Taklukkan Autis Anak dengan Pengobatan Holistik Modern

Autis merupakan gangguan kesehatan pada anak yang hampir tidak bisa disembuhkan. Berbagai pengobatan, perawatan atau terapi umum untuk mengatasinya selalu mahal, tidak praktis, serta sedikit memberikan kemajuan. Apalagi untuk kesembuhan, terapi konvensional sampai saat ini belum berhasil memberikan solusi kesembuhan yang memuaskan bagi autis. Dengan teknik pengobatan holistik modern, kans kesembuhan bisa dicapai 50-100%, melalui pemberian makanan sehat tertentu, program detoksifikasi, dan menghindari faktor penyebab autis.

 

ANAK AKTOR JIM CARREY SEMBUH DARI AUTIS

Evan (5 tahun), anak laki-laki dari Jim Carrey dan Jenny McCarthy telah sembuh dari autis dengan terobosan pengobatan holistik yang menganjurkan diet bebas gluten, diet bebas kasein, suplementasi vitamin, program detoksifikasi logam, serta terapi antifungal  untuk menghilangkan pertumbuhan kandida berlebih dalam ususnya. Ketika fungsi otaknya telah pulih melalui program-program terapi tersebut, terapi lainnya diberikan untuk membantu Evan memperoleh kemampuan bahasa dan keterampilan yang terlewati di masa-masa ia masih “terpenjara” dalam autismenya.

Ketika kondisi Evan dievaluasi kembali oleh para dokter, mereka terheran-heran dengan kemajuan yang ada. Carrey dan McCarthy percaya bahwa autisme merupakan penyakit karena faktor lingkungan dan salah satu penyebab utamanya adalah vaksin.

Sumber:  CNN April 3, 2008

.
GEJALA AUTISME HILANG SESUDAH MEMAKAI PRODUK LEBAH

Perawatan dengan terapi produk perlebahan secara rutin selama kurang lebih 6 bulan, bisa memberikan perkembangan menakjubkan mengatasi autisme. Produk perlebahan tersebut adalah madu, bee pollen, royal jelly dan propolis. Namun, tidak semua produk perlebahan bisa memiliki efek terapeutik seperti ini karena tergantung dari faktor sumber lebah yang dipakai, proses pabrikasi, keaslian, tanaman yang dikunjungi lebah, dan daerah geografis. Mari kita simak 2 contoh kesaksian di bawah ini untuk bisa lebih memahaminya.

.

Kesaksian Rayhan G. Rifqie (Aldo), 5,5 tahun, Yogyakarta

Putera saya, Aldo, lahir di Pontianak pada tahun 2000 melalui operasi caesar. Pada umur 5 bulan, mulai terlihat keanehan pada Aldo. Pandangannya tidak dapat fokus, dan pada waktu mulai berjalan sering membenturkan kepalanya ke dinding, belum dapat berbicara, hiperaktif, dipanggil sering acuh, sering berbicara sendiri yang tidak jelas artinya. Sepertinya ia mempunyai dunianya sendiri.

Pada usia 1,5 tahun, Aldo melakukan test BERA (Brain Evoked Response Audiretry) yaitu test untuk mendeteksi apakah pendengaran anak-anak berfungsi dengan baik di laboratorium RSU Dr. Sardjito, dan dinyatakan tidak ada gangguan. Sedangkan hasil test EEC menunjukkan adanya gangguan pada syaraf otaknya. Kemudian melakukan tes psikologis tumbuh kembang anak dan dari hasilnya diketahui adanya kecenderungan mengarah ke autisme. Kemudian, dari hasil tes virus, juga diketahui bahwa terdapat virus Rubella +126 pada syaraf di tubuhnya. Selain itu, Aldo juga pernah diimunisasi MMR (Measles, Mumps, Rubella) untuk mencegah campak, gondongan, dan campak Jerman.

Setelah itu, selama 1 minggu, Aldo mengalami panas tinggi, dan ciri-ciri autisnya semakin jelas terlihat, seperti memukul-mukulkan tangan tanpa sebab yang jelas, jalan berjinjit, suka berteriak-teriak, sulit makan, sulit BAB, emosinya tinggi. Pada usia 2 tahun, Aldo mulai bersekolah di TK autis Dian Amanah, dan mulai menggunakan produk-produk X, seperti Bee Pollen X dan Madu X.

Setelah mengonsumsinya selama 3 hari, konsentrasi belajarnya semakin meningkat dan nafsu makannya semakin membaik. Dan selama kurang lebih 6 bulan mengonsumsi produk X, banyak perkembangan yang semakin membaik, seperti konsentrasi belajar dan nafsu makan yang membaik, BAB lancar, tingkat hiperaktifnya berkurang, tidak lagi rentan terhadap penyakit radang tenggorokan dan flu, seperti sebelumnya. Enam bulan kemudian, saya menambahkan Propolis untuk dikonsumsi Aldo. Virus dalam tubuhnya pun mulai hilang, bicaranya semakin jelas dan terarah, walaupun masih meniru (Echolalia), ciri-ciri autismenya pun semakin menghilang.

.

Kesaksian Lisa, 30 Tahun. Pangkal Pinang

Pada awalnya anak saya tidak menunjukan kelainan apapun, sikap dan tingkah lakunya pun normal. Tetapi ketika menginjak usia 3 tahun, sikapnya mulai berubah. Dia senang bermain sendiri dan menjadi sangat nakal. Saya sudah mencoba berbagai macam pengobatan, tetapi tidak kunjung memberikan hasil. Setelah menjalani beberapa tes dan terapi, akhirnya diketahui bahwa anak saya menderita autis hiperaktif.

Walaupun saya memasukannya di sekolah umum, namun sikap dan tingkah lakunya tidak berubah. Pada suatu hari, seorang teman saya menawarkan produk perlebahan X kepada saya. Sejak saat itulah saya mulai memberikan Madu X, Bee Pollen X, Royal Jelly X, dan Melatonin kepada anak saya.

Semenjak mengonsumsi produk X hingga saat ini, anak saya sudah menunjukan banyak perubahan. Saat ini anak saya sudah dapat mandi dan makan sendiri, bisa bermain sepeda, dan mau diajak berkomunikasi. Keluarga saya saat ini juga mengonsumsi produk X. Terima kasih perusahaan X yang telah membantu proses penyembuhan anak saya.

.

Seperti Anda lihat dari ketiga kasus di atas (kasus anak Jim Carrey dan 2 kasus lokal), untuk menaklukkan autisme pada anak bisa dilakukan melalui pemberian makanan sehat tertentu, program detoksifikasi, dan menghindari faktor penyebab autis. Jika Anda ingin mengalami hasil kesembuhan yang sama, Anda bisa meniru program-program terapi mereka.

.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB AUTISME

Profesor Baron-Cohen percaya bahwa kombinasi dari faktor genetika dan lingkungan seperti misalnya pestisida serta paparan hormon berlebih saat di dalam kandungan adalah faktor potensial dibalik meningkatnya angka penderita autis. Disamping itu, Dr. Blaylock dalam bukunya menyebutkan bahwa vaksin pada anak juga faktor yang tinggi penyebab autis, disamping faktor terpapar merkuri dan aluminium.

Faktor lingkungan pemicu autisme yang tidak bisa diremehkan meliputi:

  • Merkuri – Sudah merupakan fakta tak terbantahkan bahwa terpapar mercuri akan dapat membuat daya tahan tubuh, sensor tubuh, syaraf otak, dan kemampuan gerak jadi terganggu, dimana ini semua merupakan kondisi dari autisme. Thimerosal, yang ditambahkan pada vaksin, merupakan sumber utama adanya merkuri pada anak yang telah melampaui ambang keamanan.
  • Virus pada Vaksin – Vaksin mengandung berbagai agen aktif termasuk virus, bakteri mati, dan zat kimia beracun termasuk aluminium, merkuri, dan formaldehyde. Walaupun kebanyakan pihak memfokuskan merkuri sebagai penyebab autis, kandungan virus di dalam vaksin juga tidak bisa disepelekan.

Dalam hal ini, infeksi virus mengacaukan reaksi sistem imun sehingga bukannya melindungi tubuh dari musuh, sistem imun malah menyerang organ sang anak, dimana dalam kasus autis, organ yang paling utama diserang adalah otak. Namun, permasalahan pada saluran pencernaan juga umum terjadi pada reaksi sistem imun yang berlebihan tersebut.

Keterkaitan paling kuat ada pada antibodi virus campak (dari vaksin campak rubella) dengan anti protein dasar myelin (MBP = Myelin Basic Protein), yang memperlihatkan bahwa vaksin campak bisa memicu respon autoimun yang mengganggu perkembangan myelin.  Jika myelin dalam otak anak tidak berkembang dengan baik, jaringan saraf tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga menimbulkan ketidaknormalan otak sebagai gejala utama autisme.

Ketika tidak dicerna oleh tubuh, protein susu yang disebut kasein, menghasilkan exorphin, yaitu komponen serupa morphine, yang kemudian diserap oleh otak dan menimbulkan disfungsi sel.

Para peneliti telah menemukan bahwa exorphin diserap oleh 32 area berbeda di otak manusia, termasuk area untuk penglihatan, pendengaran, dan komunikasi, yang jika semuanya mengalami gangguan,dampaknya menjadi gejala-gejala yang ada pada autisme dan schizophrenia.

  • Teknologi Wireless Journal of the Australasian College of Nutritional & Environmental Medicine: mempublikasikan suatu penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa radiasi elektromagnetik dari HP, BTS, perangkat Wi-Fi dan teknologi wireless lainnya berhubungan dengan resiko autisme.

Setelah 5 tahun meneliti anak-anak penderita autis, mereka menemukan bahwa radiasi elektromagnetik memberi dampak negatif pada membran sel, sehingga memudahkan terjadinya keracunan logam berat yang menumpuk dalam tubuh dan mengakibatkan autisme.

Radiasi elektromagnetik dapat menyebabkan logam berat terkeperangkap di dalam sel-sel saraf, sehingga menimbulkan berbagai gejala keracunan logam berat dan mengganggu kemampuan alami tubuh dalam menghilangkan berbagai racun.

.

BAGAIMANA MENDETEKSI AUTISME PADA ANAK?

Pada tanggal 29 Oktober 2007, American Academy of Pediatrics (AAP) mengeluarkan pemberitaan resmi yang berisi detail informasi tanda dan gejala autism. Tanda-tanda awal, dimulai dari sejak umur 18 bulan, yaitu:

  • Tidak mau menoleh ketika Anda menyebutkan namanya.
  • Tidak mau menoleh dan fokus ketika Anda menunjukkan sesuatu dan berkata, “Lihat tuh… “ dan tidak mengekspresikan ketertarikan akan sesuatu benda atau peristiwa.
  • Tidak mampu berkomunikasi secara dua arah.
  • Menghindari kontak mata dengan orang lain.
  • Cenderung memegang atau mengambil benda-benda keras seperti misalnya pulpen, kunci, patung, dan lain-lain daripada boneka, bantal atau selimut.

Berdasarkan laporan penelitian mereka:

Beberapa “bendera merah”yang merupakan indikasi absolut untuk diadakan evaluasi segera yaitu: tidak ada gumaman (babbling) atau menunjuk sesuatu atau gerakan isyarat lainnya di usia 12 bulan; tidak ada satu kata pun di usia 16 bulan; tidak ada 2 patah kata dari ungkapan spontan di usia 24 bulan; serta kehilangan kemampuan bicara atau kemampuan sosial di segala usia.

.

BAGAIMANA CARANYA MENGHINDARI DAN MENAKLUKKAN AUTISME?

Beberapa langkah atau cara untuk menghindari dan menaklukkan autisme yaitu:

1. Waspadai pemberian vaksin, termasuk program yang diwajibkan. Untuk membantu Anda mendapatkan detail pengetahuan mengenai vaksin yang kontroversial, Anda bisa memanfaatkan fasilitas Search Engine Internet dengan kata kunci “vaccine hoax danger”.

Atau Anda bisa membeli buku yang berjudul “Children With Starving Brain” karya Jaquelyn McCandless, diterjemahkan dan diterbitkan oleh Grasindo. Penulis buku ini adalah seorang dokter yang sangat berpengalaman dan juga nenek yang sangat perhatian terlebih bagi cucunya, Chelsey, yang terdiagnosa autis. Buku yang diciptakannya begitu sarat akan sumber informasi yang kompeten, praktis, dan mudah dipahami. Bila Anda tertarik dalam penanganan biomedis yang efektif bagi autisme, Anda memerlukan buku ini.

Ada pendapat bahwa pemberian vaksin yang mengandung Thimerosal masih tergolong aman karena atas dasar jumlah anak-anak penderita autis lebih sedikit dibandingkan yang tidak menderita autis setelah diberikan vaksin. Beberapa pihak menyimpulkan bahwa Thimerosal tidak mengakibatkan autisme, bila anak kita sehat dan tidak berbakat autisme. Tetapi diduga imunisasi dapat memicu memperberat timbulnya gangguan perilaku pada anak yang sudah mempunyai bakat autisme secara genetik sejak lahir.

Pernyataan tersebut ada benarnya bahwa bagi kebanyakan anak tidak punya “bakat” terhadap autisme. Namun perlu dipertimbangkan juga, bagaimana kita bisa tahu pasti apakah anak kita punya bakat autisme atau tidak, kalau tidak dengan cara SUDAH MENDERITANYA?! Apakah Anda mau Anda menderita autis terlebih dahulu baru diketahui bahwa, “Oh anak saya ternyata ada bakat autis”?!

Ada banyak cara melindungi anak dari berbagai penyakit tanpa harus vaksin dan bahkan jauh lebih aman dibandingkan vaksin, seperti misalnya pemberian ASI yang baik, suplementasi multivitamin dan multimineral, serta menjaga anak dari mengonsumsi makanan-minuman tidak sehat.

2. Lindungi anak Anda supaya SEMAKSIMAL MUNGKIN terhindar dari racun lingkungan seperti misalnya pestisida, herbisida, merkuri, aluminium, dan fluoride pada makanan-minuman serta produk perawatan tubuh.

3. SEMAKSIMAL MUNGKIN lindungi anak Anda dari paparan radiasi HP, Wi-Fi, dan teknologi wireless lainnya karena anak-anak sangat rentan terhadap bahaya radiasi elektromagnetik dibandingkan orang dewasa.

4. Berikan anak Anda makanan dan minuman yang kaya akan enzyme, multimineral, multivitamin, protein, dan lain-lain. Anda bisa menambahkan suplemen tertentu untuk memenuhi kebutuhan gizinya seperti misalnya dengan madu, royal jelly, bee pollen (bee pollen adalah makanan terlengkap kedua sesudah ASI), propolis, VCO, Transfer Factor, minyak ikan, dan lain-lain.

5. Menghindari susu olahan adalah KEHARUSAN bagi penderita autis. Siapapun yang tidak melakukannya dalam menangani autis sama saja dengan menipu diri sendiri karena penderita autis memiliki permasalahan kasein pada susu. Ini juga termasuk semua produk susu seperti misalnya es krim, yogurt, dan keju.

6. Selama masa terapi, hindarkan anak Anda dari gula (kecuali dari madu, gula aren, dan pemanis stevia), pemanis buatan, minuman jus buah olahan, soda, french fries, dan tepung terigu.

7. Penuhi kebutuhan anak akan vitamin D baik dari mengonsumsi minyak ikan atau terpapar sinar matahari selama 10-20 menit di antara jam 10.00 – 14.00. Vitamin D akan membantu otak anak untuk terhindar atau menaklukkan autisme. Detail info mengenai terapi matahari di kala siang bisa Anda lihat di link:

https://healindonesia.com/2009/06/27/sinar-matahari-yang-sehat-adalah-siang-bukan-pagi/

8. Sering-seringlah berkomunikasi dengan anak Anda sejak awal dan selalu berikan sentuhan kasih karena komunikasi verbal dan sentuhan kasih dari orangtua mampu meningkatkan sistem imun anak dan meningkatkan sistem metabolismenya.

.

Healindonesia, Dt. Awan (Andreas Hermawan)

.

Link referensi:

http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2008/04/24/how-jim-carrey-and-jenny-mccarthy-s-son-recovered-from-autism.aspx?aid=CD12

http://www.aap.org/advocacy/releases/Oct07autism.htm

http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2003/07/02/pasteurized-milk-part-three.aspx

http://www.cnn.com/2008/US/04/02/mccarthy.autsimtreatment/index.html

Register New Account
Reset Password

KONSULTASI GRATIS

Konsultasikan permasalahan kesehatan Anda dengan cara klik DI SINI.

Konsultasi!