Waspadalah, Obat-obatan Mencemari Air Kita!

Sejumlah antibiotik, antidepresan, anti-convulsant dan hormon seks telah ditemukan di air minum sepanjang Amerika dalam hasil 5 bulan investigasi oleh  Associated Press (AP).

Dalam pemeriksaan selama 5 bulan, AP menemukan obat-obatan terdeteksi di suplai air minum dari 24 area utama metropolitan, mulai dari Kalifornia Selatan sampai ke New Jersey Utara, dari Detroit, Michigan, ke  Louisville, Kentucky.

Konsentrasi obat-obatan ini kecil, dengan ukuran sepermiliar atau sepertrilyun, jauh dari level dosis medis. Selain itu pejabat menekankan bahwa air mereka masih aman.

Tapi keberadaan dari begitu banyaknya obat-obatan seperti misalnya acetaminophen dan ibuprofen – ada di air minum meningkatkan kekhawatiran di antara para ilmuwan akan konsukuensi jangka panjang bagi kesehatan manusia.

Tidak ada peraturan pemerintah untuk menguji obat-obatan ini di air minum. Salah satu contoh, Philadelphia, jejak 56 obat-obatan berbeda telah ditemukan di air keran. Ini meliputi obat-obatan yang telah disebutkan di atas, obat anti kolesterol dan juga pil-pil lainnya yang orang Amerika biasa konsumsi.

Sebagaimana perusahaan air (termasuk perusahaan air minum kemasan) dan pejabat tidak secara rutin menyaring bahan-bahan kimia ini, ini berarti obat-obatan kembali lagi ke sistem perairan melalui pipa saluran, mengikuti pemrosesan ulang air kotor dari sumber manusia.

Kita mengambil obat-obatan dan kemudian membuangnya yang akhirnya masuk ke saluran air kota yang dipakai untuk memproduksi air minum, dimana jejak obat-obatan kimia tadi kembali ke tubuh kita karena proses penyaringan air tidak bisa menyaring bersih jejak obat-obatan.

Beberapa laporan dari AP:

  • Pejabat di Philadelphia, Pennsylvania, mengatakan pengujian air di sana telah menemukan 56 jenis obat di air minum, diantaranya adalah obat untuk penghilang rasa  sakit, infeksi, kolesterol, asma, epilepsy, depresi, dan jantung. Terdapat enam puluh tiga jenis obat ditemukan di penampungan air kota.
  • Obat epilepsy dan depresi telah terdeteksi di air minum untuk 18,5 juta jiwa di Kalifornia Selatan.
  • Para peneliti U.S. Geological Survey menganalisa tempat penampungan air minum Passaic Valley Water Commission, yang menyediakan air bagi 850.000 orang di New Jersey Utara, telah menemukan obat untuk angina dan obat depresi carbamazepine di air minum.
  • Hormon seks telah terdeteksi di air minum San Francisco, Kalifornia.
  • Air minum untuk Washington, D.C., dan sekitarnya telah terdeteksi positif tercemar 6 jenis obat-obatan.

Hasil laporan AP telah membuktikan bahwa air kemasan dan sistem penyaringan air dalam rumah tidak bisa menghindari pencemaran ini karena sistem yang ada tidak bisa menyaringnya. Tidak juga dengan sumur atau air tanah dalam. Laporan tersebut juga menambahkan bahwa pencemaran telah terdeteksi di Asia, Australia, Kanada dan Eropa, danau-danau Swiss dan Laut Utara.

Perlu diadakan penelitian lainnya untuk meneliti dampak dari jejak obat-obatan, tapi dengan kekhawatiran yang ada akan pengaruh obat dirupsi endokrin, ini cukup untuk membuat kita mengerti akan pengaruhnya bagi penampungan air dan diri kita sendiri dan diperlukan langkah mendesak untuk mengatasinya.

SCIENCE ON THE ENVIRONMENTALIST, 10 Maret 2008

Referensi:

http://science.the-environmentalist.org/2008/03/prescription-drugs-found-in-drinking.html

http://edition.cnn.com/2008/HEALTH/03/10/pharma.water1/index.html

KOMENTAR AWAN

Artikel-artikel seperti ini bisa banyak kita temukan di Amerika karena mereka selalu mengadakan penelitian-penelitian yang meneliti lingkungan mereka. Sungguh disayangkan, saya tidak mendapati hasil temuan seperti ini di Indonesia kita tercinta. Tidak ada publikasi seperti ini, bisa disebabkan oleh beberapa kemungkinan:

  • Belum ada yang meneliti pengaruh obat-obatan terhadap lingkungan karena tidak ada yang peduli.
  • Sudah ada yang meneliti tapi tidak dipublikasikan karena tidak ditemukan pencemaran.
  • Sudah ada yang meneliti tapi tidak dipublikasikan karena ditekan oleh pihak-pihak tertentu yang akan dirugikan.
  • Dan lain-lain.

Artikel di atas telah menunjukkan kepada kita bahwa Amerika yang adalah negara lebih maju dibandingkan Indonesia dalam hal teknologi dan kesehatan, ternyata bisa “kecolongan” juga terhadap ancaman pencemaran air dari obat-obatan. Penampungan air mereka ternyata tidak sanggup menyaring limbah obat-obatan! Bagaimana dengan di Indonesia?!

Inilah yang para ilmuwan pecinta linkungan telah cemaskan lama sejak meningkatnya produksi obat di dunia secara besar-besaran. Masyarakat awam tidak mengetahui efek negatif jangka panjang dari obat-obatan kimia.

Indonesia Kita Sedang Sekarat!

Berton-ton produk sintetis seperti sabun, shampoo, deterjen, pestisida, pengawet, kosmetik, dan obat-obatan telah dibuang ke tanah dan air kita Indonesia. Mudah dibayangkan apa yang akan terjadi 50 tahun kemudian di Indonesia jika kita tidak mengambil langkah bijaksana: Kita akan kehilangan air bersih kita yang sangat berharga.

Air merupakan komoditi yang sangat berharga dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita. Apa jadinya ekonomi, pariwisata, keagamaan, sosial, industri, dan kesehatan jika tanpa air bersih? Jawabannya hanyalah berupa hal-hal yang negatif: kemerosotan, kemunduran, bencana, penyakit, masalah, kehausan, dan masih banyak lagi lainnya.

Telah terbukti di Amerika dan belahan negara lainnya bahwa obat-obatan selain memiliki efek samping negatif bagi tubuh kita, ternyata juga memiliki efek negatif bagi lingkungan.

Tim United States Geological Survey telah menemukan “ikan bass dengan kelamin ganda” di Sungai Potomac dan sekitarnya. Ikan tersebut walaupun jantan ternyata memiliki telur.

Bagaimana jadinya jika hal seperti ini ditemukan di Indonesia? Mungkin bukan hanya pada ikan, tapi bagaimana halnya dengan hewan piaraan dan ternak yang meminum air tercemar ini? Apa yang terjadi dengan tanaman disekitar air yang tercemar? Bagaimana hasil panennya? Apakah aman untuk dikonsumsi padahal tanaman tersebut menyerap obat-obatan kimia?

Di tahun 1999, seorang gadis berusia 17 tahun bersekolah di SMA West Virginia, Ashley Mulroy, membaca laporan di suatu majalah ilmiah yang memberitakan bagaimana para ilmuwan Eropa telah menemukan “berbagai macam obat-obatan, termasuk antibiotik, ikut mengalir di sungai, selokan, air tanah, bahkan di air keran.” Setelah membacanya, dia memutuskan untuk melakukan penelitian ilmiah atas inisiatif sendiri. Selama 10 minggu, Ashley dan ibunya berkendara melintasi sepanjang Sungai Ohio, mengambil sampel air dari sisi-sisi sungai berbeda. Dia membawa pulang sampel tersebut dan didapati ada 3 antibiotik pada sampel air:  penicillin, tetracycline dan vancomycin.

Dia terkejut karena ternyata dia juga menemukan ketiga antibiotik ini pada semua sampel air yang dia ambil. Ashley kemudian mengambil sampel pada air keran di tiga kota terdekat. Ternyata ketiganya, termasuk air dari sumber air minum di sekolahnya, telah tercemar antibiotik.  Ashley pun akhirnya menerima beberapa penghargaan proyek ilmiah, dan yang lebih penting, dia telah membuka mata banyak para ilmuwan Amerika Serikat.

Jika Anda seorang mahasiswa, tidak ada salahnya berinisiatif melakukan penelitian ilmiah seperti yang telah dilakukan Ashley dan siapa tahu, Anda bisa mendapatkan penghargaan atau nilai bagus. Namun lebih dari itu, penelitian Anda akan membuka mata kita semua akan efek negatif obat-obatan kimia terhadap lingkungan terutama air.

Ketika kita memproduksi obat-obatan kimia, mengkonsumsinya, dan membuangnya, kita tanpa menyadarinya telah merusak lingkungan dan diri sendiri. Dalam jangka panjang, tanpa sadar kita mewarisi kerusakan, penderitaan, dan penyakit pada anak-cucu kita sendiri.

Apakah ini yang Anda inginkan?

Saya percaya hati nurani Anda pasti berkata TIDAK.

 

Enam Pertanyaan “Menggigit” untuk Direnungkan Dokter dan Perusahaan Obat

Enam pertanyaan ini saya utarakan dengan tujuan untuk membuka mata hati dan “logika” para dokter konvensional dan juga para produsen obat-obatan kimia. Jika Anda seorang dokter konvensional atau produsen obat kimia, silahkan menjawab enam pertanyaan ini. Tiap jawaban Anda adalah cerminan dari siapa Anda, apa yang Anda percayai, bagaimana moral Anda, dan masa depan apa yang akan Anda miliki serta berikan bagi Indonesia yang ber-Pancasila.

  1. Mana yang lebih manjur: Alam ciptaan Tuhan atau obat-obatan kimia buatan manusia?
  2. Apa yang terjadi jika Anda memberikan anak Anda obat antidepresan dan obat anti maag tiga kali setiap hari dalam setahun dibandingkan dengan Anda memberikan minyak ikan scott dan Virgin Coconut Oil tiga kali sehari dalam setahun? Semuanya berfungsi untuk menenangkan pikiran dan anti peradangan pada perut, tapi manakah yang Anda pilih untuk kesehatan anak Anda yang tercinta?
  3. Apa yang terjadi 50 tahun kemudian jika kita membuang berton-ton obat-obatan kimia ke tanah dan air kita, dibandingkan dengan jika kita membuang berton-ton suplemen VCO, klorofil, minyak ikan, dan suplemen-suplemen lainnya ke tanah dan air kita?
  4. Manakah yang paling banyak terjadi kasus malpraktek: Perawatan oleh dokter konvensional atau perawatan oleh praktisi holistik?
  5. Manakah yang lebih banyak memiliki efek samping negatif terhadap tubuh: obat-obatan kimia atau alam ciptaan Tuhan?
  6. Manakah yang paling banyak mengalirkan uang pada Anda: obat-obatan kimia atau alam ciptaan Tuhan?

Semoga keenam pertanyaan di atas bukan hanya membuka mata hati dan “logika” para dokter konvensional dan para produsen obat-obatan kimia, tapi juga semua lapisan masyarakat Indonesia.

Produsen obat-obatan kimia berkata, “Tapi bukankah kami mengolah alam?”

Benarkah memproduksi obat-obatan kimia adalah tindakan mengolah alam? Tidak. Yang benar adalah merusak alam. Hanya pembuatan suplemen saja yang merupakan mengolah alam. Perbedaannya sungguh besar karena pembuatan suplemen tidak merusak “rancangan” Tuhan atas materi asal yang dijadikan suplemen. Unsur alam yang ada telah memiliki fungsi atau manfaat yang telah ditentukan Tuhan sebelumnya dan tinggal kita yang memanfaatkan alam tersebut sesuai dengan yang “dimaksudkan” Tuhan untuk kebaikan kita.

Contoh mengolah alam adalah pemanfaatan khasiat kelapa dengan membuat suplemen Virgin Coconut Oil, pemanfaatan khasiat omega-3 pada minyak ikan dengan ekstrak minyak ikan, pembuatan suplemen klorofil, pembuatan ekstrak bawang putih, dan sebagainya.

Lain halnya dengan obat-obatan yang dibuat oleh manusia dengan cara pemisahan unsur molekul dari molekul aslinya (yang sebenarnya “menyeimbangkan”) sehingga “rancangan awal Tuhan” atas molekul tersebut jadi hilang.

Contoh merusak alam dari molekul asli yang sebenarnya untuk “menyeimbangkan” adalah pembuatan garam meja yang digembor-gemborkan mengandung yodium yang baik untuk kesehatan ternyata adalah garam berbahaya yang telah dipecah dari unsur garam aslinya. Garam yodium malah terbukti menyebabkan hipertensi sedangkan garam laut asli yang “kita jauhi” ternyata diciptakan oleh Tuhan untuk penyedap rasa yang nikmat dan baik untuk meyembuhkan berbagai masalah kesehatan.

Tindakan seperti ini sama saja dengan mengulangi sejarah awal kejatuhan manusia oleh Adam dan Hawa, ketika manusia ingin menjadi seperti Tuhan. Tindakan menggantikan alam ciptaan Tuhan dengan obat-obatan kimia dan lebih percaya pada cara manusia, sama saja dengan berkata (dalam tindakan, bukan dalam kata-kata), “Tuhan, saya lebih percaya dengan cara saya sendiri dibandingkan caramu dan ciptaanmu. Caramu kuno Tuhan.”

Ada banyak laporan-laporan ilmiah yang membeberkan tentang malpraktek dan kesalahan-kesalahan di dunia medis saya publikasikan di Healindonesia. Jika Anda melakukan pencarian pada Search Engine Google, akan Anda dapati beribu-ribu jurnal ilmiah yang mempublikasikan permasalahan ini. Bukti-bukti dan fakta sejarah telah ada di depan mata kita!

 

Benarkah Cara Tuhan Kuno?

Seratus persen tidak? Kami praktisi holistik modern telah mendapati bahwa penyembuhan yang tidak sekedar “back to nature” (kembali ke alam) tapi lebih dari itu, yaitu penyembuhan dengan “back to God’s design” (kembali ke rancangan Tuhan) membuat proses kesembuhan atas semua jenis penyakit adalah mungkin dan terjadi dalam jangka waktu yang sangat singkat.

Dalam holistik modern, kami memanfaatkan teknologi untuk mengelola dan meneliti alam. Alam telah dirancang sedemikian rupa oleh Pencipta dan sains kami terus-menerus berusaha untuk mengungkapkan rahasianya bagi kesehatan dan keseimbangan alam.

Lain halnya dengan pengobatan medis konvensional, obat-obatan medis lebih bersifat merawat bukannya meyembuhkan. Selain itu, obat-obatan medis juga lebih bersifat menekan gejala, bukannya menyembuhkan akar penyakit.

Perbedaan Holistik Modern dengan Medis Konvensional

Mengapa yang diajarkan di holistik modern begitu berbeda dengan yang diajarkan di medis konvensional?

Di dunia ini ada dua jenis ilmuwan, yaitu ilmuwan yang melakukan penelitian oleh karena dibayar dan satunya lagi adalah ilmuwan yang melakukan penelitian karena motivasi murni atau karena “atas nama pengetahuan”.

Pengetahuan holistik modern bersumber dari para ilmuwan jenis kedua sedangkan medis konvensional kebanyakan (tidak semua) bersumber dari para ilmuwan jenis pertama yang dibayar oleh perusahaan-perusahaan obat (termasuk juga perusahaan rokok!!!). Jadi mudah untuk mengetahui, manakah yang benar-benar memberikan pengetahuan yang murni dan benar pada kita, tanpa manipulasi untuk mendatangkan keuntungan.

Dalam ilmu matematika, jika kita telah salah menghitung dari awal, maka hasil perhitungan berikutnya juga akan salah. Itulah yang terjadi pada dunia medis konvensional, kesalahan telah dibuat dari sejak awal dan jutaan jiwa melayang sia-sia karena penerapan pengetahuan yang salah ini.

Anda bisa mengklik dan membaca beberapa artikel di bawah ini yang menunjukkan “kejahatan dunia medis” di sekitar kita.

Saya mencintai bangsa Indonesia dan saya tahu, “kejahatan dunia medis” sekarang ini telah merampok bangsa saya dan mengakibatkan melayangnya jutaan jiwa di antara saudara-saudari kita tercinta. Saya tidak bisa tinggal diam dengan kenyataan ini dan oleh karena itulah saya membuat weblog Healindonesia yang kontroversial.

Apa Ini Berarti Kita Tidak Memerlukan Obat?

Ini tergantung situasi dan diri kita sendiri. Jika Anda awam akan kesehatan, Anda masih memerlukan obat-obatan kimia tersebut. Obat-obatan medis telah mempengaruhi seluruh dunia dan adalah mustahil untuk bisa lepas 100% darinya. Tapi ada yang bisa kita lakukan bersama-sama secara pribadi, yaitu berangsur-angsur “back to God’s design”, memakai alam lebih banyak dibandingkan medis dan mulai berkata tidak pada obat-obatan kimia.

Lakukanlah ini mulai dari diri sendiri dan saat ini juga. Percayalah pada alam ciptaan Tuhan dan rancanganNya, maka kita akan menciptakan dunia yang lebih baik untuk diri sendiri dan anak-cucu kita.

Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana jika AIDS tanpa obat ARV, kanker tanpa kemoterapi, diabetes tanpa insulin dan obat-obatannya, infeksi tanpa antibiotik, dan masih banyak lagi lainnya?

Jangan khawatir, Tuhan telah menyediakan obat alami untuk mengatasi semua jenis penyakit di dunia ini termasuk AIDS. Holistik modern bisa jadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi, bahkan dengan proses penyembuhan yang singkat dan aman.

Artikel ini sangat kontroversial tapi alasan saya menulisnya adalah karena saya tahu apa yang akan terjadi pada Indonesia jika kita saling “cuek” dan tidak ada yang memulai untuk berjuang mengungkapkan kebenaran. Jutaan nyawa akan melayang setiap tahunnya karena ketidaktahuan. Jutaan tangis akan terdengar disekitar kita dan kita pun akan kehilangan alam Indonesia yang asri dan permai ini.

Ingatlah dengan 6 pertanyaan “menggigit” tadi dan renungkanlah! Kita bisa menilai apakah sesuatu itu baik atau buruk adalah dari buah yang dihasilkannya.

Semoga artikel ini bisa membuka mata hati dan pikiran kita semua, serta membantu kita dalam mengambil keputusan yang menentukan masa depan apakah yang akan kita miliki nanti.

“Knowledge is power and the truth will set us free.” Pengetahuan adalah kekuatan dan kebenaran akan membebaskan kita.

Jangan biarkan informasi yang Anda dapat stop sampai di diri Anda saja. Gerakkan jari Anda dan sebarkan artikel ini ke orang-orang yang Anda kenal untuk bersama-sama kita sembuhkan Indonesia!

Buat Akun Baru
Reset Password