Hoax AIDS Merampas Kehidupan Keluarga Anda Tercinta

a_050713_anak06Artikel di bawah ini ditulis dari golongan pro AIDS (AIDS konvensional) tapi jadi contoh nyata akan apa jadinya Indonesia ketika “hoax” AIDS ini tetap dibiarkan: anak-anak yang lugu, polos dan tidak tahu apa-apa menjadi korbannya. Masa depan mereka yang seharusnya indah telah dirampas oleh hoax AIDS ini. Dan yang mengerikan adalah hoax ini tidak memandang bulu, artinya anak-anak Anda, istri/suami Anda, orang-orang yang Anda kasihi, juga menjadi target hoax ini. Tinggal menunggu waktu saja melihat kehidupan mereka dirampas dari hadapan Anda. Relakah Anda membiarkan mereka jadi korban dari kebohongan medis konvensional terbesar sepanjang masa?

Heboh ”Microchip” bagi ODHA

Oleh
Odeodata H Julia

JAYAPURA – Perkataan yang mengungkapkan kemarahan keluar dari mulut empat orang dengan HIV/AIDS (ODHA), saat mereka ditanya soal rencana Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi (DPRP) Papua memasukkan klausul penggunaan microchip bagi ODHA, ke dalam draf Rancangan Peraturan Daerah Provinsi (Raperdasi) tentang Penanggulangan HIV-AIDS di Papua.

”Kami tolak microchip. Ini jelas–jelas pelanggaran HAM. Kami ini manusia, bukan binatang,” tegas Enita R. Ibu berusia 30 tahun ini telah divonis positif menderita AIDS stadium tiga. Mantan anak jalanan ini mengaku suka menjalani seks bebas sehingga akhirnya tertular virus mematikan ini.

Saat ini, Enita, ibu seorang putri berusia empat tahun ini, menjabat Koordinator Jaringan Orang Terinveksi AIDS Indonesia (JOTI) di Jayapura. Enita bersama rekan-rekannya bahkan mengancam, kalau draf Raperdasi disahkan dengan mencantumkan penggunaan microchip, mereka akan menyuntikkan darah mereka kepada orang yang memasangkan alat itu.

Heboh pemasangan microchip sudah dua minggu ini menghiasi halaman surat kabar lokal di Papua. Alasan anggota DPRP memasukkan klausul microchip itu untuk melindungi generasi muda Papua sehingga menghasilkan satu generasi yang sehat. Padahal, sebenarnya tahun 2005 penggunaan microchip sudah pernah dibahas, tetapi gaungnya tak begitu kedengaran, dan akhir-akhir ini rencana itu kembali bergema. ”Ini mungkin mau dekat Pemilu 2009, jadi microchip dipakai beberapa anggota Dewan sebagai kampanye tersembunyi,” ujarnya.

Lain cerita Enita, lain pula cerita Eli (bukan nama sebenarnya). Eli adalah seorang anggota TNI/AD yang juga ODHA. Ia mengaku sama sekali tidak mendapatkan diskriminasi di kesatuannya. Bahkan, secara terang–terangan ia mengakui banyak kawannya yang tertular HIV/AIDS, apalagi para tentara penugasan. ”Semua tentara yang habis penugasan bila dites darahnya rata-rata ada yang positif HIV/AIDS,” ungkapnya.

Ketika ditanya ssoal penggunaan microchip yang dipasangkan pada tubuh ODHA, Eli balik bertanya, ”Mengapa mesti hanya ODHA yang memakai alat ini? Seharusnya para koruptor di Papua, penderita TBC dan penderita hepatitis yang juga mengidap penyakit menular, harus dipasangi juga. Mereka ini kan berkeliaran di mana-mana,” tuturnya.

Sementara itu, Lenny (23), seorang ibu rumah tangga yang positif terjangkit HIV stadium dua, mengaku terinfeksi HIV dari suaminya. Ia mempertanyakan mengapa ODHA selalu diberi stigma menakutkan. Lain lagi ungkapan Yupi (30) seorang homoseksual yang terkena AIDS stadium dua. Sama seperti tiga rekannya yang lain, Yupi secara blak–blakan menegaskan kalau ODHA malah diproyekkan.

Saat ini, Enita, Eli, Lenny, dan Yupi ditampung di rumah singgah ODHA milik Suster Siti Soltief bernama Jayapura Suport Grup (JSG) di Abepura. Mereka berharap stigma ODHA yang menakutkan dihilangkan. ODHA juga manusia dan punya hak untuk hidup bersosialisasi dengan seluruh masyarakat.

Tidak Manusiawi

Aktivis HIV/AIDS yang juga pendiri rumah singgah ODHA JSG Robert Sihombing menyatakan, kurang setuju dengan penggunaan microchip pada ODHA. Sebab, kurang manusiawi dan bertentangan dengan prinsip-prinsip penanganan terhadap orang yang terinfeksi HIV. Ketika rencana ini dikonsultasikan dengan para ODHA, mereka hanya bisa menangis sedih karena merasa dikucilkan.

Sebaliknya, persoalan ini harus ditangani secara komprehensif, bukan parsial (sepotong-potong). Jadi, saat ditemukan ada yang mengidap HIV/AIDS, harus segera dilakukan pengobatan dan perawatan.

Begitu pula Juldedy Saragih dari World Vision Indonesia menilai pemasangan microchip tidak tepat karena justru akan membuat ODHA merasa diasingkan. ”Padahal, semestinya mereka dirangkul dan didengarkan keluhannya, agar kemudian berani melakukan VCT (Voluntary Counselling and Testing). Kita jangan kembali seperti masa lalu saat memperlakukan penderita kusta atau lepra,” lanjutnya.

Menyambut Hari AIDS Sedunia Ke-20, tanggal 1 Desember 2008 ini, National Director World Vision Indonesia Trihadi Saptoadi mengakui, berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan telah dilakukan, namun peningkatan jumlah penderita masih sangat merisaukan.

Di berbagai belahan dunia 2,3 juta anak di bawah 15 tahun hidup dengan HIV, di mana 530.000 di antaranya baru terinfeksi pada tahun 2006. Secara keseluruhan, 33 juta warga dunia hidup dengan HIV di akhir tahun 2007, dan faktanya setiap menit seorang anak menjadi korban laju penyebaran HIV dan AIDS di seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri, ribuan orang dan anak-anak terancam virus penyakit mematikan ini. Tahun 2008, 18.963 orang terjangkit HIV & AIDS, 798 di antaranya berusia 0-19 tahun. Jumlah ini masih jauh di bawah estimasi yang dibuat oleh Departemen Kesehatan tahun 2006, yaitu 193.000 di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Papua adalah tiga dari 33 provinsi dengan kasus tertinggi.

”Anak-anak harus menjadi prioritas utama. Mereka perlu mendapatkan bimbingan dan pengarahan tepat sejak dini agar dampaknya dapat diminimalkan. Semua anak harus dapat mengakses fasilitas dan informasi pencegahan dan penanggulangan. Menyelamatkan anak-anak kita dari bahaya HIV dan AIDS adalah tanggung jawab kita semua,” Trihadi mengingatkan.

Kondisi memprihatinkan juga mendera para ibu rumah tangga. Contohnya, di Rumah Sakit Kariadi Semarang, kini ada 174 ODHA yang berobat rutin, dan empat pasien positif AIDS dirawat. Menurut dokter ahli penyakit dalam, Muchlis Achsan Udji Sofro dari RS Dr Kariadi Semarang, banyak suami yang ”jajan” di luaran. Mereka membawa virus HIV/AIDS ke dalam rumah tangganya. Istrinya yang setia menjadi korban perilaku suaminya. ”Jumlah ibu rumah tangga yang tertular HIV/AIDS makin banyak. Jumlah pasti belum bisa saya jelaskan, namun persentasenya meningkat,” ungkapnya. (wahyu dramastuti/su herdjoko/stevani elisabeth)

Sumber: sinarharapan.co.id, 01 Desember 2008

Note:

  • Untuk melihat artikel tentang HIV/AIDS lainnya, silahkan Anda KLIK DI SINI.
  • Untuk melihat panduan menyembuhkan AIDS secara alami, mitos-mitos seputar AIDS, kesaksian para Odha tanpa ARV, pola makan sehat untuk kasus AIDS, dan pendapat para ahli golongan medis holistik, silahkan Anda KLIK DI SINI.

.

Buat Akun Baru
Reset Password