jakarta, seperti Palembang, Lampung, Sukabumi, Indramayu, Serang, Bogor, dan Depok. Para pasien tersebut dirujuk ke RSCM dari rumah sakit setempat.

Sejumlah pasien dan keluarga pasien mengaku sudah sekitar dua bulan berada di RSCM dan tinggal di ruangan kosong di Lantai 1 Gedung Irna B. Mereka bertahan di tempat itu karena mereka tak mungkin mondar-mandir ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan maupun pengobatan di RSCM.

Namun, pada Rabu sekitar pukul 10.00, dua petugas satgam dan karyawan RSCM mendatangi “ruang penampungan” tersebut. Mereka menyuruh 30 pasien Jankesmas dan keluarganya meninggalkan ruangan itu. Pihak RSCM beralasan, Gedung Irna B termasuk “ruang penampungan” akan direnovasi. Namun, pihak RSCM tidak memberi jalan keluar bagi pasien dan keluarga pasien Jankesmas tersebut.

Dindin (40), keluarga pasien, mengatakan, dirinya menempati ruangan kosong itu karena tak punya pilihan lain. Dindin adalah kerabat Fatimah (50), penderita katarak asal Lohbener, Indramayu, yang sejak sebulan lalu menjalani rawat jalan di RSCM.

Menurut Dindin, Fatimah menjalani rawat jalan karena tak mendapat kamar di RSCM. Pihak rumah sakit, kata Dindin, berdalih, ruangan penuh dan jumlah perawat tidak cukup untuk mengurusi pasien Jankesmas. “Kami terpaksa berobat jalan dan menginap di Lantai 1 Irna B karena kalau bolak-balik ke kampung biayanya besar,” paparnya.

Menurut Dindin, tak ada kerabat di Jakarta yang rumahnya bisa dia tumpangi. Di RSCM, ada tempat khusus bagi keluarga pasien dari luar kota maupun pasien rawat jalan dari luar kota. Tempat itu adalah Rumah Singgah di lingkungan RSCM dengan tarif Rp 15.000 per hari. Dindin mengaku tak punya uang untuk menyewa kamar di  Rumah Singgah.

“Duit dari mana untuk menyewa Rumah Singgah, kami berobat ke RSCM supaya memperoleh pengobatan yang biayanya ringan,” kata Dindin.

Dindin menambahkan, ruangan kosong di lantai itu jadi pilihan terakhir. Selain Dindin dan Fatimah, sejumlah pasien Jankesmas dan keluarganya juga tinggal di ruangan tersebut. Mereka tidur di lantai beralaskan tikar dan berselimutkan sarung. “Untuk mandi dan buang air kami melakukannya di kamar mandi yang ada di lantai itu,” ujarnya.

Menurut dindin, di ruangan itu pula pasien dan keluarga pasien menyimpan kardus-kardus dan tas berisi pakaian maupun bahan makanan. Seorang pasien pria yang dipasangi kateter menggunakan baskom untuk menampung cairan yang keluar lewat selang kateter.

Siti Hanifah (48), penderita tumor di perut, telah 23 hari tinggal di RSCM ketika kemarin pagi diusir petugas satpam. Selama di Jakarta, Siti ditemani suaminya, Darsono (51). Pasangan petani asal Lampung Timur tersebut merupakan pasien rujukan dari RS Abdoel Moeloek, Bandar Lampung.

“Saya dan istri ke RSCM atas rujukan dokter RS Abdoel Moeloek. Tetapi, sampai di sini dokter cuma me-rontgen perut istri saya dan memberi obat batuk. Sampai sekarang juga nggak ada kabar lanjutan dan kapan operasi dilakukan,” keluh Darsono.

Seperti Dindin, Darsono bertahan di Jakarta karena tak punya uang untuk mondar-mandir Jakarta-Lampung. Darsono bahkan bertekad pantang pulang sebelum sang istri sembuh. “Untuk keperluan sehari-hari selama di RSCM saya sudah habis sekitar Rp 1 juta,” kata ayah enam anak tersebut.

Menurut Dindin, dia dan beberapa keluarga pasien Jankesmas pernah menemui staf Humas RSCM untuk meminta diberi ruangan yang memadai. “Tapi jawabannya tidak bisa karena seluruh ruangan sudah penuh,” ujarnya. Padahal, kata Dindin, sejumlah keluarga pasien Jankesmas mendapati beberapa ruang di gedung Irna A kosong.

 

Mengungsi

Ketika diusir petugas RSCM, para pasien Jankesmas dan keluarganya mengungsi ke kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta yang berjarak sekitar 200 meter dari RSCM. Mereka membawa serta barang-barang milik mereka yang diwadahi kardus maupun tas. Sebagian pasien mengungsi ke kantor LBH dengan ojek.

Di kantor LBH, sejumlah keluarga pasien membuat pengaduan tertulis. “Kami berharap LBH Jakarta akan membantu kami menyelesaikan masalah kami. LBH Jakarta membolehkan kami untuk menginap sekitar satu minggu di lantai satu gedung LBH Jakarta,” ujar Dindin.

Pengacara Publik LBH Jakarta, Febi Yonesta, mengatakan, pengusiran para pasien Jankesmas oleh RSCM akan diadukan ke Komnas HAM. Selain itu, kata Febi, pihaknya akan mengirimkan surat ke RSCM untuk menanyakan jalan keluar terbaik atas masalah tersebut. “Upaya kesehatan tidak hanya penyembuhan saja, tetapi juga pemulihan. Kalau mereka tidak memperoleh ruang dan pengobatan yang baik, bagaimana mereka bisa sembuh?” katanya.

Secara terpisah, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia dr Marius Widjayarta mengatakan, peristiwa yang terjadi di RSCM pada Rabu pagi itu harus dilihat dengan jernih. Perlu dicari tahu dulu, apakah para pasien itu telah menjalani rawat inap atau belum. “Jika para pasien itu belum menjalani rawat inap, maka tidak tepat jika RSCM disalahkan,” katanya semalam.

Namun, jika yang terjadi adalah pasien yang menjalani perawatan (rawat inap) diusir, maka RSCM telah bertindak salah. “Saya juga akan memprotes keras jika pasien yang telah dirawat diusir dari rumah sakit,” ujar Marius.

Marius menambahkan, jika peristiwa itu terjadi karena kekurangan ruangan, maka yang perlu diperbaiki adalah sistem rujukan. Pasalnya, selama ini RSCM merupakan pusat rujukan dari seluruh rumah sakit di Indonesia. Padahal, kapasitas RSCM terbatas. “Seharusnya rumah sakit daerah tidak selalu merujuk ke RSCM, bisa juga ke rumah sakit lain di Jakarta,” katanya.

 

Untuk kelas 1

Kepala Humas RSCM Poniwati mengatakan, pihaknya tidak mengusir para pasien Jankesmas maupun keluarganya. Yang terjadi, katanya, RSCM akan merenovasi Gedung Irna B menjadi Ruang Internasional Wing yang dikhususkan untuk pasien kelas 1. Dengan demikian, ruangan yang ditempati para pasien Jankesmas tersebut harus dikosongkan.

Poniwati juga mengatakan bahwa RSCM memberlakukan larangan keluarga pasien menginap di rumah sakit. “Saat ini kami telah mengubah sistem pelayanan, yaitu dengan melarang keluarga pasien menginap di rumah sakit, kecuali bagi pasien yang sakit parah,” ujarnya.

Mengenai keluhan pasien Jankesmas yang tidak mendapat ruang rawat inap, Poniwati menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena ruang rawat inap di RSCM yang berkapasitas 800 pasien penuh. Demikian juga yang teradi di Rumah Singgah. Menurut Poniwati, kapasitas Rumah Singgah hanya 84 kamar. (Warta Kota/get) Kamis, 17 Juli 2008

 

Referensi: http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/17/09171811/rscm.usir.pasien.miskin

Tags:

Register New Account
Reset Password

KONSULTASI GRATIS

Konsultasikan permasalahan kesehatan Anda dengan cara klik DI SINI.

Konsultasi!