Mengapa Kolposkopi untuk Deteksi Kanker Serviks?

kolposkopiKanker SERVIKS (kanker mulut rahim) di Indonesia menduduki urutan pertama kanker pada wanita, juga menduduki urutan pertama kanker pada genitalia wanita. Kanker SERVIKS merupakan 15% kanker pada wanita dan 68% kanker pada genitalia wanita. Di negara maju angka kejadian kanker SERVIKS sudah sangat menurun karena usaha pencegahan primer maupun sekunder dan deteksi dini maupun diagnose, serta pengobatan kanker serviks yang sudah komprehensif.

Di Asia Pasifik, 1 wanita meninggal setiap menit karena kanker serviks. Tiap tahun 270.000 wanita menderita kanker serviks dan 140.000 wanita meninggal karenanya. Sebagian penderita kanker SERVIKS datang memeriksakan diri sudah dalam stadium lanjut sehingga hasil dari pengobatan sampai saat ini tidak banyak mengalami kemajuan. Sebagian besar penderita berada pada stadium III B ke atas sehingga angka kematian akibat kanker SERVIKS di Indonesia tetap tinggi.

HPV sebagai penyebab kanker serviks telah diketahui secara luas. HPV no 16 dan 18 dianggap sebagai penyebab utama. Kanker SERVIKS merupakan penyakit yang melalui tahapan-tahapan perubahan sel, kemudian terjadi lesi pra kanker dan baru terjadi kanker yang invasif. Tahapan terjadinya kanker SERVIKS merupakan suatu proses yang lama dan tidak tiba-tiba saja terjadi, sehingga faktor pencegahan dan deteksi dini sangat berperan untuk mendeteksi penyakit pada stadium dini.

Perjalanan Penyakit Kanker SERVIKS

Kanker SERVIKS disebabkan karena adanya perubahan pada daerah batas epitel bertatah dan epitel silindris yang disebut squamo-columnar junction. Permulaan terjadinya proses perubahan sel jinak menjadi ganas pada serviks berlangsung di daerah squamo-columnar junction. Pada anak kecil dan wanita menopause batas squamo-columnar junction masuk dalam kanalis servikalis, sedangkan pada wanita masa reproduksi batas tersebut persis berada di permukaan. Pada wanita yang berulang kali melahirkan, pada pemakai kontrasepsi oral yang mengandung esterogen, batas ini kadang-kadang menjulur ke arah luar dari endoserviks yang disebut sebagai ektropion (Eversion).

Karena pengaruh Ph vagina yang bersifat asam, maka epitel endoserviks ini akan mengalami perubahan (squamous metaplasia) sehingga pada permukaan akan dilapisi oleh epitel bertatah. Hal ini menyebabkan terjadi perubahan batas squamo-columnar junction yang baru. Daerah antara batas squamo-columnar junction yang baru dan yang lama disebut sebagai transformation zone (TZ). Daerah TZ merupakan jaringan yang rawan terhadap perubahan terjadinya keganasan. Karena pengaruh bahan-bahan karsinogenik maka akan terjadi perubahan yang disebut displasia.

Infeksi virus HPV akan masuk melalui adanya lesi di permukaan serviks, menuju sel basal. Di dalam sel DNA dari virus ini mengalami integrasi dengan inti sel dan menyebabkan terjadinya mutasi dari sel basal sehingga terjadi poliferasi yang tidak terkendali dan terjadilah perubahan ke arah anaplasia. Kombinasi dari perubahan jaringan maupun perubahan sel pada daerah TZ baik karena pengaruh bahan-bahan karsinogenik maupun infeksi HPV kedua-duanya dapat menyebabkan proses keganasan dari CIN I, CIN II, CIN III, carcinoma insitu, akhirnya terjadi carcinoma mikro invasif, dan akhirnya carcinoma yang invasif.

Gejala-gejala pada Kanker SERVIKS:

  1. Keputihan
  2. Perdarahan pasca sanggama
  3. Nyeri pada perut bagian bawah
  4. Keluhan keputihan yang berbau busuk
  5. Perdarahan diluar haid

Mengapa KOLPOSKOPI ?

img_3469b.jpg 5936-0550x0475.jpg

Kolposkopi adalah pemeriksaan untuk melihat permukaan serviks. Alat ini menggunakan mikroskop berkekuatan rendah yang memperbesar permukaan seviks sampai dengan 10-40 kali dari ukuran normal. Pembesaran ini membantu mengidentifikasi daerah permukaan serviks yang menunjukkan abnormalitas.

 

Pemeriksaan kolposkopi dilakukan di atas meja pemeriksaan ginekologis. Pada kolposkopi, serviks dioles dengan larutan kimia (asam asetat) untuk membersihkan lendir yang meliputi permukaan serviks. Setelah area abnormal terlihat, kolposkopi diposisikan pada mulut vagina dan seluruh permukaannya diperiksa. Gambar permukaan serviks bisa didokumentasikan dengan kamera kecil tersebut. Jika ditemukan area yang abnormal, sampel jaringan akan diambil dengan menggunakan alat biopsy kecil. Beberapa sampel dapat diambil sesuai besar ukuran area yang mengalami abnormalitas.

Tidak ada persiapan khusus sebelum kolposkopi. Sebelum pemeriksaan, anda diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan saluran cerna. Anda tidak dianjurkan untuk melakukan pencucian vagina dengan cairan apa pun atau melakukan hubungan seksual dalam 24 jam sebelum pemeriksaan.

Hasil Kolposkopi yang normal berupa permukaan serviks yang rata dan berwarna merah muda. Hasil Kolposkopi yang abnormal berupa “kutil” pada daerah serviks (human papilloma virus), perubahan jaringan prekanker, dysplasia serviks, keganasan dalam serviks dan keganasan yang invasif. Kolposkopi dapat digunakan untuk melakukan pemantauan terhadap kelainan prekanker dan melihat perkembangan terapi. Kolposkopi dapat melihat pola abnormal pembuluh darah, bercak-bercak putih pada serviks, peradangan, erosi atau pengerutan jaringan serviks. Semua ini menunjukkan perubahan kanker. Jika pemeriksaan kolposkopi atau biopsy tidak menunjukkan penyebab abnormalitas dari Pap Smear, dianjurkan untuk melakukan pengambilan jaringan yang lebih luas.

105_f5.jpg mi8.jpg gyncervicalcolposcopyvaginocervicitis.jpg 105_f7.jpg

Sedikit bercak perdarahan dapat terjadi selama 1 minggu setelah pemeriksaan. Hindari hubungan seksual, pencucian vagina dan penggunaan tampon selama 2 minggu untuk memberikan kesempatan luka biopsy untuk menyembuh. Jika perdarahan terjadi cukup banyak atau terjadi selama lebih dari 2 minggu, atau jika anda mengalami tanda-tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau dan berwarna keruh), segera berkonsultasi kembali dengan dokter. Mengingat efektivitas Pap Smear dan Kolposkopi yang sangat tinggi untuk deteksi dini perubahan sel serviks dan risiko yang sangat rendah, segeralah melakukan pemeriksaan skrining tersebut, sesuai anjuran dokter Ahli Kebidanan dan Kandungan.

Link referensi: http://onkologi.husadabunda.com/archives/3

Buat Akun Baru
Reset Password