MAKANAN DAUR ULANG BISA MENYEBABKAN KEMATIAN

 

Jakarta: Sisa limbah makanan yang diolah kembali, biasanya mengandung bahan kimia berbahaya, seperti formalin dan zat pewarna yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Bahkan, bisa mengakibatkan kematian. Demikian pendapat dokter Marius Wijajarta, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) di Jakarta, hari ini. Marius menanggapi temuan Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat soal beredarnya makanan dari limbah.

Marius mengatakan, pemberian bahan kimia dilakukan para pelaku untuk mempertahankan bentuk dan warna segar pada makanan. Padahal, formalin yang dikonsumsi dalam jangka pendek dapat menyebabkan keracunan dan pada jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Sedangkan zat pewarna tekstil dalam makanan dapat menyebabkan kerusakan otak, bahkan kematian.

Karena itu, Marius meminta pemerintah agar tegas menindak pelaku penyalahgunaan bahan kimia pada makanan, sehingga tidak merugikan masyarakat. Selain itu, masyarakat juga harus lebih kritis dalam membeli dan memilih makanan olahan untuk memenuhi gizi keluarga.

Kasus ini menyeruak setelah kemarin, tim Sudin Peternakan dan Perikanan Jakbar menemukan tempat pengolahan daging sisa hotel dan restoran di kawasan Kapukjagal, Cengkareng. Makanan daur ulang itu dijual bebas di sejumlah pasar tradisional di kawasan Jakbar. Makanan daur ulang ini cukup diminati karena harganya murah. Makanan tersebut dijual antara Rp 3.000 hingga Rp 8.000 per plastik.

Makanan ini berawal dari sampah basah hotel dan restoran yang dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diletakkan dalam tempat sampah ataupun kontainer sampah hotel. Pada malam hari, sampah-sampah tersebut kemudian diambil petugas kebersihan. Petugas kebersihan lalu membawa sampah sisa hotel dan restoran ke tempat penampungan sampah. Di tempat penampungan sampah inilah, pemulung mengorek kantong plastik dan memisahkan sisa daging sapi, daging ayam, sisa sosis dan sisa bakso.

Sisa daging hotel dan restoran ini lalu dikumpulkan dan dijual ke pengepul. Daging sisa tersebut dikumpulkan pengepul untuk dijual ke pengolah seharga Rp 75 ribu hingga Rp 125 ribu per kantong plastik. Pengolah kemudian mencuci dengan formalin sisa daging, bakso dan sosis.

Bahan-bahan tersebut kemudian direbus dan digoreng, lalu diberi pewarna, dikemas dan siap diedarkan ke pasar-pasar tradisional untuk bisa dijual ke konsumen. Makanan daur ulang ini banyak diminati masyarakat karena harganya murah. Makanan jenis ini dijual seharga Rp 3.000 hingga Rp 8.000 per kantong plastik.(DEN)

Metrotvnews.com, Jum’at, 12 September 2008

 

Referensi: http://metrotvnews.com/new/berita.asp?id=66487

Register New Account
Reset Password

Lihat panduan!

KONSULTASI GRATIS

Konsultasikan permasalahan kesehatan Anda dengan cara klik DI SINI.

Konsultasi!