Tunggu Giliran Anda Berikutnya, Malpraktek Di Rumah Sakit Juga Dialami Artis dan Dokter Senior

rmh sktKini media massa makin sering mengabarkan berita kasus-kasus malpraktek. Masyarakat sekarang mulai dilanda kekhawatiran akan keselamatan nyawa mereka jika memasrahkan diri menjalani rawat inap di rumah sakit. Kewaspadaan kita akan standar dan kualitas layanan kesehatan di rumah sakit HARUS kita tingkatkan karena dokter senior dan artis pun juga tidak bisa lepas dari kasus malpraktek.

Tidak peduli status apa yang Anda miliki maupun seberapa banyak uang Anda, semua bukanlah jadi jaminan dimana kasus malpraktek tidak akan menimpa Anda. Coba kita simak berita-berita unik berikut ini.

.

Ketika Dokter Menjadi Korban Malpraktek
HukumOnline.com, 29 Mei 2008

Lantaran keliru dalam menjalankan metode TUNA –Trans Urethal Needle Ablation– RS Omni Medical Center digugat oleh Salman, dokter senior yang berobat ke RS tersebut. Selain ganti rugi Rp35 juta, Salman juga meminta rekam medis penyakitnya.

Lazimnya yang menjadi korban malpraktek adalah pasien. Kali ini, justru seorang dokter senior yang menjadi korban malpraktek. Jangan kaget dulu. Dokter yang menjadi korban ini memang sedang pindah posisi sebagai pasien. Namanya, dokter Salman. Pria yang pernah berpraktek di Rumah Sakit (RS) Harapan Kita ini terpaksa menggugat rekan seprofesinya karena dianggap melakukan malpraktek.

Syahdan, Salman mengidap penyakit pembesaran prostat jinak dengan gejala sangat ringan. Pria berusia 74 tahun ini pun mendatangi RS Omni Medical Center untuk mengobati penyakitnya dengan metode Trans Urethal Needle Ablation (TUNA). Metode TUNA merupakan terapi yang diperkenalkan di Indonesia sejak 2004. Cara kerjanya adalah menusuk prostat dengan jarum yang diberi energi gelombang radio sehingga menghasilkan energi panas yang mengarah langsung ke prostat.

Tertarik dengan keampuhan metode TUNA melalui iklan di media massa, Salman berminat untuk menjajalnya. Singkat cerita, Salman mulai cari info soal metode TUNA itu di RS Omni Medical Center. Di tempat itu, ia ditangani oleh dokter Johan R. Wibowo. Belakangan, bukan kesembuhan yang ia terima, tapi malah kesakitan yang luar biasa. Salman mengaku mengalami pendarahan hebat, susah kencing, dan kencing berdarah.

Merasa dirugikan, Salman lantas menempuh jalur hukum. Melalui pengacaranya Virza Roy Hizzal, Salman mendaftarkan gugatan perbuatan melawan hukum ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur. Ia menggugat dokter Johan, PT Sarana Meditama Metropolitan (pemilik RS Omni Medical Center) dan Soekendro (Presdir RS Omni Medical Center). Para tergugat, kata Salman, telah lalai dan melakukan kesalahan dalam menjalankan metode TUNA.

Dalam gugatannya, Salman meminta para tergugat mengganti kerugian materil yang dialaminya sebesar Rp35 juta. Sedangkan kerugian immateril sebesar Rp300 juta.

Selain meminta ganti rugi, Salman meminta haknya yang lain, yakni fotocopy rekam medis (medical record). Virza mencatat ada dua hal penting terkait kehadiran rekam medis itu. Pertama, isi rekam medis sangat penting bagi penggugat untuk mengetahui informasi penyakit yang dideritannya demi keberlangsungan proses perawatan atau pengobatan atas diri penggugat.

hukum rekam medis

Dan kedua, isi rekam medis juga diperlukan untuk kepentingan proses pemeriksaan perkara maupun pembuktian dalam perkara. “Rekam medis ini sangat penting,” jelas Virza ketika ditemui hukumonline di PN Jakarta Timur, Rabu (28/5). Untuk itu, Virza memohon Majelis Hakim agar bisa menghadirkan bukti tersebut, sebagai tindakan pendahuluan.

Namun, Majelis menolak permintaan tersebut. Apalagi, perkara ini baru sidang awal. “Permintaan itu sudah masuk substansi perkara,” ujar Ketua Majelis Hakim Firdaus seraya mempersilahkan para pihak untuk melewati tahap mediasi terlebih dahulu.

Sementara itu, Kuasa Hukum RS Omni Medical Centre, Susi Tan, menolak berkomentar tentang kasus yang menimpa kliennya. Ia berdalih, perkara ini masih proses mediasi. “Ini kan belum masuk pokok perkara. Masih mediasi. Nantilah,” elaknya ketika dicegat hukumonline.

.

Pernah Dilaporkan ke Polisi

Ternyata, gugatan ini bukan yang pertama. Tahun lalu, Salman pernah melaporkan dokter Johan ke Polres Jakarta Timur. “Kami laporkan karena ada unsur penipuan dan kelalaian,” ujar Salman. Laporan itu sendiri kabarnya mandeg di Kepolisian. “Kasus itu katanya di SP3 (Surat Perintah Pemberhentian Penyidikan,-red),” ungkap Virza.

Meski mendapat kabar bahwa kasus tersebut telah di SP3, namun Salman sendiri mengaku belum menerima surat tersebut. Akibatnya, Salman kesulitan dalam mengajukan permohonan praperadilan. Apalagi, Salman menduga ada “permainan” dalam penghentian kasus ini. “Makanya kami adukan penyidiknya ke Propam,” tegas Salman.

Dihubungi secara terpisah, Dedy Kurniadi, Penasehat Hukum dokter Johan, menjelaskan penyidik Polres Jakarta Timur tidak menemui unsur pidana apapun dalam kasus itu. “Memang tak ada malpraktek berdasarkan penyidikan,” ujarnya melalui telepon.

Ia menegaskan polisi tidak sembarangan dalam mengeluarkan SP3. Tetapi, setelah melewati pemeriksaan beberapa saksi dan ahli. Ahli yang dihadirkan berasal dari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran (MKDK) Indonesia.

Diceritakan Dedy, kala itu MKDK berpendapat, jika seseorang diobati lalu ada efek pendarahan yang lebih dari yang diduga sebelumnya bukan berarti sebagai kelalaian. “Karena daya tahan tubuh masing-masing orang kan berbeda. Kesimpulannya tak ada yang memberatkan dokter Johan,” jelasnya.

Yang jelas, Salman sudah telanjur tak percaya dengan penjaga kode etik korpsnya itu. Makanya, gugatan perbuatan melawan hukum merupakan langkah selanjutnya yang diambil oleh dokter senior ini. (Ali)

Sumber: http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=19357&cl=Berita

.

.

Luna Maya Pernah Jadi Korban Malpraktek

Boleh.com, 04 Juni 2009

luna maya

Kekeliruan diagnosa penyakit atau biasa yang disebut malpraktek bukanlah hal baru di Indonesia. Salah satu korbannya adalah aktris asal pulau dewata, Luna Maya. Ditemui dalam acara World Food Programme pada kamis (4/6) siang di Plaza FX Jakarta, Luna sempat bercerita tentang malpraktek yang pernah dialaminya.

Ketika itu, tepatnya di tahun 2002, Luna merasakan sakit di sekitar perutnya. Namun pada awalnya ia menyangka kalau sakitnya disebabkan oleh sakit bulanan yang kerap dideritanya. Waktu terus berjalan, namun rasa sakit yang dirasakan Luna kian bertambah parah, segera berobat ke rumah sakit adalah pilihan yang paling tepat bagi Luna ketika itu.

“Aku datang ke salah satu rumah sakit, dan aku didiagnosa sakit maag. Kemudian aku diberikan obat maag yang harganya sekitar 350 ribu,” ujar Luna. Namun tidak disangka olehnya, pasca mengkonsumsi obat tersebut, sakitnya justru semakin parah.”Waktu itu aku udah ngga kuat jadi aku langsung minta masuk UGD dan dirawat,” kisah Luna yang juga seorang duta World Food Programme Indonesia.

Saat itu ia meminta dokter yang menangani adalah dokter yang sama ketika memeriksa dirinya. Namun sayangnya, untuk menunggu dokter yang sama ia harus menunggu hingga keesokan paginya.”Itupun aku harus nunggu lagi, karena dokternya lagi jogging pagi,” ungkap Luna.”Karena udah ngga kuat akhirnya aku diperiksa sama dokter lain,” lanjut Luna.

Alangkah terkejutnya Luna ketika mengetahui kalau hasil diagnosa dari dokter yang berbeda ia dinyatakan menderita usus buntu dan harus segera di operasi.”Nah bayangin aja kalo aku ngga cepet-cepet periksa, usus buntunya bisa pecah di perut dan jadi bahaya,” cerita Luna.

Berdasarkan pengalamannya tersebut Luna menganjurkan masyarakat dapat memilih dengan cermat rumah sakit atau dokter yang baik.”Ngga usah sampai ke luar negeri, karena tidak semua rumah sakit atau dokter dalam negeri itu buruk,” ungkap Luna dengan bijak. (Haco/jwr/bl)

Sumber: http://www.boleh.net.id/?mn=dtnews&s=lifes&id=148

.

.

Korban Malpraktek RS OMNI Merasa Diteror

TEMPO Interaktif, 11 Juni 2009

Jakarta: Ibu bayi kembar yang diduga menjadi korban malpraktek RS OMNI Alam Sutra, Tangerang, mengaku merasa diteror pihak manajemen RS OMNI. “Mereka berkali-kali menelpon saya. Saya merasa terganggu,” kata Juliana, ibu dari bayi kembar bernama Jared dan Jayden itu, lewat telepon, hari ini.

Menurut Juliana, dia melahirkan prematur di rumah sakit RS OMNI pada 26 Mei 2008. Saat itu usia kandungannya baru 33 minggu. Petugas medis memasukan anaknya ke dalam inkubator. Beberapa hari setelah itu, salah satu putranya didagnosi menderita kebutaan. “Yang mengalami kebutaan Jared, sedangkan Jayden silender dua setengah,” kata Juliana.

Untuk mengobati anaknya, Juliana terbang ke Australia. Dokter di sana mengatakan kerusakan mata anaknya sudah stadium 4. Kerusakan itu diduga akibat penanganan bayi lahir prematur yang tidak benar. “Menurut dokter, anak saya over oksigen,” kata Juliana lagi.

Setelah sebulan di Australia, Juliana dan bayinya kembali ke tanah air. Berbekal pemeriksaan dokter-dokter di Australia, dia mendatangi RS OMNI untuk meminta catatan medis bayinya selama ditangani rumah sakit itu. “Tapi mereka selalu menghindar,” katanya.

Dua bulan lalu, pihak rumah sakit meminta bertemu dengan Juliana dan suaminya. Dalam pertemuan itu manajemen memberi penjelasan tentang kondisi Jared dan Jayden selama dalam perawatan. “Tetapi kami tetap meminta catatan medis itu dan mereka juga tetap menghindar,” katanya.

Karena merasa disepelekan, Juliana kemudian menyerahkan kasus ini ke pengacara O.C. Kaligis. Dua hari kemudian, dugaan malpraktek ini dilaporkan ke Polda Metro Jaya. “Setelah OMNI tahu kasus ini saya serahkan ke Pak OC, mereka berkali-kali menelpon saya. Saya merasa tidak nyaman dan terteror,” katanya.

Juliana mengatakan, sebenaranya dia dan suaminya hanya menuntut permintaan maaf dari manjemen RS. OMNI. Namun karena tidak pernah ada itikad baik dari manajemen, mereka akhirnya memilih jalur hukum. (Suseno)

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/layanan_publik/2009/06/11/brk,20090611-181376,id.html

.

Anda sendiri tahu bahwa berita-berita kasus malpraktek yang HEBOH selain di atas ada banyak seperti misalnya kasus Prita Mulyasari, Ana Kusmanto, Rahmawati, Ade Irma Efendy, Adya Vitri Harisusanti, Dherens Kusmanto, Irwanto, Dody Sudrajat, Ade Irma Effendi, Fatullah, Murnawati, dan masih banyak lagi lainnya. Malpraktek pada kasus-kasus HIV/AIDS pun marak terjadi. Ini adalah REALITA bahwa banyak dokter medis tidak mengamalkan sumpah yang mereka sendiri ucapkan. Sudah jadi rahasia umum bahwa dokter-dokter yang mengejar setoran telah memicu kejadian-kejadian malpraktek di sekitar kita.

Keluarga, dan teman-teman saya sendiri pernah menjadi korban malpraktek. Sepertinya tinggal giliran Anda atau keluarga Anda yang menjadi korban berikutnya. Atau mungkin sudah?! Terus siapakah yang dipersalahkan dalam hal ini?

Banyak orang tidak tahu bahwa ilmu pengobatan itu mudah dipelajari dan TIDAK HARUS mengikuti pendidikan formal untuk memahami kesehatan dan teknik penyembuhannya. Banyak orang tidak tahu bahwa untuk sembuh pasien TIDAK HARUS diberikan obat atau operasi.

Banyak pasien juga frustasi dengan penyakit atau kondisi mereka yang tak kunjung sembuh, walaupun sudah berobat kemana-mana. Pasien tidak tahu bahwa mereka bisa mengubah “nasib” mereka, yaitu dari seorang pasien, berubah menjadi seorang DOKTER SEJATI.

Oleh karena ketidaktahuan, sudah banyak masyarakat telah menjadi korban malpraktek. Mereka tidak tahu banyak tentang obat-obatan kimia, sistem dan standar pengobatan di medis konvensional, serta bagaimana mewaspadai perawatan yang diterima selama di rumah sakit.

Melihat kondisi masyarakat seperti ini, saya membuka kursus-kursus di Healindonesia dengan visi utama yaitu membuat masyarakat awam untuk bisa bangkit dan berubah dari pasien menjadi “Dokter Sejati”, menjadi “Agen Pembawa Perubahan” serta menjadi “Jawaban Doa” bagi banyak orang.

Di Healindonesia, Anda bisa belajar sains holistik modern secara online. Temukanlah solusi dari semua permasalahan kesehatan Anda dengan BELAJAR SENDIRI ilmu pengobatan holistik modern di sini.

Seperti ungkapan bijak Thomas Alva Edison, ““Dokter masa depan tidak lagi memberi obat, namun akan menempatkan kepentingan pasiennya dalam rangka bimbingan kemanusiaan, bimbingan pengaturan pola makan, dan mengenai penyebab serta pencegahan penyakit.”; inilah era dimana semua orang, terlebih pasien bisa menjadi dokter sejati!!!

Healindonesia, Dt Awan (Andreas Hermawan)

Register New Account
Reset Password

KONSULTASI GRATIS

Konsultasikan permasalahan kesehatan Anda dengan cara klik DI SINI.

Konsultasi!