Risiko Epilepsi Pada Anak Autis

Salah satu keadaan yang sering dihubungkan dengan autisme adalah epilepsi. Penyandang autisme memiliki risiko lebih besar untuk mengalami epilepsi dibandingkan dengan anak yang tidak autisme.

Keterlibatan gangguan otak pada autisme telah dibuktikan dengan pemeriksaan terhadap anatomi dan struktur otak, pemeriksaan terhadap bahan kimia di otak dan berbagai pemeriksaan pencitraan (imaging). Namun tak ada satupun yang dianggap sebagai penyebab pasti dari autisme.

“Sebanyak 40 persen anak penyandang autisme juga mengalami epilepsi, sedangkan risiko pada anak bukan autisme hanya sekitar 1-2 persen saja. Sebaliknya anak yang mengalami epilepsi tertentu sering disertai dengan gejala autisme,” ujar Dr Hardiono D Pusponegoro, SpA(K) dalam acara Expo Peduli Autisme 2010, di Gedung Sucofindo, Jakarta, Sabtu (17/4/2010).

Dr Hardiono menambahkan kejang adalah perubahan sementara dan tidak terkontrol dari kesadaran, perilaku, aktivitas motorik, sensasi atau fungsi otonomnya. Hal ini disebabkan oleh aktivitas listrik sel saraf di otak yang berlebihan. Jika kejang terjadi lebih dari 15 menit dianggap sebagai kejang lama, sedangkan jika berlangsung lebih dari 30 menit disebut sebagai status epileptikus.

Anak dengan beberapa keadaan khusus misalnya tuberous sclerosis, rubella congenital, sindrom Down, sindrom Landau Kleffner dan electrical status epilepticus during slow-sleep dapat mengalami autisme dan epilepsi secara bersama-sama.

Seorang anak yang mengalai kejang tanpa demam untuk pertama kalinya disebut sebagai first unprovoked seizure. Sebanyak 20 persen anak yang mengalami kejang ini akan mengalami kejang kembali. Jika sudah dua kali mengalami kejang tanpa sebab maka disebut sebagai epilepsi. Epilepsi bisa terlihat sebagai bangkitan kejang umum seluruh tubuh atau hanya satu sisi (parsial) tubuh saja.

Bila seorang anak mengalami kejang tanpa sebab dua kali atau lebih, maka biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan electroencephalography (EEG). Berdasarkan pemeriksaan ini dapat diketahui aktivitas listrik sel saraf otak. Karena pemeriksaan EEG dilakukan saat anak sedang tidak terkena serangan, maka sebanyak 10-20 persen anak menunjukkan hasil EEG yang normal.

“Pemeriksaan EEG tidak dilakukan secara rutin pada anak penyandang autisme. EEG hanya bermanfaat jika anak mengalami epilepsi atau kemunduran (regresi). Dan juga tidak ada bukti bahwa kelainan EEG tanpa kejang bisa memperburuk gejala autisme,” tambahnya.

Suatu penelitian jangka panjang dilakukan terhadap 108 anak penyandang autisme, didapatkan pada usia 17-40 tahun sekitar 38 persennya mengalami epilepsi. Epilepsi lebih sering ditemui pada penyandang autisme yang disebabkan oleh penyebab medis jelas, serta kejang pertama paling sering terjadi saat usia 3-7 tahun.

“Serangan yang paling sering dialami oleh anak autis adalah absence, yaitu serangan bengong secara tiba-tiba dan terjadi belasan kali dalam sehari. Kondisi ini mudah untuk diobati,” ujar dokter dari divisi saraf anak departemen ilmu kesehatan anak FKUI.

Dr Hardiono menuturkan anak autis banyak yang menunjukkan perilaku hiperaktif dan gangguan perilaku lainnya, maka tidak semua obat bisa digunakan untuk anak penyandang autis dan harus memperhatikan kemungkinan efek samping dari pengobatan yang diberikan. Karena beberapa obat sering menyebabkan anak bertambah hiperaktif dan masalah perilaku lainnya.

“Tapi satu hal yang penting untuk diingat adalah jangan sekali-kali menghentikan obat epilepsi secara mendadak atau sendiri, karena dapat menyebabkan kejang yang lebih hebat dan sulit untuk diatasi,” tambahnya.

Sumber: DetikHealth, 17 April 2010

.

Kesaksian Mereka Yang Terbebas dari Kejang dengan Bantuan Terapi Alami

Amalia, 4 Tahun. Jawa Tengah

Pada saat saya (Sri Mulyani) mengandung puteri saya, Amalia, kandungan saya didiagnosis terserang virus yang ditularkan oleh kucing. Oleh dokter kandungan di Wonogiri, Jawa Tengah, saya disarankan untuk dioperasi. Pada 21 Juni 2001, saya melahirkan Amalia, dengan kondisi kepala yang tidak normal (membesar) atau dikenal dengan istilah hydrocephallus. Namun, kami tetap menerima semua keadaan Amalia dengan ikhlas.

Pada saat usia Amalia baru 9 hari, ia kami bawa ke rumah sakit di Yogyakarta untuk dioperasi. Operasi dilaksanakan pada 17 Juli 2001 untuk memasang selang pada bagian kepalanya. Operasi tersebut dapat dikatakan sukses, karena setelah itu, Amalia tidak pernah lagi bermasalah.

Namun, pada saat usia Amalia 7 bulan (sekitar 6 bulan setelah operasi), ia mulai mengalami kejang-kejang apabila terlalu banyak bergerak. Pada saat usianya 1,5 tahun, kami pindah ke Bogor agar lebih dekat dengan tempat ayahnya yang bekerja di Bogor.

Suatu ketika, saya bertemu dengan Mas Prya dan ibu Ani yang memperkenalkan saya produk-produk High-Desert. Pada 10 Juli 2005, saya mulai memberikan bee propolis, royal jelly, dan bee pollen kepada Amalia. Kini, setelah 8 bulan mengkonsumsi produk-produk tersebut secara rutin, kondisi Amalia sangat sehat, tidak pernah lagi mengalami kejang-kejang.

Terima kasih Tuhan atas kebaikan-Mu melalui produk-produk perlebahan ini.

.

Asmaniah, 7 Tahun, Jabbar – Makassar

Pada tahun 2004, anak saya, Asmaniah Jabbar, menderita kejang-kejang, dan matanya turun naik, penyakit tersebut dalam bahasa orang tua di kampung kami, disebut penyakit sittang. Saat itu, kami berobat ke paranormal selama ± 3 bulan. Namun, belum ada perubahan yang berarti, bahkan dapat dikatakan bahwa penyakitnya semakin bertambah parah. Kejang-kejang yang tadinya hanya muncul sehari sekali, menjadi 3 kali sehari. Kami pun mulai beralih ke pengobatan medis.

Beberapa hari kemudian, hasil pemeriksaan dokter di Makasar membuktikan bahwa Asmaniah terkena penyakit epilepsi/ayan. Kondisi Asmaniah pada saat itu sangat lemah. Dokter menganjurkan agar ia jangan terlalu lelah, tidak boleh marah, dan tidak boleh dibiarkan melamun sendirian. Awalnya kami tidak percaya bahwa Asmaniah terkena epilepsi. Karena sepengetahuan kami, epilepsi merupakan penyakit turunan.

Pada dokter pertama yang kami datangi, anak kami berobat selama ± 4 bulan, namun tidak membuahkan hasil apa pun. Dokter yang kedua kami datangi adalah dokter ahli penyakit dalam, dengan masa pengobatan selama ± 2 bulan, hasilnya tetap nihil. Kami terus berusaha untuk kesembuhan anak kami. Pengobatan selanjutnya adalah dengan dokter ahli saraf selama ± 4 bulan, hasilnya memang ada, namun jika obat yang diberikan dokter tersebut habis, epilepsi Asmaniah akan kembali kambuh.

Semakin lama kami semakin khawatir akan efek samping dari obat-obatan yang dikonsumsi Asmaniah selama ± 10 bulan. Hingga pada akhirnya, atas informasi yang diberikan keponakan kami, Irma Handayani, kami mengenal produk HD. Pada 6 Januari 2006, kami juga diajak berkonsultasi langsung dan mendapatkan pemeriksaan medis dari konsultan medis HD. Di sana, kami mendapatkan penjelasan bahwa benar Asmaniah mengalami gangguan saraf pada otaknya (epilepsi). Kami pun dianjurkan untuk melakukan terapi dengan menggunakan 3 macam produk HD, yaitu HD Honeybee PollenS, HD Bee Propolis, dan HD Royale Jelly Liquid.

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan YME, karena baru 1 minggu mengonsumsi produk-produk tersebut, kondisi Asmaniah mulai mengalami perubahan yang membaik. Dan menjelang 1 bulan pemakaian secara rutin, epilepsinya tidak pernah lagi kambuh. Kini, sudah lebih dari 6 bulan, kami secara rutin memberikan produk-produk HD berupa Honeybee PollenS, Bee Propolis, dan Royale Jelly Liquid kepada Asmaniah, dan kondisinya semakin lama semakin mem baik.

Terima kasih produk HD yang telah membantu Asmaniah sehingga epilepsinya tidak kambuh lagi.

.

Cheline Stevianny, 8 Tahun. Kendari

Pada 10 Juli 2001, kami sangat berbahagia, karena kelahiran puteri kami, Cheline Stevianny. Namun, 3 bulan kemudian, tepatnya pada Oktober 2001, Cheline mengalami kejang-kejang dan tubuhnya kebiruan, kami pun segera membawanya ke dokter dan mendapatkan terapi Luminal (obat penenang) agar ia tidak kejang-kejang. Namun, keadaan Cheline tidak membaik, karena ia masih terus kejang setiap tidur, baik siang maupun malam.

Pada November 2001, kami membawa Cheline berobat ke Makassar, di sana ia ditangani oleh dokter spesialis neurologi anak. Saat itu, Cheline menjalani pemeriksaan EEG (Electro Enchephalography), dari hasilnya diketahui bahwa terdapat kelainan otak. Maka, Cheline pun kembali menjalani terapi Luminal. Dan sekali lagi, tetap tidak membawa perubahan, karena Cheline masih tetap kejang.

Pada tahun 2003, Cheline sudah mulai dapat berjalan dan dapat berbicara, walaupun saat itu Cheline masih sering mengalami kejang-kejang dan terus menjalani terapi obat-obat penenang. November 2003, kami kembali membawa Cheline ke Makassar untuk mengatasi masalah kejang-kejangnya, dan terapi Cheline diubah menjadi terapi DEPAKENE sirup (obat penenang dalam bentuk sirup). Namun, yang terjadi keadaan Cheline semakin memburuk, frekuensi kejangnya memang berkurang menjadi 3x seminggu, namun ia menjadi lumpuh dan tidak dapat berbicara.

Pada November 2004, Cheline dirawat di rumah sakit dan menjalani pemeriksaan CT-Scan (hasilnya tidak terdapat kelainan), dan pemeriksaan EEG (hasilnya terdapat kelainan). Maka, Cheline diberikan obat-obatan seperti Luminal + penilep, dan vitamin. Tetapi Cheline masih tetap lumpuh, tidak dapat berbicara, serta kejang setiap saat.

Pada Maret 2005, saya berkonsultasi dengan dokter neurologi dan mendapatkan obat-obat seperti Tegretol, penilop, diazepan, vitamin B compleks, untuk Cheline. Keadaan Cheline tetap sama, namun frekuensi kejangnya berkurang menjadi 1x seminggu. Pada Juni 2005, saya mendapatkan brosur testimonial Cerebral Palsy dari konsultan medis High-Desert Kendari. Saya pun mulai memberikan Honeybee PollenS untuk Cheline, dan ternyata berhasil meningkatkan nafsu makannya, sehingga berat badannya naik. Keadaan Cheline terus membaik, karena ia mulai bisa duduk meskipun dibantu. Frekuensi kejangnya pun berkurang menjadi 2 minggu sekali, walaupun ia masih belum juga dapat berbicara dan berjalan.

Pada Januari 2006, saya juga menambahkan Clover Honey untuk dikonsumsi Cheline, dan keadaanya terus membaik, Cheline sudah mulai dapat berdiri dan melangkah apabila dipapah. Obat-obatan medis pun mulai saya kurangi. Pada 23 Januari 2006, Cheline kembali mengalami kejang, meskipun tidak seperti dulu. Mulai 1 Februari 2006, obat-obatan medis untuknya saya kurangi lagi menjadi sekali sehari, dan berhenti diberikan sama sekali sejak 28 Februari 2006, sehingga Cheline hanya mengonsumsi HBP dan Clover Honey. Syukur kepada Tuhan, sejak saat itu, Cheline tidak pernah lagi mengalami kejang-kejang.

Bahkan, pada minggu terakhir bulan Februari 2006, Cheline mulai dapat kembali berbicara, meskipun belum beraturan. Sampai saat ini, Cheline terus mengonsumsi Honeybee PollenS dan Clover Honey, dan akan saya tambahkan Bee Propolis Capsule sesuai dengan anjuran konsultan medis High-Desert Kendari.

Terima kasih Tuhan yang telah menunjukkan jalan melalui produk-produk High-Desert.

.

Untuk mendapatkan produk-produk seperti kesaksian di atas, silahkan KLIK DI SINI.

Buat Akun Baru
Reset Password