Mengapa Alergi Banyak Terjadi di Daerah Bersih?

Di Indonesia, alergi belum dipandang sebagai ancaman epidemik layaknya penyakit infeksi, seperti tuberkulosis dan campak. Tapi di negara-negara bersih seperti Inggris, alergi justru menjadi masalah yang besar. Mengapa alergi justru banyak di daerah bersih?

Alergi adalah respon sistem daya tahan tubuh secara berlebihan terhadap substansi yang biasanya tidak berbahaya, yang dapat menimbulkan gejala yang merugikan tubuh, mulai dari gangguan pernapasan, gangguan pada saluran cerna, maupun kulit.

Bahan yang dapat mencetuskan alergi (alergen) sangat bervariasi, seperti makanan, debu, bulu hewan, serbuk sari, kutu tungau (house-dust mites) dan lain-lain.

“Penyebab alergi belum dapat dijelaskan dengan pasti hingga saat ini,” jelas Prof Sibylle Koletzko, Kepala Divisi Pediatric Gastroenterology and Hepatology, Ludwig Maximilians University Munich, Jerman, dalam acara Media Gathering ‘Alergy and Immunity’ di Hotel Mandarin, Jakarta, Selasa (6/7/2010).

Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik, pola makan, gaya hidup, lingkungan, paparan asap rokok selama kehamilan dan periode usia satu tahun pertama merupakan faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya alergi pada anak.

“Di Indonesia, kasus alergi tidak terlalu banyak terjadi dibanding dengan penyakit infeksi seperti TB dan campak. Ini karena kasus penyakit infeksi berbanding terbalik dengan kasus alergi,” ujar Dr Zakiudin Munasir, Sp.A(K), Ketua Divisi Alergi Imunologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI-RSCM.

Tak sama dengan Indonesia, di negara-negara maju yang terkenal dengan lingkungan yang bersih dan sehat, kasus alergi justru meningkat dan kasus penyakit infeksi menurun. Yang menarik, mengapa di daerah dengan lingkungan yang sehat dan bersih kasus alergi justru banyak terjadi?

Dr Zaki menjelaskan, ini karena di dalam tubuh terdapat keseimbangan sistem kekebalan tubuh, yaitu sel-sel limfosit (sel darah putih) yang terbagi menjadi sel limfosit Th1 (T helper 1) dan Th2.

Sel limfosit Th1 aktif di dalam sel dan berperan terhadap ancaman infeksi dan juga alergi. Sel limfosit Th2 aktif di luar sel dan hanya berperan terhadap alergi.

Sel limfosit Th1 dalam tubuh akan aktif di lingkungan yang kumuh atau banyak alergen (pemicu alergi), sehingga tubuh memiliki perlawanan lebih terhadap infeksi. Sel limfosit Th1 bersifat lebih kuat terhadap alergi, dan karena sel limfosit ini berperan terhadap infeksi dan alergi, maka alergi akan jarang di daerah kumuh.

Sedangkan pada daerah yang tidak terlalu banyak alergen, yang aktif hanyalah sel limfosit Th2 karena kecil kemungkinan terjadinya infeksi, sehingga memungkinkan lebih banyak terjadi alergi dibanding daerah kumuh.

Meski alergi dikenal dengan penyakit orang-orang kaya yang selalu berada di tempat-tempat bersih, tapi menurut Dr Zaki, setiap orang tetap harus selalu menjaga kebersihan lingkungan untuk menghindari penyakit-penyakit yang lebih berbahaya dari alergi, seperti tuberkulosis dan campak.

Sumber: DetikHealth

.

Artikel Terkait:

SABUN ANTIBAKTERI DAPAT MEMBAHAYAKAN KESEHATAN ANDA

BAKTERI “BERSAHABAT” BAIK UNTUK MELAWAN DIABETES TIPE 1

Buat Akun Baru
Reset Password