Mitos AIDS Sekitar Viral Load dan Sel T

Ada Apa dengan Viral Load?

Satu masalah serius dengan hipotesis HIV/AIDS adalah para peneliti tidak sanggup menemukan cukup HIV (virus aktual) pada orang-orang yang positif HIV untuk bisa menjelaskan adanya suatu masalah kesehatan. Bahkan diantara para pasien yang paling parah gejala AIDS-nya, HIV tidak pernah bisa terdeteksi secara kuantitas (jumlah aktual) sehingga bisa menyebabkan habisnya sel-sel kekebalan tubuh.135

Supaya benar-benar membahayakan, suatu virus harus menginfeksi setidaknya sepertiga dari semua sel-sel target, dimana pada kasus AIDS yaitu sel T dari sistem imun yang menjadi targetnya, kemudian menghancurkan sel T ini dengan cepat sebelum sel T tersebut diganti lagi dengan yang baru. Sebagai contoh, hepatitis atau demam dan flu biasa, virus penyebab penyakit bersangkutan bisa ditemukan dalam kuantitas dengan ukuran jutaan atau miliaran per milliliter (mL) darah, dan tidak ada yang sanggup menghentikan virus tersebut menginfeksi semua sel dalam tubuh kecuali imunitas antiviral. Pada kasus AIDS, rata-rata hanya ditemukan 10 HIV per mL dalam darah, dan tanda normal imunitas antiviral serta antibody yang ada, dianggap sebagai tanda-tanda bahwa orang itu sakit.136

Ketidakkonsistenan lainnya mengenai pernyataan bahwa HIV merupakan penyebab AIDS adalah HIV tidak bisa meracuni dan membunuh sel (non-cytotoxic). Ini berarti ketika HIV bereplikasi, ia tidak membunuh sel inang. Virus lainnya yang menyebabkan penyakit merupakan penghancur sel (cytotoxic). Mereka menghancurkan sel yang mereka infeksi ketika mereka hendak bereproduksi dan dengan cepat menyerang 30-60% sel target lainnya. Ketika pernyataan HIV penyebab AIDS diterima sebagai fakta di tahun 1984, para peneliti AIDS telah mengemukakan sejumlah hipotesis mengenai kemampuan HIV dalam menimbulkan kerusakan sel secara rinci tapi masih belum bisa membuktikan mekanismenya dan tidak bisa menjelaskan bagaimana suatu virus yang non-cytotoxic sanggup melenyapkan sel T dan menyebabkan AIDS.

Hampir selama satu decade, dugaan laten (ada tapi tidak terlihat tanda-tandanya) digunakan untuk membenarkan beberapa pernyataan yang berlawanan mengenai AIDS. Para ahli mengklaim bahwa HIV merupakan virus lambat yang tetap tidak aktif atau laten selama beberapa waktu tertentu sebelum akhirnya ia menjadi aktif dan menghancurkan sel-sel imun. Pernyataan ini diterima oleh semua orang tanpa menghiraukan fakta bahwa kuantitas HIV aktual yang aktif tidak ditemukan bahkan pada penderita AIDS dengan gejala akut. 137

Benang putus pada hipotesis AIDS akhirnya “dianggap” telah tersambung di tahun 1995 dengan 2 laporan hasil penelitian dari satu tim peneliti AIDS yang dipimpin oleh Dr. David Ho dari Aaron Diamond Research Center, dan Dr. George Shaw dari University of Alabama. Ho dan Shaw menawarkan penjelasan yang mereka sebut sebagai bukti tak terbantahkan bahwa HIV telah aktif sejak terjadinya infeksi dan hadir dalam kuantitas yang cukup untuk menimbulkan kehancuran sel T secara besar-besaran. 138 Mereka mengklaim telah menemukan rata-rata lebih dari 100.000 HIV per mL dalam darah para pasien AIDS dengan menggunakan metode perhitungan virus berdasarkan teknologi baru Polymerase Chain Reaction (PCR).

Laporan mereka menyatakan bahwa HIV selalu ada dan aktif dalam kuantitas (jumlah) yang sangat banyak, tapi kehadiran dan keaktifannya tidak bisa diukur dengan cara standar, dan para ilmuwan tersebut mencari-cari kesalahan sebagai tolak ukurnya. Sampai tahun 1995, metode untuk menemukan dan menentukan jumlah suatu virus adalah dengan cara mengisolasi virus bersangkutan. Metode yang langsung dan sederhana ini telah sukses diterapkan ke setiap virus kecuali HIV. Sebagai gantinya, penganjur hipotesis viral load menyarankan para ilmuwan untuk mencari fragmen materi genetik ketimbang mengisolasi virus HIV.

PCR adalah suatu teknik inovatif yang membuat para ilmuwan bisa mengambil sampel darah yang mengandung sejumlah molekul DNA atau RNA yang tak terdeteksi dan mendeteksi kuantitas fragmen dari molekul aslinya. Majalah Forbes menjabarkan PCR sebagai “versi bioteknologi dari mesin photo copy Xerox.”   Dr. Kary Mullis, yang memenangkan Penghargaan Nobel untuk penemuan yang revolusioner ini menjelaskan bahwa, “PCR memungkinkan kita untuk mengidentiikasi sebuah jarum dalam tumpukan jerami dengan cara mengubah jarum menjadi tumpukan jerami.” 139 Sementara PCR telah menyediakan suatu alat baru yang efektif bagi dunia ilmu pengetahuan dan industri, penerapannya kepada penelitian AIDS malah justru menyesatkan ketimbang bermanfaat.

Ho dan para peneliti lainnya menerapkan PCR untuk mencari, bukan HIV, tapi fragmen RNA, yaitu materi genetik pada inti virus. Menggunakan logika bahwa tiap partikel virus HIV mengandung dua RNA HIV, mereka mengasumsikan bahwa tiap dua potongan RNA yang terindikasi oleh PCR pasti berhubungan dengan satu partikel virus HIV, dan mereka menyebut penghitungan dari hasil test tersebut sebagai “viral load”.

Viral load telah dielu-elukan oleh media massa sebagai terobosan mutakhir dalam penelitian AIDS dan telah memenangkan berbagai penghargaan bagi Dr. David Ho termasuk penghargaan Man of the Year tahun 1996 dari majalah Time. Viral load juga menjadi ukuran dimana obat baru AIDS dianggap efektif. Protease inhibitor diijinkan dipakai sebagai obat berdasarkan semata-mata pada kemampuannya “yang dianggap” bisa mengurangi viral load. Media massa, organisasi-organisasi AIDS, dan kebanyakan dokter-dokter AIDS menerima begitu saja hipotesis viral load sebagai fakta.

Berdasarkan hipotesis viral load, miliaran HIV sibuk menginfeksi sel-sel T CD4 tiap harinya dari awal seseorang terinfeksi, dan pembunuh sel imun (sel-sel T CD8) terus menerus menghancurkan miliaran sel CD4 yang terinfeksi, sementara CD4 baru yang tidak terinfeksi  dengan cepat juga mengganti sel-sel mati yang ada.  140 Kemudian, sesudah satu sampai 15 tahun dalam peperangan mikroskopik ini, virus HIV akhirnya menang atas sistem imun sehingga menimbulkan gejala penyakit AIDS. Para penganjur hipotesis viral load mengklaim bahwa alasan aktivitas menakjubkan ini tidak pernah diketahui sebelumnya adalah karena CD4 bereplikasi dengan sangat cepat, sehingga hanya sedikit HIV yang menginfeksi sel T bisa sampai terlacak oleh test pengukuran. 140

Namun bagaimanapun juga, hipotesis viral load gagal untuk menjawab dua pertanyaan penting: Jika memang ada miliaran HIV, mengapa PCR penting digunakan untuk menemukan mereka? Dan jika PCR adalah satu-satunya cara untuk mendeteksi HIV, bagaimana mungkin ini memungkinkan para ilmuwan untuk memverifikasi hasil dari PCR?

Masalah lainnya dengan viral load adalah bahwa PCR mendeteksi dan menggandakan gen tunggal, dan seringkali hanya fragmen dari suatu gen. Ketika ia mendeteksi 2 atau 3 fragmen genetika dari kemungkinan lusinan gen lengkap, ini bukanlah bukti adanya keberadaan semua gen atau genome lengkap (adanya partikel virus HIV lengkap) 141 Lebih jauh lagi, seseorang dapat membawa segenap genome retroviral dalam sel-sel tubuh seumur hidup mereka tanpa menghasilkan satu virus sedikitpun.

FDA belum menyetujui viral load PCR untuk pengujian HIV atau untuk tujuan diagnosis. CDC mengakui bahwa spesifitas dan sensitifitas dari PCR masih “belum diketahui” dan bahwa “PCR tidak direkomendasikan dan tidak terlisensi untuk tujuan diagnosis rutin.” 142 Para pembuat test viral load memperingatkan bahwa “ test ini tidak dimaksudkan untuk digunakan sebagai test penyaring untuk HIV atau sebagai test diagnosis untuk mengkonfirmasi keberadaan HIV…” 143

Walaupun tidak ada penelitian yang secara spesifik mempelajari test PCR pada orang-orang yang HIV negatif, literatur medis mencatat banyak insiden mendeteksi adanya level viral load pada orang-orang yang HIV negatif. 144

Satu group para peneliti AIDS dari Johns Hopkins School of Public Health menyayangkan atas ketidakakuratan viral load PCR dan mendeskripsikannya sebagai test yang tidak masuk akal dan mahal ketika beberapa peneliti memverifikasi PCR telah memberikan hasil yang berlawanan. 145 Suatu laporan data dari penguji AIDS, Dr. David Rasnick, yang dipublikasikan dalam Journal of Biological Chemistry, mendemonstrasikan bahwa setidaknya  99.8% dari hasil pengukuran test viral menunjukkan partikel virus tidak berbahaya, dan menekankan bahwa PCR seharusnya diganti oleh suatu test yang bisa mengukur adanya HIV aktual dalam plasma darah. 146

Walaupun test viral load PCR tidak bisa membedakan mana virus berbahaya dan mana fragmen genetika tak berbahaya, juga tidak bisa mengukur virus aktual dan tidak disetujui jika digunakan sebagai alat diagnosa, test tersebut tetap saja digunakan oleh para dokter AIDS tiap harinya untuk mendiagnosa infeksi HIV dan dipakai sebagai dasar pemberian resep protease inhibitor jangka panjang, kompenen kemoterapi seperti AZT, obat antibiotik keras, dan obat-obatan lainnya. PCR dengan rutin digunakan untuk mendiagnosis infeksi HIV pada bayi baru lahir dan sebagai pembenaran akan perawatan bayi dengan menggunakan AZT, Bactrim, dan bahan kimia keras lainnya.

Pengukuran PCR tidak berhubungan dengan jumlah sel T, gejala klinis AIDS, atau dengan tingkatan co-kultur HIV. 147 Dalam penelitian yang membandingkan hasil-hasil viral load dengan deteksi HIV lewat co-kultur, suatu metode pendeteksian yang masih kurang tepat dibandingkan isolasi aktual, 53% dari pasien positif AIDS dengan level viral load terdeteksi, kebanyakan yang dengan viral load di atas 200.000 atau 300.000 ternyata hanya memiliki angka nol dalam co-kultur HIV. 147

Sejumlah ahli AIDS membantah gambaran Ho mengenai HIV yang berkembang besar-besaran dan tak terkontrol. Keberatan mereka telah dipublikasikan dalam Nature, Lancet dan jurnal ilmiah lainnya. Beberapa, seperti misalnya mantan peneliti AIDS dari pemerintah Dr. Cecil Fox, menyebut hipotesis Ho sebagai “spekulasi matematikal yang tak terkorfirmasi”. 148 Berdasarkan ahli AIDS orthodoks Dr. Michael Asher, dia mengatakan “Jumlah [dari teori viral load] janganlah ditambahkan lagi.” 148 Spesialis AIDS terkemuka lainnya, Dr. Mario Roderer, menganggap model viral load HIV adalah pathogenesis isu mati karena “beberapa studi-studi yang baik penerapannya dan infomatif malah menyediakan ‘paku-paku terakhir pada peti mati’ untuk … dua laporan Nature.” Sedangkan peneliti AIDS ternama Dr. Jay Levy memperingatkan bahwa “pengobatan jadi kacau ketika pengobatan tersebut telah salah dalam perhitungan awal yang tidak relevan terhadap masalah klinis yang terlibat…” 149 Kritik-kritik lainnya malah lebih keras lagi, menggambarkan hipotesis HIV baru ini sebagai “viral load omong kosong.” 150

.

Definisi Kata

Pathogenesis: Proses dimana suatu penyakit atau kekacauan bermula dan berkembang.
Co-kultur: Pendeteksian suatu virus dalam lingkungan buatan yang mengandung organisme atau sel-sel bereplikasi bercampur dengan plasma atau sel imun.
Genome: Sebuah peta atau cetak biru biokemikal; set lengkap dari faktor turunan yang terkandung pada satu set kromosom.

.

HIV-nya Mana?

Untuk bisa menerima hipotesis virus AIDS Gallo, para peneliti dan dokter membenarkan begitu saja bahwa Gallo telah mengisolasi retrovirus unik, yaitu HIV, dan bahwa protein yang dia pakai untuk mengkonstruksi test antibodi HIV murni berasal dari pengisolasian virus bersangkutan. Namun demikian, sejak diumumkannya penemuan Gallo, sejumlah ilmuwan telah mengajukan berbagai pertanyaan serius mengenai apa yang telah diterima sebagai terisolasinya HIV.

Berdaarkan klaim mereka, HIV, tidak seperti virus lainnya, tidak pernah terisolasi sebagai partikel independen yang stabil. 151 Para ilmuwan ini menyatakan bahwa gambar mikroskop elektron dari semua HIV yang terisolir, asli dari Gallo dan para peneliti AIDS lainnya, memperlihatkan beberapa obyek yang mirip retrovirus bersama dengan sejumlah obyek mikrobial lainnya yang jelas bukan virus, dan diantara semua obyek ini, obyek yang mirip retrovirus dan disebut HIV sebenarnya hanya teramati di kultur sel yang telah distimulasi oleh bahan kimia tertentu. 152

Pengisolasian adalah satu-satunya bukti langsung dan pasti atas adanya virus, dan pengisolasian suatu virus dari plasma pasien yang tak terkultur adalah satu-satunya bukti bahwa seseorang memiliki infeksi virus yang aktif. 153 Kultur merupakan lingkungan buatan dari lab yang mengandung sel dan mikroorganisme yang bereplikasi.

Normalnya, pengisolasian yang benar dapat diperoleh tanpa kesulitan karena orang yang dengan infeksi virus aktif akan memiliki banyak virus dalam plasma mereka. Namun tidak demikian dengan kasus HIV. Malahan, tidak ada bukti sama sekali bahwa seseorang benar-benar pernah ditemukan HIV pada plasma segarnya. Justru para peneliti AIDS hanya bisa menemukan apa yang mereka sebut sebagai HIV yaitu ketika plasma atau sel imun (co-kultur) dan bahan kimia dicampur ke dalam kultur. Oleh karena kultur yang sengaja distimulasi dapat mempengaruhi DNA virus untuk memproduksi virus bahkan ketika plasma pasien tidak mengandung virus, menemukan virus dengan cara demikian tidak dapat mengganti bukti bahwa plasma pasien mengandung virus. Pengisolasian yang benar memerlukan plasma segar dan tidak terkultur.

Ketika virus bisa diisolasi dari plasma segar milik 99% orang-orang yang memiliki hasil test positif dalam studi validasi, barulah test tersebut bisa dianggap 99% akurat. Ketika klaim isolasi co-kultur dipakai untuk mengevaluasi hasil test HIV positif, keakuratannya adalah 0-10% bagi pasien tanpa gejala AIDS dan kira-kira 40% bagi pasien yang memiliki gejala-gejala AIDS. 154

Keakuratan yang benar dari test antibodi HIV tidak pernah ditetapkan dengan cara menentukan berapa persen orang-orang yang ditest antibodi HIV positif benar-benar memiliki HIV aktual yang bisa diisolasi dalam plasma segar tak terkultur. Hal ini, sejalan dengan fakta bahwa apa yang disebut dengan HIV diteliti hanya dalam pertumbuhan buatan lab yang distimulasikan oleh bahan kimia, dan telah membuat para ilmuwan menyimpulkan bahwa HIV tidak pernah terisolsi dan bahwa semua test HIV tidaklah valid.

(Pembaca yang tertarik dengan informasi lebih lagi mengenai isolasi HIV silahkan memeriksa kumpulan artikel di www.virusmyth.com )

.

Definisi Kata
Plasma: Larutan alami yang tersisa ketika sel darah putih disisihkan dari darah.

Sumber: Alive & Well

Note:

  • Untuk melihat artikel tentang HIV/AIDS lainnya, silahkan Anda KLIK DI SINI.
  • Untuk melihat panduan menyembuhkan AIDS secara alami, mitos-mitos seputar AIDS, kesaksian para Odha tanpa ARV, pola makan sehat untuk kasus AIDS, dan pendapat para ahli golongan medis holistik, silahkan Anda KLIK DI SINI.

.

Artikel Terkait:

AIDS Bukan Penyakit Baru?

HIV Bukan Penyebab AIDS?

Apakah Test HIV/AIDS Sekarang Ini Akurat?

Efek Samping Dari Obat AIDS “Tidak Berbeda” dari AIDS Itu Sendiri

Minyak Kelapa dan Urin Obat Alternatif untuk HIV/AIDS

.

Referensi:

135. Gallo R 1984 Science 224; Piatak M 1993 Science 259; Ho D 1991 New England Journal of Medicine 324:961; Shaw G 1991 New England Journal of Medicine 324:954; Cooper 1992 Lancet 341:1099
136. Duesberg P 1996 Inventing the AIDS Virus Regnery Press, Washington DC p174-180
137. Bialy H, Duesberg P March 1995 Letter to Nature. Source: AIDS: Virus or Drug Induced? Duesberg P (editor) 1996 Kluwer Academic Publishers, Netherlands
138. Ho D, et al 1995 Rapid Turnover of Plasma Virions and CD4 Lymphocytes in HIV-1 Infection Nature 373:123-126; Wei X, et al 1995 Nature 373:117-122
139. Kary Mullis at HEAL Los Angeles, October 25 1995
140. Philpott P, Johnson C 1996 Viral Load of Crap Reappraising AIDS Vol 4:10 p2
141. Johnson C Viral Load and the PCR Continuum Vol 4:4 November/ December 1996
142. CDC faxback document #320320 sent in reply to an inquiry by Christine Johnson
143. Roche Amplicor PCR Diagnostics HIV-1 Monitor test kit pamphlet
144. Defer C, et al 1992 Multicenter Quality Control of PCR Detection of HIV DNA AIDS 6:659-663; Bush, et al 1992, Journal of AIDS 5:872; Gerberding J 1994 Incidence and Prevalence of HIV, Hepatitis B, and CMV Among Health Care Personnel at Risk for Blood Exposure Journal of Infectious Disease 170:1410-1417; de Mendoza, et al 1998 False Positive for HIV Using Commercial Viral Load Quantification Assays AIDS 12:2076-2077; Rich J, et al 1999 Misdiagnosis of HIV Infection by HIV-1 Plasma Viral Load Testing: A Case Series, Annals of Internal Medicine 130:37-39
145. Schwartz D, et al 1997 Extensive Evaluation of a Seronegatif Participant in an HIV-1 Vaccine Trial as a Result of False-Positive PCR, Lancet Vol 350 No 9073 p256
146. Rasnick D 1997 Kinetics Analysis of Consecutive HIV Proteolytic Cleavages of the Gag-Pol Polyprotein Journal of Biological Chemistry March 7 p6348-6353
147. Piatak M, et al 1993 Science 259:1749-53
148. Roderer M 1998 Getting to the HAART of T Cell Dynamics Nature Medicine Vol 4:2 p145-146; Levy J 1996 AIDS Surrogate Markers: Is There Truth in Numbers? JAMA Vol 276 p161-162
149. Levy J 1996 AIDS Surrogate Markers: Is There Truth in Numbers? JAMA Vol 276 p161-162
150. Philpott P, Johnson C 1996 Viral Load of Crap Reappraising AIDS Vol 4:10 p2

151. Papadopulos-Eleopulos E, et al 1988 Reappraisal of AIDS: Is the Oxidation Induced by the Risk Factors the Primary Cause? Medical Hypothesis 25:151-162
152. Papadopulos-Eleopulos E, et al 1993 Is A Positive Western Blot Proof of HIV Infection? Bio/Technology 11:696-707; Papadopulos-Eleopulos E, et al 1996 The Isolation of HIV: Has it Really Been Achieved? Continuum Vol 4:3 Supplement p1-24; Turner V 1996 Do HIV Antibodi Tests Prove HIV Infection? Continuum 1996 Vol 3:5 p8-11; Papadopulos-Eleopulos E, Stewart G, et al 1997 HIV Antibodies: Further Questions and a Plea for Clarification Current Medical Research and Opinion 13:627-634
153. Philpott P 1997 The Isolation Question Reappraising AIDS Vol 5:6 June/July/August
154. Gallo R 1984 Science 224:497-508; Piatak M 1993 Science 259:1749-1754; Piatak M 1993 Lancet 341:1099; Daar, et al 1991 New England Journal of Medicine 324[14]:961-964; Clark, et al 1991 New England Journal of Medicine 324:954-960; Cooper, et al 1992 Lancet 340:1257-1258

.

Tags:

Buat Akun Baru
Reset Password