Apakah Dokter Anda telah DISUAP oleh Perusahaan Obat?

bribeBerdasarkan hasil survey nasional di Amerika, yang menyelidiki para dokter mengenai hubungan keuangan dan praktek mereka dengan perusahaan obat, didapati akan adanya campur tangan mulai dari peluncuran obat gratis sampai dengan tarif konsultasi dan perkuliahan.

Survey nasional tersebut dilakukan pada lebih dari 3000 dokter  seperti misalnya anesthesiologis, kardiologis, dokter keluarga, dokter bedah umum, internis dan dokter anak. Lebih dari separuh dokter menjawab survey tersebut.  Sekitar 94 persen mengakui adanya hubungan dengan perusahaan obat, serta 80 persen dari mereka biasanya menerima contoh suplemen atau obat dengan gratis.

Namun dalam penelitian juga diketahui bahwa walaupun dengan “hadiah-hadiah” tidak mahal pun, ini dapat “mempengaruhi” tingkah laku seseorang.

Sebagai tambahan, lebih dari sepertiga dokter yang merespon survey tersebut telah menerima bayaran dari perusahaan obat untuk pergi ke pertemuan-pertemuan penting atau menghadiri kelas-kelas pendidikan medis. Para dokter keluarga mengakui kalau mereka bertemu dengan representatif perusahaan obat sekitar 16 kali dalam sebulan. Untuk golongan kardiologis, mereka dua kali lipat melebihi para dokter keluarga dalam menerima bayaran langsung dari perusahaan obat.

Para dokter yang biasanya menerima bayaran dari perusahaan obat adalah dokter pria, punya posisi dalam pendidikan medis, atau yang punya sedikit pasien tanpa asuransi kesehatan.

Lebih dari 20 tahun yang lalu, Dr. Joseph Mercola, seorang praktisi holistik modern terkemuka dan berkelas internasional,  dulu juga seorang konsultan bayaran dari sebuah perusahaan obat. Ia dibayar untuk mempromosikan manfaat terapi penggantian estrogen dan dibayar untuk terbang kesana kemari memberikan ceramah kepada perkumpulan dokter.

Tapi setelah ia menemukan kebenaran di penyembuhan holistik modern, ia pun berubah jalur dan tidak melakukan praktek “bisnis menjual dan merawat penyakit” lagi. Praktek kesehatan yang terkorupsi oleh uang ini masih terus berlanjut sampai sekarang termasuk di Indonesia. Hal-hal seperti ini sudah menjadi hal yang  “biasa” di komunitas medis konvensional dimana para dokter menerima bayaran dari perusahaan obat tertentu untuk memasarkan atau meresepkan obat-obatan mereka.

Perusahaan-perusahaan obat di Amerika mengeluarkan $ 4 miliar per tahunnya untuk biaya iklan langsung ke konsumen melalui TV dan media cetak. Tapi ini masih jauh lebih sedikit dibandingkan uang yang dikeluarkan untuk memasarkannya melalui para dokter. Mereka menghabiskan $16 miliar per tahunnya kepada para dokter berpengaruh. Itu berarti $10 ribu untuk tiap dokter di Amerika Serikat. Bagaimana dengan di Indonesia?

Namun fakta yang menyedihkan adalah kebanyakan obat yang diresepkan oleh dokter-dokter yang punya hubungan kuat dengan perusahaan obat adalah obat-obat yang tidak berguna bahkan membahayakan kesehatan. Itulah sebabnya perusahaan obat mengeluarkan banyak uang untuk bisa menutup-nutupi hal ini dan meyakinkan para dokter untuk tetap mempromosikan obat produksi mereka dan juga meyakinkan masyarakat untuk selalu mempercayai produk mereka.

Link referensi:

http://content.nejm.org/cgi/content/full/356/17/1742 (pembahasan penuh)

http://www.usatoday.com/news/health/2007-04-25-docinfluence_N.htm?csp=34

http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2007/04/28/AR2007042800896.html

http://blogs.mercola.com/sites/vitalvotes/archive/2007/04/30/Is-Your-Doctor-Being-PAID-OFF-by-the-Drug-Industry.aspx

.

Artikel Terkait:

Perusahaan Obat “Melobi” dengan Uang untuk Mempengaruhi Pemerintah

Perusahaan Rokok “Membayar” Penelitian Kanker Paru-Paru

Buat Akun Baru
Reset Password