Kenapa Anda Tidak Bisa Mempercayai Kebanyakan Penelitian Ilmiah Kesehatan?

technical_writing-11Berdasarkan suatu analisis baru, dengan begitu banyaknya dokumentasi ilmiah dan sangat sedikitnya ruang publikasi di jurnal-jurnal terkenal, “pemenangnya” adalah yang bisa menjual diri mereka sendiri dibandingkan ilmu pengetahuan terbaik. Lain kata, yang berhasil dipublikasikan oleh jurnal-jurnal terkenal adalah mereka yang memenangkan hasil yang sangat dramatis atau penting, tapi sebenarnya didramatisir dan pada akhirnya terbukti salah.

Ratusan dari ribuan ilmuwan peneliti dbayar, dipromosikan, dan didanai berdasarkan tidak hanya berapa banyak pekerjaan yang mereka hasilkan, tapi juga bagaimana semua pekerjaan tersebut akhirnya bisa dipublikasikan.

Jurnal-jurnal terkenal membanggakan diri bahwa mereka sangat selektif dan telah banyak menolak banyak sekali dokumentasi penelitian yang ditaruh di meja mereka. Asumsinya adalah bahwa mereka hanya akan mempublikasikan uji ilmiah yang terbaik.

Contoh kasus, dari tahun 1990-2004 ada 49 dokumentasi uji ilmiah terkenal yang dipublikasikan di jurnal-jurnal terkemuka yang selalu dikutip atau dipegang teguh oleh lebih dari 1.000 ilmuwan lainnya. Tapi di tahun 2005, hampir sepertiga dari dokumentasi tersebut dikatakan salah oleh uji ilmiah lainnya. Tentu saja, makin “panas” topiknya, makin besar pula kompetisi yang ada yang akan menyebabkan publikasi dari jurnal-jurnal terkenal bisa salah.

Juga terdapat suatu penyimpangan dalam mempublikasikan hasil penelitian yang positif. Suatu studi di awal tahun 2008 menemukan bahwa diantara dokumentasi uji ilmiah yang  diserahkan ke FDA (BPOM-nya Amerika) mengenai keefektifan antidepresan, hampir semua adalah dokumentasi yang memperlihatkan hasil positifnya saja, sedangkan yang memperlihatkan hasil negatif sangatlah sedikit.

Sumber:

·         The Economist October 9, 2008

·         Public Library of Science October 7, 2008

Kebenaran Ilmiah Bisa Kurang dari 50%

Penelitian kedua Dr. John Ioannidis, seorang epidemiologist dari Ioannina School of Medicine, Yunani, menunjukkan bahwa kebanyakan penelitian ilmiah masih harus dipertanyakan. Kembali ke tahun 2005, Dr. Ioannidis menunjukkan hanya ada kurang dari 50% kemungkinan dokumentasi ilmiah yang dipublikasikan adalah benar.

Ia menekankan bahwa permasalahan utamanya ada pada metode percobaan dan statistik, termasuk faktor-faktor ukuran contoh pengujian yang kecil, subyektifitas peneliti, dan penyeleksian laporan. Disamping itu, kondisi ekonomi juga menjadi penyebab tidak benarnya suatu penelitian, dimana informasi ilmiah, kini menjadi suatu sumber penghasilan yang cukup besar.

Sistem telah berubah. Jurnal-jurnal ilmiah bisa lebih cenderung mempublikasikan penelitian yang memiliki hasil dramatis, yang baik-baik saja, atau yang sedang “panas-panasnya dalam persaingan”. Tentu saja ini semua tidak berhubungan dengan keakuratan dan keuntungan ilmiah. Ini berhubungan dengan keuntungan ekonomi.

Siapa yang Mendanai Penelitian

Kunci untuk mengetahui penyebab permasalahan ini adalah melacak siapakah yang mendanai penelitian. Seringkali perusahaan-perusahaan  obatlah yang mendanai penelitian lewat organisasi milik mereka sendiri atau organisasi yang mereka kendalikan.

Penelitian yang didanai oleh perusahaan obat cenderung berusaha memberikan keuntungan ekonomi bagi industri tersebut. Seperti misalnya, penelitian-penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal-jurnal kedokteran kebanyakan didanai oleh perusahaan obat dan sebagai hasilnya, hasil penelitian tersebut seringkali menawarkan obat.

Pada saat para peneliti dari Beth Israel Medical Center di New York City memeriksa empat jurnal, yaitu American Journal of Psychiatry, Archives of General Psychiatry, Journal of Clinical Psychiatry, dan Journal of Clinical Psychopharmacology, mereka menemukan bahwa promosi obat (kimia) sangat gencar dilakukan. Dari pemeriksaan tersebut didapati:

• 8 dari 10 penelitian didanai oleh perusahaan obat.

• 5 dari 10 penelitian tidak didanai oleh perusahaan obat.

• 3 dari 10 penelitian dilakukan oleh pesaing perusahaan obat.

Inilah yang menyebabkan kesalahan-kesalahan bisa terjadi pada penelitian ilmiah, yaitu yang disebut sebagai “motivasi keuntungan pribadi”.

Jurnal ilmiah terpandang pun tidak lolos dari “motivasi keuntungan pribadi” sehingga tidak semua hasil penelitian yang dipublikasikan bisa dipercaya. Seperti misalnya,  Associated Press mengungkapkan bahwa tiga penulis dari suatu penelitian tentang pelindung pinggul yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Association (JAMA), telah menerima uang penelitian dari perusahaan obat penguat tulang.

Walaupun JAMA memiliki peraturan ketat mengenai keterbukaan finansial, mereka bersikeras bahwa penulis tersebut tidak bersalah jika tidak mau terbuka mengenai kaitannya dengan perusahaan obat karena penelitian tersebut tidak menyebutkan obat-obatan untuk tulang atau merekomendasikannya.

 

Apa yang Bisa Kita Pelajari Di Sini?

Ketika membaca berita-berita kesehatan, adalah bijaksana untuk tetap waspada dan tidak percaya begitu saja dengan apa yang dipublikasikan, walaupun berita tersebut adalah dari jurnal kesehatan terkenal. Tetap skeptik, tapi milikilah pemikiran terbuka. Tidak peduli ilmuwan atau para ahli terkemuka manapun yang memberikan pernyataan, Anda harus tetap sadar bahwa Anda bertanggung jawab terhadap kesehatan diri sendiri dan juga keluarga Anda, bukan saya, dan terlebih bukan MEREKA atau perusahaan obat yang berusaha menjual produk mereka yang memiliki efek samping berbahaya.

Setelah mengetahui bahwa KEBANYAKAN obat yang diresepkan hanya bersifat merawat dibandingkan menyembuhkan, adalah bijaksana jika kita sekarang lebih waspada ketika mendengarkan klaim obat keluaran baru.

Demi diri Anda sendiri dan keluarga yang Anda cintai, berhati-hatilah dengan segala jenis obat-obatan kimia yang diberitakan di media massa atau jurnal medis manapun. Anda pasti tahu obat-obat apa saja yang sering muncul di televisi baik itu obat untuk sakit kepala, flu, maag, dan lain-lain.

Untuk saya pribadi, saya lebih mempercayakan kesehatan saya pada alam ciptaan Tuhan dibandingkan obat-obatan kimia buatan manusia. Mencermati pengalaman pribadi dan juga pengalaman orang lain, dari seluruh obat medis konvensional yang ada di seluruh dunia ini, yang  layak dipakai sebenarnya hanyalah 2%!

Link referensi: http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2008/11/04/why-you-can-t-trust-most-studies-on-health.aspx

 

Artikel Terkait:

Penggunaan Obat Menyebabkan 700.000 Warga Amerika Dirawat di UGD per Tahunnya

Dr. Stefan Lanka Membongkar “Penipuan HIV”

Bagaimana JIka Resep Dokter untuk Diabetes Selama Ini adalah Salah?

Buat Akun Baru
Reset Password