Seri Berpikir Holistik: Memahami Prinsip Penyembuhan dari Perumpamaan Tentang Petani

Artikel ini saya tulis untuk membantu Anda memahami prinsip-prinsip dasar penyembuhan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu belajar dari petani. Perumpamaan ini akan menjawab beberapa pertanyaan mendasar seperti misalnya apa itu penyembuhan, mengapa harus holisik, mengapa harus alami, dan berapa banyak yang gagal dan berhasil di suatu pengobatan. Jadi dengan memahami perumpamaan ini akan membantu Anda untuk bisa jadi “penyembuh sejati.”

.

Apa Itu Penyembuhan?

Seperti kita ketahui bahwa untuk bisa panen jagung diperlukan beberapa pihak yang bekerja melakukan bagian atau perannya masing-masing. Misal: Ada yang menabur benih, ada yang memberi pupuk, ada yang menyiram, dan ada yang memanen. Tapi untuk pertumbuhan, Tuhan-lah yang menentukan dan mengijinkan.

Sama dengan penyembuhan, dokter atau praktisi kesehatan adalah petani yang menabur, memberi pupuk, menyiram, dan yang memanen. Panen adalah kesembuhan seorang pasien. Sedangkan pertumbuhan adalah proses alami dari suatu kesembuhan, dan untuk yang satu ini hanya bisa dilakukan dalam “karunia” / seijin Tuhan.

Kita lihat bahwa tujuan dari kegiatan bertani jagung (menabur, memberi pupuk, menyiram, dan memanen) adalah panen jagung. Berarti tujuan dari kegiatan suatu pengobatan tertentu seharusnya adalah kesembuhan seorang pasien, bukan sekedar merawatnya. Saya tekankan sekali lagi, KESEMBUHAN, BUKAN SEKEDAR MERAWAT. Merawat itu artinya sekedar  diproses pertengahan, tidak sampai tuntas atau selesai.

Proses ini bisa saja sekedar di tahap menabur, memberi pupuk, atau menyiram saja. Paling tidak menyenangkan adalah jika terus menerus macet di pemberian pupuk artinya tak henti-hentinya memberi obat entah sampai berapa banyak uang yang dihabiskan untuk membeli obat/pupuk ini. Tapi bahaya dari sekedar merawat ini cukup fatal, yaitu rusaknya jagung yang ditanam. Kebanyakan pupuk akan membunuh jagung tersebut. Artinya, kebanyakan obat akan membunuh pasien karena si petani/dokter hanya bertujuan memupuk/merawat saja.

Jadi seorang petani/dokter sejati harus melakukan semua bagiannya dengan lengkap dengan tujuan utama panen jagung/kesembuhan pasien.

.

Dokter Sejati adalah Rekan Kerja Tuhan untuk Memberkati dan Menyembuhkan Umatnya

Tuhan ingin memberkati umatnya dengan panen-panen, supaya panen itu akhirnya bisa membuat umatnya kenyang, ekonomi mereka tercukupi, dan bisa terus melangsungkan hidup sambil bersyukur kepada-Nya.

Artinya, Tuhan ingin memberkati umatnya dengan kesembuhan dari suatu penyakit, supaya dengan kesehatan tersebut umatnya bisa bekerja, makan minum, bersosialisasi, dan menikmati sambil bersyukur kepada-Nya.

Jadi, dokter sejati adalah rekan kerja Tuhan untuk memberkati dan menyembuhkan umat-Nya.

.

Mengapa Harus Holistik?

Untuk bisa bertani sampai panen, petani harus memahami dan memperhatikan banyak hal, tidak hanya satu hal saja. Misal, ia harus memahami tentang cuaca, sifat tanah, hama, pupuk, sifat tanaman yang ditanam, modal uang yang diperlukan, manajemen waktu bertani, peralatan yang tepat, siapa yang bisa diajak bekerjasama, sifat angin, cara menabur, cara menyiram, cara memupuk, cara memanen, bagaimana bersyukur, berdoa untuk panennya, dan lain-lain.

Jadi untuk bisa sukses dalam bertani sampai bisa panen, petani sejati harus memahami semua unsur ini karena semuanya adalah elemen-elemen bertani yang tidak bisa dipisahkan.

Holistik bukan berasal dari kata holy atau kudus, yang memberikan kesan bahwa penyembuhan holistik adalah penyembuhan supranatural. Artinya bukan itu. holistik diambil dari kata whole (menyeluruh) atau dari pandangan holisme (dari bahasa Yunani ὅλος holos, yang artinya semua, keseluruhan, total) yaitu suatu pandangan bahwa semuanya di sistem alam semesta ini (sistem fisik, biologis, kimia, sosial, ekonomi, mental, bahasa, dll) tidak bisa ditentukan atau dijelaskan secara bagian-bagian terpisah saja, tapi dijelaskan secara keseluruhan.

Itu berarti jika seorang dokter ingin sukses dalam MENYEMBUHKAN (bukan sekedar merawat) pasiennya, ia tidak boleh hanya memperhatikan satu atau dua hal saja seperti misalnya hanya memperhatikan gejalanya sehingga hanya mengobati gejala bukannya mencari akar penyakit sehingga mengobati akar penyakit tersebut. Dokter sejati juga tidak boleh hanya memperhatikan fisik saja, tapi juga harus memperhatikan kebiasaan makan dan hidup pasien sehingga bisa didiagnosa apa penyebab dari suatu penyakit dan bagaimana menyembuhkannya.

Inilah prinsip penyembuhan holistik dimana keberhasilan dan kegagalan sangat ditentukan olehnya.

.

Mengapa Harus Tetap Alami?

Petani yang hebat adalah petani yang bisa menggabungkan teknologi dengan alam. Dia bisa memakai traktor untuk membajak, memakai mesin penuai, mesin penyiram, dan mesin penabur. Tapi dia harus ingat bahwa ladang adalah alam jadi tidak boleh lupa dengan unsur alam dan Hukumnya.

Banyak hal bisa dilakukan dengan mesin, tapi ada juga beberapa hal yang tidak bisa bahkan tidak boleh dilakukan oleh mesin, seperti misalnya keaslian biji atau benih, keaslian unsur nutrisi bagi tanaman, keaslian dan kemurnian air, bersyukur dan berdoa untuk panen, mencurahkan perasaan dan perhatian ke tanaman, dan lain sebagainya.

Jadi petani harus bisa menggabungkan teknologi mesin dengan alam, serta tahu batasan-batasan keduanya. Selain itu, untuk bisa menikmati hasil panen asli/alami, petani tidak boleh melepaskan unsur alami.

Teknik penyembuhan terbaik adalah yang bisa menggabungkan teknologi dan alam, serta tahu batasan-batasan keduanya. Selain itu, untuk bisa menikmati hasil kesembuhan asli/alami, dokter tidak boleh melepaskan unsur alami.

Dokter/praktisi medis holistik modern juga memakai peralatan medis dan laboratorium, tapi jarang bahkan bisa tidak pernah memakai obat-obatan kimia. Dokter/praktisi holistik modern juga memakai tindakan operasi medis, karena tidak semua dokter holistik menguasai ilmu pembedahan supranatural (ya benar, ilmu pembedahan supranatural ini ada dan tanpa mengeluarkan darah!).

Tapi dokter holistik modern sangat mengandalkan pengobatan alami dan terapi alami karena pasien adalah bagian dari alam, bukan mesin, dan untuk mendapatkan kesembuhan alami, keaslian alam harus tetap diutamakan. Pasien tentu akan lebih memilih memiliki jantung asli untuk sehat dibandingkan jantung yang perlu alat pemacu jantung. Pasien tentu akan lebih bahagia jika masih memilki kedua ginjal yang sehat dan asli miliknya sendiri, dibandingkan ginjal cangkokan tapi masih memiliki efek samping dari cangkokan tersebut.

.

Pestisida, Pupuk dan Benih Buatan, bisa Merusak Lingkungan dan Tanaman Itu Sendiri

Iya benar! Pestisida, pupuk dan benih buatan, bisa merusak lingkungan dan tanaman itu sendiri! Itulah akibatnya jika suatu pengobatan sangat menekankan dan mengandalkan unsur-unsur tidak alami. Supaya Anda bisa lebih paham, saya ajak Anda untuk menyimak artikel berikut:

PRODUKSI IKAN DI GARUT TURUN AKIBAT OBAT KIMIA

Selain maraknya serangan hama tikus akibat pengubahfungsian lahan sawah dan tak seragamnya pola tanam padi, sejumlah petani ikan di Desa Simpangsari dan Pakuwon Kec. Cisurupan, Kab. Garut juga mengeluhkan menurunnya produksi pembesaran maupun pembenihan ikan dalam beberapa tahun terakhir. Terutama sejak banyak lahan persawahan diubahfungsikan menjadi lahan pertanian palawija atau sayuran.

Para petani ikan menduga, menurunnya produksi ikan itu karena adanya penurunan kualitas air akibat tercemar pupuk dan obat-obatan kimia yang dipergunakan petani yang sudah berlebihan. Ditambah pencemaran belerang dari kawah Gunung Papandayan yang terbawa aliran sungai sejak gunung tersebut meletus pada 2002.

Menurut mantan Kepala Desa Simpangsari, H. Uju, Kamis (11/5), sejak lama daerah Simpangsari dan sekitarnya terkenal sebagai sentra perikanan, terutama mina padi. Artinya, sambil menunggu bibit tanaman padi tumbuh dewasa, petani bisa sekaligus menanam ikan pada lahan sawahnya. Dengan pola tersebut, petani bisa memperoleh keuntungan panen padi dan ikan.

Beberapa tahun lamanya, petani di sana bisa menikmati ikan-ikan yang dibudidayakan dengan pola mina padi itu berukuran besar-besar dan sehat. Hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan, benih ikan mas yang tadinya berukuran sebesar jari, bisa tumbuh sebesar telapak tangan orang dewasa.

.

Tingkat Kematian

Tetapi, tutur Uju, sejak banyak penduduk menggadaikan atau menyewakan lahan sawah miliknya untuk dijadikan lahan perkebunan palawija atau sayuran, pertumbuhan ikan mina padi tersebut sangat lamban. Tingkat kematian ikan juga cukup tinggi karena mudah terkena penyakit. Belum lagi hama tikus yang malah kian marak bila sawah digunakan untuk mina padi.

“Pembenihan ikan yang biasanya menghasilkan 10 kg dengan ukuran sedang dari satu ekor induk ikan mas, sekarang paling-paling hanya 4 kg. Seringkali hanya 1 kg,” keluh Uju.

Uju menduga, kondisi seperti itu terjadi terkait kualitas air sudah menurun karena tercemar pupuk dan obat-obatan kimia dari lahan palawija dan sayuran. Hal ini diperparah dengan pencemaran zat beracun, seperti belerang dari kawah Gunung Papandayan yang terbawa aliran Sungai Ciparugpug. Selain Desa Simpangsari, desa lainnya yang terlintasi aliran Sungai Ciparugpug antara lain Desa Pakuwon, Pangauban, dan Cipaganti.

.

Mati Mendadak

Hal senada dikemukakan Asep Jamjam (26), warga Kp. Rancabolang Simpangsari disertai Ketua BPD Pakuwon Komarudin. Menurut Asep, pencemaran air terlihat, terutama di saat hujan turun. Saat itu, banyak ikan mati mendadak atau menjadi borok-borok tak lama kemudian.

Petugas Puskesmas Simpangsari, H. Ade Suryana mengakui kemungkinan penurunan kualitas air di Desa Simpangsari maupun Pakuwon dan sekitarnya akibat pencemaran pupuk dan obat-obatan kimia sudah parah.

Sumber: GARUTKAB.GO.ID, 15/05/2006

.

Artikel di atas adalah salah satu contoh akibat penggunaan teknologi yang “melewati batas”. Begitu juga dengan standarisasi medis konvensional yang mengandalkan obat-obatan kimia dan operasi, keduanya jika tidak memakai prinsip holistik akan merusak tubuh pasien dan juga mencemari lingkungan.

.

Seberapa Besar Tingkat Keberhasilan dan Kegagalan Holistik?

Ada beberapa orang bertanya bila sesuatu penyakit diobati dengan cara holistik,berapa banyak yang sembuh dan berapa banyak yang mati. Pertanyaan ini memang perlu jawaban karena mengetahui perbandingan dari keberhasilan dan kegagalan suatu pengobatan adalah sangat penting.

Untuk bisa menjawab pertanyaan ini dengan tepat, benar, tapi sederhana karena bisa dibuktikan sendiri, kita perlu sadari bahwa mengapa seseorang menanyakan pertanyaan ini sebenarnya adalah untuk memastikan keamanan dari pengobatan holistik jika dibandingkan medis konvensional.

Pertanyaan ini hanya bisa dilakukan dengan cara survey formal untuk melihat prosentase keberhasilan dan kegagalan dari pengobatan medis konvensional dan pengobatan holistik. Tapi sekarang perlu kita sadari, mampukan Anda atau pemerintah melakukan survey tersebut dalam jangka waktu dekat (kurang dari satu bulan), padahal setiap hari ada orang-orang sekarat di sekitar kita dan butuh pengobatan yang tepat sesegera mungkin. Jadi Anda perlu “ALAT UKUR LAIN” atau mengganti metode untuk bisa menilai mana yang lebih efektif dan aman, pengobatan medis konvensional atau pengobatan holistik?

Ada banyak cara untuk bisa mengukur perbedaan berat badan antara 2 orang, yaitu dengan cara menimbang ditimbangan biasa, menimbang ditimbangan elektrik, dengan cara merendam mereka dibak air dan melihat mana yang lebih banyak menumpahkan air bak, atau dengan cara menggendong satu-satu sehingga tahu mana yang lebih berat diantara keduanya. Semua metode pengukuran tesebut benar untuk sekedar membandingkan mana yang lebih berat di antara keduanya.

Nah, sama juga jika kita ingin mengetahui mana yang lebih efektif dan aman, pengobatan medis konvensional atau pengobatan holistik, itu bisa dilakukan dengan banyak cara atau metode. Metode perbandingan yang bisa dipakai bisa dengan cara:

  1. Mengetahui perbandingan “kuantitas akurat” dari berapa banyak yang berhasil dan gagal.
  2. Mengetahui perbandingan “keunggulan dan kekurangan”.
  3. Mengetahui perbandingan “dampak yang ditimbulkan”.
  4. Mengetahui perbandingan “dari mengalami dan mempraktekkannya” sendiri (jadi merasakan keduanya, bukan salah satu).

Dari keempat metode di atas, manakah yang lebih sederhana, cepat diketahui jawabannya, dan mudah dilakukan sendiri? Tentu saja metode selain 1 dan 4. Tapi yang paling susah adalah nomer satu. Pemerintah sendiri akan susah dan perlu banyak dana untuk bisa mengadakan survey yang menjawab metode nomer satu.

Ketika Anda merenungkan perumpaman petani di atas, seharusnya ini sudah membantu Anda untuk bisa menentukan metode pengukuran pengobatan mana yang lebih efektif. Ini adalah bentuk metode 2 dan 3.

Jika Anda masih mengalami kesulitan untuk mengetahui mana yang lebih efektif dan aman, silahkan baca artikel saya yang lain:

Perlu diingat bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna, jadi yang bisa kita harapkan adalah pengobatan yang LEBIH baik, bukannya pengobatan yang SEMPURNA. Jika ada yang lebih baik, untuk apa Anda mempertaruhkan masa depan dan nyawa Anda pada pengobatan yang kurang baik?

Menutup  artikel ini saya kutip beberapa pernyataan dari tokoh-tokoh ternama yang memiliki pemikiran holistik, untuk bisa dijadikan renungan bersama.

“Semua kebenaran melalui tiga tahapan. Pertama, ia dicela. Kedua, ditentang habis-habisan. Ketiga, ia diterima sebagaimana benar adanya.”

Arthur Schopenhauer

“Yang terpenting adalah jangan berhenti untuk mempertanyakan segala sesuatu.”

Albert Einstein.

“Salah satu tugas utama seorang dokter adalah mendidik masyarakat untuk tidak mengambil obat kimia”

Sir William Osler (1848 – 1919)

“Dokter masa depan tidak lagi memberi obat, namun akan menempatkan kepentingan pasiennya dalam rangka bimbingan kemanusiaan, bimbingan pengaturan pola makan, dan mengenai penyebab serta pencegahan penyakit.”

Thomas Alva Edison

Healindonesia, Dt Awan (Andreas Hermawan)

Buat Akun Baru
Reset Password