Nyeri Hebat Saat Haid Bisa Menjadi Pertanda Adanya Endometriosis

Haid atau menstruasi merupakan peluruhan dinding rahim yang terdiri dari darah dan jaringan tubuh. Ini berlangsung setiap bulan dan merupakan proses yang normal bagi seorang perempuan di usia reproduksi. “Menstruasi adalah proses pembersihan rahim terhadap pembuluh darah, kelenjar-kelenjar, dan sel-sel yang tidak terpakai karena tidak ada prose pembuahan,” kata Dr. Ivan R. Sini, Franzcog , GDRM, SpOG, spesialis kebidanan dan kandungan, RS. Bunda Jakarta.

Normal. Menstruasi dimulai pada saat perempuan berumur 10-16 tahun, tergantung pada kesehatan wanita, nutrisi dan proporsi tubuh. Menstruasi berlangsung sekali sebulan sampai wanita mencapai usia 45-50 tahun. Menstruasi merupakan bagian dari proses reguler yang mempersiapkan tubuh wanita setiap bulan untuk proses kehamilan. Daur ini melibatkan beberapa tahap yang dikendalikan oleh interaksi hormon yang dikeluarkan oleh hipotalamus, kelenjar di bawah otak bagian depan, dan indung telur.

Menurut Dr. Ivan, untuk wanita yang menggunakan alat kontrasepsi yang berbentuk spiral atau IUD (sebuah alat berbentuk spiral berbentuk spiral yang dipasang dalam liang senggama, red), siklus menstruasinya menjadi lebih panjang. Sekitar 1-2 hari dari menstruasi normal sekitar 5-7 hari. Di samping itu, darah yang keluar juga lebih banyak. “Hal ini bisa terjadi karena adanya proses peradangan lokal akibat penggunaan spiral di rahim,” ujarnya.

Setiap kali haid, sambung dokter yang juga berpraktik di Bunda International Clinic ini, timbul rasa nyeri (dismenore). Ini wajar. Hal ini dapat terjadi pada perempuan yang belum menikah atau pun sudah menikah. Namun yang tidak normal adalah nyeri yang muncul menjelang menstruasi dan semakin hebat saat haid pertama dan kedua. Apalagi bila sampai pusing, muntah-muntah, mual, diare, perut seperti diremas-remas dan nyeri kepala. “Gejala nyeri haid tersebut, jika terus berulang pada saat haid, perlu diwaspadai, karena 90 persen penderita gejala ini dipastikan menderita endometriosis,” papar Ivan.

Penyebab. Menurutnya, endometriosis adalah penyakit dimana bercak-bercak jaringan selaput lendir rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim. Endometrium yang salah tempat ini biasanya melekat pada ovarium (indung telur) dan ligamen (jaringan ikat) penyokong rahim. Dalam keadaan normal, endometrium hanya ditemukan di lapisan rahim.

Hingga kini, penyebab pasti endometriosis belum diketahui. Teori sederhana timbulnya endometriosis adalah darah yang seharusnya keluar lewat vagina, sebagiannya masuk kembali ke dalam rongga pinggul atau perut dan tumbuh di daerah tersebut. Kalau darah haid biasanya keluar melalui rahim, adanya endometrium di luar rahim membuat darah tidak bisa keluar. Akibatnya, jumlah cairan darah bertambah banyak sehingga menimbulkan kista, parut dan pelengketan dengan organ-organ di sekitar rahim. “Awalnya bercak-bercak, kemudian berkembang menjadi kosta. Wanita harus menyadari hal ini dengan melakukan pemeriksaan ke dokter agar penyakit tersebut tidak berkembang menjadi kista,” tuturnya.

Menurut Ivan, setiap bulan ovarium menghasilkan hormon yang merangsang sel-sel pada lapisan rahim untuk menebal sebagai persiapan terhadap kemungkinan terjadinya pembuahan. Endometriosis juga memberikan respon yang sama terhadap sinyal ini. Tetapi endometriosis tidak mampu memisahkan dirinya dari jaringan dan terlepas selama menstruasi. Proses yang berlangsung terus menerus ini menyebabkan pembentukan jaringan parut dan perlengketan di dalam tuba dan ovarium, serta di sekitar fimbrie tuba. Perlengkatan ini bisa menyebebakan pelepasan sel telur dari ovarium ke dalam tuba falopi terganggu atau tidak terlaksana. Selain itu, perlengketan juga bisa menyebabkan terhalangnya perjalanan sel telur yang telah dibuahi menuju rahim.

Biasanya endometriosis terbatas pada lapisan rongga perut atau permukaan organ perut. Endometrium yang salah tempat ini melekat pada ovairum dan ligamen penyokong rahim. Ditambahkan Dr. Ivan, secara kasat mata, penyakit ini sulit dikenali karena tidak ada perbedaan fisik antara wanita yang menderita endometriosis dengan wanita normal. Hanya saja, pengidap penyakit endometriosis mengalami nyeri haid berlebihan. Nyeri haid muncul 1-2 hari menjelang haid dan mencapai puncaknya pada hari 1-3 haid. Nyeri ini kadang-kadang disertai sakit kepala, mual, muntah, dan nyeri perut hebat. Bahkan penderita bisa sampai berguling-guling di lantai karena sakit yang amat sangat.

Gejala tersebut harus segera diperiksa ke dokter. Sayang, banyak wanita lebih senang mengatasinya dengan obat penghilang rasa nyeri yang beredar di pasaran. Bahkan ada anggapan bahwa nyeri ini hilang dengan sendirinya apabila wanita itu kawin. Akibatnya, gangguan itu dibiarkan saja. Penghilang rasa nyeri yang diminum saat haid tidak mempengaruhi pertumbuhan endometriosis meskipun nyerinya hilang. Bahkan dalam jangka panjang, obat penghilang rasa nyeri akan merusak fungsi ginjal dan liver. Kalau penyakit ini dibiarkan, kata Ivan, penderita bakal mandul.

Laparoskopi. Untuk mengetahui adanya endometriosis, dilakukan pemeriksaan dengan tekhnik laparoskopi. Laparoskopi adalah tekhnik bedah dengan akses minimal. Artinya, pembedahan tidak dilakukan dengan membuka dada atau perut, tetapi lewat dua atau tiga lubang untuk memasukkan kamera mini (endocamera) yang memindahkan gambaran bagian dalam tubuh ke layar monitor, sedangkan dua lubang lain menjadi jalan masuk peralatan bedah.

Karena luka yang ditimbulkan minimal, pemulihannya pun lebih cepat. Pengurangan nyeri pasca operasi dan rawat inap lebih singkat. Tekhnik laparoskopi umumnya digunakan dalam operasi di bidang ginekologi, bedah digestif dan bedah urologi. Bahkan juga untuk bedah syaraf, jantung, ortopedi, THT, serta bedah plastik. Dengan alat ini, dokter dapat melihat organ-organ pinggul, kista dan jaringan endometriosis secara langsung.

Perlu disadari, sekali wanita menderita endometriosis, penyakitnya akan tumbuh terus dan tidak pernah berhenti. Penyakit ini tidak akan sembuh dengan obat pereda rasa sakit. “Jadi yang terpenting adalah segera mengenal endometriosis dan secepatnya diobati. Membiarkan penyakit tersebut tanpa berbuat sesuatu, hanya akan memperburuk keadaan. Berkonsultasilah ke dokter jika memang mengalami nyeri yang hebat menjelang dan pada saat haid,” tegasnya.

Genie, Edisi 32, Hal 16

Buat Akun Baru
Reset Password