Mana Lebih Baik, Suplemen MLM atau Obat Kimia Medis Konvensional?

1223supplementBanyak dari masyarakat tidak tahu jawaban yang benar dari pertanyaan yang menjadi judul artikel ini. Sebagian lagi masih bingung atau ragu-ragu untuk menentukan pilihan. Tahukah Anda bahwa jawaban yang benar akan pertanyaan ini akan mempengaruhi kesehatan, keuangan, dan masa depan Anda serta orang-orang yang Anda kasihi? Jika Anda salah jawab dan salah memilih pengobatan, hidup Anda bisa menjadi taruhannya.

Untuk bisa menemukan jawaban yang benar dari pertanyaan “mana lebih baik, suplemen MLM atau obat kimia medis konvensional”, pertama-tama Anda harus memiliki pola pikir yang obyektif dan terbuka (open-minded). Mari kita pelajari beberapa hal di bawah ini:

.

Rohaya (56 tahun), Sembuh dari Diabetes dan Tidak Jadi Amputasi Kaki

Karena luka di kaki Ibu Rohayah, 56 tahun, tidak kunjung sembuh, ia berobat ke dokter sekitar bulan Oktober 2005. Dari situ diketahui bahwa ia mengidap diabetes melitus.

“Awalnya terdapat penebalan kulit di telapak kaki kanan saya yang cukup mengganggu. Lama-kelamaan kulit tersebut terasa nyeri dan membentuk bisul. Saya lalu memeriksakan diri ke dokter. Setelah satu minggu diobati, bisul tersebut belum juga sembuh malah mengeluarkan cairan yang berbau kurang sedap. Saya lalu berobat ke dokter lain. Pemeriksaan kadar gula menunjukkan angka 400 mg/dl. Dokter menyatakan saya mengidap Diabetes Melitus (DM).

Dokter langsung memberikan obat, menganjurkan untuk diet, dan menjaga kebersihan luka. Seminggu kemudian, luka belum juga sembuh. Malah dipunggung kaki saya tumbuh bisul berwarna kehitaman dan kulit disekitarnya mengeluarkan nanah yang berbau busuk.

Sebelumnya berat badan saya menyusut, nafsu makan bertambah, sering haus dan buang air kecil. Namun, saya tidak mengetahui bahwa itu semua adalah gejala awal DM sehingga saya mengabaikannya.

Semakin hari luka di kaki semakin membusuk, kondisi fisik saya pun menurun. Akhirnya, keluarga sepakat membawa saya ke salah satu rumah sakit di Palembang. Pemeriksaan kadar gula darah saya menunjukkan 500 mg/dl. Saya dirawat seminggu di rumah sakit, diberi antibiotik dosis tinggi, dan luka dikompres dengan antiseptik. Tapi kondisi fisik saya justru menurun. Saya mengalami demam tinggi, badan lemas, dan kurang nafsu makan. Luka di kaki saya tambah membusuk dan menjalar ke betis. Baunya pun tak tertahankan.

Dokter mengatakan bila luka tersebut semakin menjalar dan tidak sembuh, pilihan terakhir adalah amputasi. Namun saya tidak mau kehilangan anggota badan, lebih baik tetap utuh, walaupun beresiko infeksi tambah meluas. Pengobatan DM dilanjutkan dengan rawat jalan dan injeksi insulin dengan dosis 3×15 ui setiap hari sebelum makan.

Seorang perawat rumah sakit memperkenalkan saya pada dr. Hendarmin. Beliau menyarankan saya untuk mencoba produk X. Selanjutnya, saya mengkonsumsi produk madu X, royale jelly X, dan propolis X, ditambah dengan propolis cream X untuk dioleskan pada luka. Setelah tiga hari, tubuh saya lebih segar, jarang demam, dan nafsu makan membaik.

Selama lebih 3 bulan mengkonsumsi dan memakai produk X, luka yang terbuka mulai menutup dan nanahnya mengering. Di sebagian tempat di kaki kembali tumbuh jaringan daging segar, peradangan mulai berkurang, dan jari telunjuk kaki kanan yang tadinya menghitam sudah tumbuh jaringan baru. Kondisi fisik saya membaik dan kaki saya batal diamputasi. Gula darah saya juga berangsur turun menjadi 238 mg/dl pada pemeriksaan 5 November 2005 dan 94 mg/dl pada pemeriksaan terakhir, 17 November 2005.”

diabetic-wound-6diabetic-wound-8diabetic-wound-9

Proses penyembuhan bulan pertama, kedua dan ketiga.

.

Tak Kunjung Sembuh dengan Obat-obatan Kimia, Cepat Pulih dengan Suplemen MLM

Dari kesaksian di atas kita memahami bahwa pengobatan konvensional yang murni mengandalkan kekuatan dan teknik-teknik manusia tidaklah berhasil menaklukkan diabetes. Yang lebih parah lagi, pengobatan konvensional memperparah kondisi penderita dengan obat-obatan berefek samping dan diet yang salah, termasuk juga amputasi pada organ yang membusuk karena luka diabet.

Kesaksian seperti di atas banyak sekali kita temui dalam pertemuan-pertemuan MLM dan saya percaya Anda sendiri sering mendengarnya dari kesaksian orang-orang disekitar Anda. Atau bahkan mungkin Anda sendiri mengalami “mujizat” dari pengobatan suplemen MLM ini.

Kadar gula darah yang 500 mg/dl dan luka diabet yang sampai terlihat tulangnya ternyata bisa sembuh dengan suplemen atau produk-produk MLM yang mengandalkan alam ciptaan Tuhan. Produk MLM tersebut adalah madu murni, bee pollen, dan propolis. Digabung dengan lidah buaya untuk pemakaian luar, proses kesembuhan jadi makin cepat.

Dalam banyak kesaksian dari orang-orang (dengan segala jenis penyakit “maut”) yang mengalami kesembuhan lewat produk MLM, seringkali disebutkan bahwa mereka SEBELUMNYA telah dirawat di rumah sakit tapi kondisi tetap makin memburuk bahkan dianjurkan untuk operasi, kemoterapi, radiasi atau pengangkatan organ tertentu dengan biaya yang “mencekik leher”.

Tapi lain halnya ketika mereka berpaling kepada suatu produk MLM yang murni mengolah alam ciptaan Tuhan dan mengatur pola makan, mereka akhirnya mendapatkan mujizat kesembuhan yang sederhana, aman dan murah!

Jika diadakan suatu “Kompetisi Kesaksian” antara pengobatan medis konvensional dengan pengobatan MLM, sangatlah mudah untuk menebak siapa pemenangnya, yaitu pengobatan MLM. Tapi tentu saja, kompetisi ini tidak akan pernah terjadi, karena akan merusak politik dan bisnis medis konvensional.

.

Efek Samping Obat Kimia yang HARUS Diwaspadai

Jika Anda membaca brosur atau aturan pakai pada obat-obatan kimia, Anda akan menemukan serentetan efek samping yang bisa Anda alami jika mengonsumsinya. Tapi berbeda halnya dengan suplemen MLM, Anda tidak akan menemukan efek samping ketika mengonsumsinya. Dan jika toh ada, efek samping yang ada sebenarnya hanyalah merupakan proses penyembuhan karena tubuh telah menerima “makanan” dengan kadar sangat tinggi.

Kita semua perlu memahami adanya perbedaan antara efek samping dengan proses penyembuhan. Efek samping adalah suatu reaksi tubuh yang menolak terhadap pengobatan yang diberikan, dan ini biasanya diakibatkan oleh karena pengobatan sintetis atau kimia dimana unsur tidak alami ini dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh.

Sedangkan proses penyembuhan secara garis besar digolongkan menjadi 3, yaitu:

  1. Proses penyesuaian tubuh, dimana tubuh menyesuaikan sistem metabolisme untuk bisa memanfaatkan pengobatan yang diberikan. Reaksi yang mungkin muncul berbeda-beda pada tiap individu, misal: pusing, mual, sakit perut.
  2. Proses detoksifikasi, dimana tubuh mengeluarkan racun atau zat-zat berbahaya dari dalam tubuh ketika/setelah menerima pengobatan. Reaksi yang mungkin muncul: batuk-batuk, pilek, demam, gatal-gatal, borok, banyak mengeluarkan keringat, sering buang air kecil dan besar.
  3. Proses regenerasi, dimana setelah menerima pengobatan, tubuh menganti sel-sel lama dengan  sel-sel baru untuk memperbaiki sel, jaringan atau organ yang telah rusak. Reaksi yang mungkin muncul: rasa sakit pada bagian tubuh tertentu, kulit pecah-pecah, badan lemas, demam, dll.

Proses penyembuhan yang terkadang menimbulkan reaksi tidak nyaman di atas, harus dialami oleh tubuh supaya tubuh bisa mengalami kesembuhan. Jika Anda merasakan reaksi tidak mengenakkan setelah menggunakan pengobatan alternatif (termasuk terapi suplemen), dan kemudian Anda menghentikan pengobatan yang diberikan, itu sama saja dengan menghentikan proses penyembuhan.

Suatu reaksi bisa dkatakan merupakan suatu efek samping (tubuh menolak pengobatan yang diberikan) apabila setelah melewati 3 hari, kondisi penderita MAKIN BERTAMBAH PARAH pada saat pengobatan diteruskan. Reaksi-reaksi negatif ini biasanya terlihat langsung pada saat penderita mengonsumsi obat-obatan kimia yang tidak cocok dengan tubuh.

Semua orang juga tahu bahwa mengonsumsi obat kimia adalah berbahaya, sedangkan suplemen bisa kita konsumsi setiap hari.

.

“Katakan TIDAK pada Obat Kimia” – Visi Saya untuk Lingkungan dan Bangsa Indonesia

Berton-ton produk sintetis seperti sabun, shampoo, deterjen, pestisida, pengawet, kosmetik, dan obat-obatan telah dibuang ke tanah dan air kita Indonesia. Mudah dibayangkan apa yang akan terjadi 50 tahun kemudian di Indonesia jika kita tidak mengambil langkah bijaksana: Kita akan kehilangan air bersih kita yang sangat berharga.

Air merupakan komoditi yang sangat berharga dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita. Apa jadinya ekonomi, pariwisata, keagamaan, sosial, industri, dan kesehatan jika tanpa air bersih? Jawabannya hanyalah berupa hal-hal yang negatif: kemerosotan, kemunduran, bencana, penyakit, masalah, kehausan, dan masih banyak lagi lainnya.

Telah terbukti di Amerika dan belahan negara lainnya bahwa obat-obatan selain memiliki efek samping negatif bagi tubuh kita, ternyata juga memiliki efek negatif bagi lingkungan.

Tim United States Geological Survey telah menemukan “ikan bass dengan kelamin ganda” di Sungai Potomac dan sekitarnya. Ikan tersebut walaupun jantan ternyata memiliki telur.

Bagaimana jadinya jika hal seperti ini ditemukan di Indonesia? Mungkin bukan hanya pada ikan, tapi bagaimana halnya dengan hewan piaraan dan ternak yang meminum air tercemar ini? Apa yang terjadi dengan tanaman disekitar air yang tercemar? Bagaimana hasil panennya? Apakah aman untuk dikonsumsi padahal tanaman tersebut menyerap obat-obatan kimia?

Di tahun 1999, seorang gadis berusia 17 tahun bersekolah di SMA West Virginia, Ashley Mulroy, membaca laporan di suatu majalah ilmiah yang memberitakan bagaimana para ilmuwan Eropa telah menemukan “berbagai macam obat-obatan, termasuk antibiotik, ikut mengalir di sungai, selokan, air tanah, bahkan di air keran.” Setelah membacanya, dia memutuskan untuk melakukan penelitian ilmiah atas inisiatif sendiri. Selama 10 minggu, Ashley dan ibunya berkendara melintasi sepanjang Sungai Ohio, mengambil sampel air dari sisi-sisi sungai berbeda. Dia membawa pulang sampel tersebut dan didapati ada 3 antibiotik pada sampel air:  penicillin, tetracycline dan vancomycin.

Dia terkejut karena ternyata dia juga menemukan ketiga antibiotik ini pada semua sampel air yang dia ambil. Ashley kemudian mengambil sampel pada air keran di tiga kota terdekat. Ternyata ketiganya, termasuk air dari sumber air minum di sekolahnya, telah tercemar antibiotik.  Ashley pun akhirnya menerima beberapa penghargaan proyek ilmiah, dan yang lebih penting, dia telah membuka mata banyak para ilmuwan Amerika Serikat.

Ketika kita memproduksi obat-obatan kimia, mengkonsumsinya, dan membuangnya, kita tanpa menyadarinya telah merusak lingkungan dan diri sendiri. Dalam jangka panjang, tanpa sadar kita mewarisi kerusakan, penderitaan, dan penyakit pada anak-cucu kita sendiri.

Apakah ini yang Anda inginkan?

Saya percaya hati nurani Anda pasti berkata TIDAK.

Nah sekarang, tahukah Anda apa jawaban dari pertanyaan yang menjadi judul artikel ini? Katakan “Tidak” pada obat-obatan kimia. Anda bisa memanfaatkan terapi suplemen dari berbagai perusahaan MLM, karena produk-produk mereka adalah produk berkualitas yang murni mengolah alam ciptaan Tuhan dan dirancang untuk menyembuhkan, tidak sekedar merawat.

Oleh karena begitu banyak masyarakat yang buta mengenai kesehatan sehingga menjadi korban malpraktek atau korban dari pola makan dan hidup sendiri yang tidak sehat, saya membuka kursus-kursus online di Healindonesia, dimana masyarakat awam bisa belajar sains holistik modern secara online. Temukan solusi dari semua permasalahan kesehatan Anda dengan belajar sendiri ilmu pengobatan holistik modern di Healindonesia.com .

.

Healindonesia, Dt Awan (Andreas Hermawan)

Buat Akun Baru
Reset Password