Kenali Gejala Penyakit DBD dan Pencegahannya

Bagi Anda yang tinggal di kawasan endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) harus mengetahui gejala penyakit ini, tujuannya agar bisa memberi pertolongan sedini mungkin. Dengan cara demikian, banyak nyawa yang akan terselamatkan. 


Gejala dan Tindakan Pencegahan bagi Anda dan Keluarga Anda

Kenalilah gejala-gejalanya sejak dini. Berikut adalah beberapa diantaranya:
• Demam tinggi mendadak.
• Sakit kepala yang hebat (para pakar medis mengatakan bahwa aspirin hendaknya dihindari karena dapat memperhebat pendarahan).
• Nyeri di balik mata.
• Nyeri pada persendian dan otot.
• Pembengkakan kelenjar getah bening.
• Bercak-bercak merah.
• Kelelahan.

Gejala yang lebih spesifik untuk DBD:
• Ambruk mendadak.
• Pendarahan kulit.
• Pendarahan secara umum.
• Kulit dingin dan berkeringat dingin.
• Gelisah.
• Renjatan dengan denyut nadi lemah (Dengue Shock Syndrome, atau DSS).

Jangan pernah menunda untuk pergi ke dokter jika terlihat gejala tersebut diatas terlebih lagi anak-anak yang lebih banyak berreksiko.

Kiat-kiat bagi orang yang bepergian ke daerah tropis yang terinfeksi DBD:
• Kenakan lengan panjang dan celana panjang.
• Gunakan obat antinyamuk.
• Jauhi daerah yang sangat padat penduduk.
• Tinggalah di penginapan yang jendelanya dapat ditutup dan jagalah agar nyamuk tidak masuk.
• Jika sepulangnya Anda mengalami demam, segera beri tahu dokter kemana Anda telah berpergian.

Salah satu pembawa utama dengue adalah nyamuk Aedes Aegypti. Species ini umum di daerah tropis dan subtropis di seputar dunia. Jenis nyamuk ini berkembang pesat di daerah yang padat penduduk. Salah satu kunci untuk mengendalikan penyakit ini adalah dengan cara mengendalikan nyamuk-nyamuk tersebut.

Untuk menghindari perkembangbiakan nyamuk tersebut di lingkungan rumah anda, jangan biarkan ada genangan air. Terutama pada ban-ban bekas, di bawah pot bunga, kaleng-kaleng, ember, drum, botol dan aliran air yang tidak berfungsi dengan baik.

Beberapa peneliti telah mencoba pendekatan lain. Melalui rekayasa genetika, mereka berupaya untuk mencegah virus dengue menggandakan diri dalam air liur nyamuk. 

Jika ini berjalan sesuai rencana, nyamuk-nyamuk yang telah mengalami rekayasa genetika semacam itu akan meneruskan kepada keturunan mereka ketahanan terhadap dengue. Meskipun ada kemajuan, tetapi belum terlihat seberapa berhasil pendekatan ini nantinya.

IndoFamilyHealth, 14 October 2008

 

KOMENTAR AWAN

Penyakit yang satu ini memang cukup meresahkan masyarakat karena bisa mewabah dan mengakibatkan kematian. Kita memang harus memberi perhatian khusus untuk permasalahan ini. Kita sudah melakukan banyak tindakan pencegahan seperti yang tertulis pada artikel di atas, tapi ada satu hal yang juga tidak kalah pentingnya dalam tindakan pencegahan yaitu menjaga daya tahan tubuh tetap optimal.

Tahukah Anda bahwa tubuh kita telah dirancang Tuhan untuk memiliki ketahanan terhadap DBD? Dalam kondisi sistem imun yang optimal, tiap dari kita akan kebal terhadap resiko DBD. Saya sendiri berulangkali digigit oleh nyamuk DBD, tapi tidak bermasalah atasnya. Itulah sebabnya walaupun dikatakan wabah, penderita DBD masih bisa dihitung dengan jari, karena tidak semua orang yang digigit oleh nyamuk-nyamuk tersebut terjangkit DBD.

 

Fogging, Tindakan Merusak dalam Mengatasi DBD

Satu tindakan yang SANGAT SALAH dan MERUSAK dalam mengatasi DBD adalah fogging. Fogging sangat tidak efektif, merusak ekosistem, dan juga tidak baik bagi kesehatan manusia itu sendiri. Saya sendiri pernah keracunan asap fogging pada saat kondisi saya lemah karena kelelahan.

Jika dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu, cukup susah bagi kita untuk menemukan berbagai jenis belalang, kupu-kupu, kumbang, lebah dan serangga lainnya di taman, kebun, halaman dan sawah. Mengapa demikian? Ini tidak lain disebabkan oleh karena efek dari fogging. Asap fogging tidak hanya membunuh semua jenis nyamuk, tapi juga membunuh serangga dan mahluk hidup lain seperti misalnya siput, ulat, dan hewan kecil lainnya.

Jika kita terus menerapkan kebijakan fogging, kita akan kehilangan hewan-hewan yang indah dan berharga di Indonesia kita tercinta. Lingkungan kita akan berbeda tanpa kehadiran mereka. Inikah yang ingin kita wariskan pada anak cucu kita?

Jadi dalam hal ini saya sangat tidak setuju dengan kebijakan pemerintah untuk menggalakkan fogging. Saya harap pemerintah menghapus kebijakan fogging dan mulai menerapkan kebijakan lain, terlebih lagi kebijakan memberikan pendidikan pada masyarakat dalam hal:

  • Mengenal DBD.
  • Mengetahui tindakan pencegahan dari luar (seperti yang tertulis pada artikel di atas).
  • Mengetahui tindakan pencegahan dari dalam (meningkatkan sistem imun).

Apa yang kita tabur itulah yang kita tuai. Jika kita sering menabur kebiasaan yang membuat kita beresiko terkena DBD kita tidak perlu menyalahkan lainnya jika kita sakit. Tindakan pencegahan dan mengatasi DBD adalah TANGUNG JAWAB PRIBADI dan bersama. Tapi jangan sampai tindakan pencegahan itu malah merugikan lainnya, seperti misalnya fogging.

Register New Account
Reset Password

KONSULTASI GRATIS

Konsultasikan permasalahan kesehatan Anda dengan cara klik DI SINI.

Konsultasi!