Mengungkap Mafia Kesehatan Kasus Diabetes & Cara Menyembuhkannya

Jika sebelumnya saya pernah membahas tentang mafia kesehatan dalam kasus gagal ginjal, sekarang saya membahas mafia kesehatan dalam kasus diabetes. Mafia kesehatan ini akan SERING Anda jumpai di berbagai rumahsakit, klinik, dan praktek dokter sekitar Anda.

Yang menjadi korban tidak hanya masyarakat awam saja, tapi juga tenaga medis konvensional yang tidak memiliki pemahaman pengobatan alternatif. Dan hebatnya, mafia kesehatan ini DILEGALKAN atau resmi menurut undang-undang!

Penasaran seperti apa bentuk mafia kesehatan dalam kasus diabetes? Mari saya ajak Anda untuk membaca lebih dalam lagi dengan KERENDAHAN HATI DAN PIKIRAN YANG TERBUKA, MAU BELAJAR DARI APAPUN DAN SIAPAPUN.

.

Malpraktek yang Terselubung Karena Dilegalkan dan Diajarkan di Sekolah Kedokteran

Siapa yang tidak ngeri jika sudah divonis menderita diabetes karena bagi komunitas pengobatan medis konvensional, diabetes merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Bahkan penderita diabetes bisa kehilangan kaki atau tangannya jika luka gangren muncul.

WHO mencatat, jumlah penderita diabetes di dunia pada tahun 2008 mencapai lebih dari 230 juta jiwa. Jumlah itu diperkirakan akan terus meningkat menjadi 350 juta jiwa pada 2025.

Jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia, diperkirakan mengalami peningkatan dari 8,4 juta jiwa pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta jiwa pada tahun 2030 mendatang. Tingginya angka tersebut menjadikan Indonesia peringkat keempat jumlah penderita diabetes melitus terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat, India, dan Cina.

Statistik di atas adalah perhitungan statistik untuk kasus-kasus diabetes yang diketahui. Nah, bagaimana dengan yang tidak diketahui, jumlah penderita diabetes bisa lebih banyak dari itu?!

Masyarakat awam dan praktisi kesehatan perlu mengetahui bahwa standar pengobatan medis konvensional dalam menangani diabetes adalah pemberian obat sintetis seumur hidup (karena vonis tidak bisa disembuhkan) serta amputasi tangan/kaki jika ada gangren. Inilah yang resmi dijadikan standar pengobatan dan diajarkan di komunitas medis konvensional. Karena hal ini resmi dan diajarkan, kesalahan teknik pengobatan ini jadi tidak disadari oleh masyarakat awam bahkan para praktisi kesehatan itu sendiri.

Jika kita melihat angka-angka statistik di atas, itu berarti ratusan juta diabetesi (penderita diabetes) beresiko menderita komplikasi efek samping dari obat kimia yang diminum seumur hidup dan beresiko kehilangan kaki/tangan jika standar medis konvensional yang banyak kesalahannya tetap diberlakukan.

Efek samping yang ditimbulkan oleh obat-obatan kimia jika digabung dengan sakit diabetes yang menahun akan memunculkan berbagai penyakit lain yang serius seperti misalnya sakit jantung, gagal ginjal, kebutaan, kelumpuhan, dan sebagainya. Dengan makin bertambahnya penyakit komplikasi, makin bertambah pula penderitaan diabetesi dan keluarganya. Namun ironisnya, makin bertambah pula penghasilan para pelaku mafia kesehatan yang menjual obat-obatan kimia dan jasa operasi.

Siapakah para mafia kesehatan ini? Mereka adalah orang-orang kuat yang berkuasa di berbagai raksasa farmasi internasional. Raksasa-raksasa farmasi ini memiliki cengkraman yang kuat dengan sistem pendidikan dan organisasi-organisasi medis konvensional. Oleh karena begitu terselubungnya program dari para mafia ini, dokter-dokter yang belajar di sekolah kedokteran konvensional tidak menyadarinya.

Untuk membawa perubahan dan menyelamatkan ratusan juta jiwa diabetesi, kita semua perlu TAHU DAN MENGAMALKAN pengobatan yang benar dalam menangani kasus diabetes. SALAH SATU pengobatan yang benar untuk MENYEMBUHKAN diabetes (bukan sekedar merawat) adalah dengan memberikan terapi produk perlebahan, terutama propolis.

Baiklah, pertama-tama, mari kita pelajari artikel Trubus bagaimana Propolis bisa sangat manjur untuk menyembuhkan diabetes. Setelah itu, kita pelajari testimoni dari perusahaan MLM.

.

Testimoni dari Trubus

PROPOLIS GAGALKAN AMPUTASI

Mengunjungi kerabat dekat pada pertengahan 2006 berakibat fatal bagi Yatinah. Dengan kadar gula darah 423 mg/dl kakinya tak merasakan kap mesin angkutan kota yang panas. Sesampai di rumah punggung kaki melepuh.

Luka melepuh itu kemudian membengkak berisi cairan. Karena bengkak kian membesar, perempuan berusia 61 tahun itu lantas dibawa ke rumah sakit di Bekasi. Dokter menyayat dan mengeluarkan cairan lalu menjahitnya. Luka sayatan itulah awal derita. Penyakit gula membuat luka tak kunjung menutup. Dalam 3 bulan, luka itu semakin lebar dan dalam.

Meski setiap hari dicuci dengan air hangat dan dikompres, luka tak juga mengecil. Di bulan kelima, lukanya malah mulai bernanah dan mengeluarkan bau tak sedap. Puncaknya pada awal 2007 luka tembus sampai telapak kaki dan menjadi gangren. Ia pun tak lagi mampu berdiri, apalagi berjalan. Mobilitas perempuan 9 anak itu bergantung pada kursi roda.

Yatinah kerap bolak-balik ke klinik dan rumah sakit untuk memeriksakan lukanya. Perempuan yang hidupnya hanya mengandalkan warung makanan kecil di depan rumah itu mesti merogoh kocek Rp 250.000 – Rp 500.000 setiap periksa. Meski demikian, gangren terus menjalar sampai kulit di sekitarnya lebam menghitam. Maret 2007, lebam kehitaman itu menjalar mendekati pergelangan kaki. “Jika sudah sampai pergelangan kaki harus diamputasi”, kata Yatinah menirukan ucapan dokter. Ia pun hanya bisa pasrah sambil terus mengonsumsi obat dari dokter.

.

Sembuh

Pada April 2007, seorang tetangga datang berkunjung dan menyarankan mengonsumsi propolis. Yatinah menurut walau ragu. “Dokter di klinik dan rumah sakit dengan obat buatan pabrik terkenal saja tidak bisa menyembuhkan, apalagi suplemen biasa”, katanya. Selama 3 hari ia mengonsumsi propolis pada pagi, siang, dan malam sebelum tidur. Menurut Yatinah, konsumsi awal rendah itu untuk memberi kesempatan tubuh beradaptasi.

Setelah 3 hari konsumsi, Yatinah merasakan tidak ada reaksi penolakan dari tubuh dan baunya berkurang. Saat itulah ia merasakan lukanya berdenyut, pertanda saraf perasa kembali aktif. Konsumsi pun ditingkatkan dengan frekuensi tetap. Dua minggu mengonsumsi, nanah berhenti keluar. Bau tidak sedap pun tidak lagi tercium. Luka di telapak mulai mengering, sedangkan luka di punggung kaki menyempit. Lebam kehitaman di sekitar luka memudar.

Saat itu konsumsi propolis masih dibarengi obat kimia. Setelah obat dokter habis, Yatinah melanjutkan pengobatan hanya dengan propolis. Sebulan setelah konsumsi, giliran luka di punggung kaki mengering bersamaan menutupnya luka di telapak. Dua bulan mengonsumsi, nenek 17 cucu itu bisa lepas dari kursi roda. Ia kembali bisa berjalan meski agak tertatih. Tak sampai 3 bulan mengonsumsi, luka mengerikan itu sudah lenyap.

Bukan cuma mengonsumsi propolis secara oral, Yatinah juga menggunakan salep untuk obat luar. Ia mengoleskan salep mengandung propolis pada gangren di kakinya. Sebelumnya luka dicuci 2-3 kali dengan cairan infus. Cairan infus dipilih lantaran steril. Setelah dibilas dengan cairan madu, barulah salep dioleskan. Cairan madu menggantikan alkohol yang meskipun ampuh mengeringkan luka tapi sakitnya tidak tertahankan.

.

Dalam dan Luar

Menurut dr. Hafuan Lutfie, dokter yang meresepkan propolis sejak 2002, propolis bisa bekerja di dalam dan di luar tubuh. Jika dikonsumsi oral, propolis memperbaiki fungsi kelenjar pankreas dalam memproduksi insulin sehingga menurunkan kadar glukosa darah. “Tapi dengan catatan kelenjar pankreas masih berfungsi dan belum rusak total”, katanya. Selain membantu penyembuhan, propolis juga memberi nutrisi sehingga sel bisa beregenerasi. Fungsi itulah yang tidak bisa digantikan obat-obatan medis.

Jika digunakan di luar tubuh, misalnya dioleskan sebagai salep, propolis bisa menyembuhkan gangren dan menghilangkan nanah serta bau. Pasalnya, lem lebah itu bersifat antibakteri. Menurut Hafuan, nanah dan bau adalah sisa pertempuran antara sel darah putih dan bakteri patogen dari udara. Jika bakteri sudah dikalahkan oleh propolis, tidak ada lagi nanah penyebab bau yang terbentuk. Sifat lain propolis dan produk perlebahan lain secara umum adalah membantu pengeringan sehingga tidak dihinggapi bakteri patogen.

Daya menyembuhkan propolis tergantung kepada kadar yang dikonsumsi. Semakin tinggi kadar, semakin ampuh daya menyembuhkannya. Namun, jika kadarnya terlalu tinggi -misal melebihi 60%- zat itu tidak bisa tercerna tubuh lantaran sifatnya yang liat dan keras. Sebagai produk nonkimiawi, propolis aman dikonsumsi dalam jangka panjang tanpa efek samping. Toh, Hafuan mengingatkan, selain asupan propolis, penderita diabetes tetap harus menjaga pola makan dan menghindari konsumsi tinggi glukosa serta karbohidrat.

.

Antibakteri

Propolis ampuh memberangus diabetes melitus dan efek sampingnya lantaran kandungan CAPE alias asam kafeat fenetil ester. Penelitian Fuliang dari Universitas Zhejiang, Hangzhou, China, dan Hepburn dari Universitas Rhodes, Grahamstown, Afrika Selatan, membuktikan ekstrak propolis menurunkan kadar glukosa, fruktosamin, malonaldehida, oksida nitrat, oksida nitrat sintetase, trigliserida, sampai kolesterol total dalam darah.

Sementara hasil pengujian Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPT) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menemukan propolis kaya alkaloid, flavonoid, polifenol, saponin, tanin, dan kuersetin, yang semuanya bersifat antioksidan.

Menurut dr. Robert Hatibie, dokter yang meresepkan propolis dan produk lebah, propolis menstimulasi sistem imun sehingga tubuh mampu melawan infeksi bakteri patogen. Menurut Prof. Dr. Ir. Mappatoba Sila, peneliti lebah di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, propolis dibentuk lebah untuk melindungi larva yang baru menetas dari infeksi cendawan dan bakteri. Jadi, “Secara natural memang sudah bersifat antibakteri”, katanya.

Pendapat Robert dan Mappatoba diperkuat Dr. dr. Eko Budi Koendhori, M.Kes. dari Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Penelitiannya pada 2007 membuktikan propolis mampu membunuh 26 isolat bakteri Staphylococcus aureus penyebab infeksi pada kulit dan saluran pernafasan serta Escherichia coli penginfeksi saluran pencernaan. Propolis dosis 10% dan 20% mampu membunuh seluruh sampel kedua jenis bakteri. Bagi Yatinah, apa pun penjelasannya, yang penting ia lolos dari amputasi dan bisa berjalan kembali. (A. Arie Raharjo/Peliput: Tri Susanti)

Sumber : Majalah Trubus No. 483 Edisi Februari 2010

.

Testimoni dari Perusahaan MLM

Banyak orang tidak terbuka terhadap perusahaan MLM karena “alergi” dengan hal-hal yang berbau MLM. Well… itu adalah subyektifitas dari perasaan Anda dan terus terang, perasaan “alergi” ini akan menjadi “penyakit” yang menghalangi Anda untuk bisa belajar banyak dari APAPUN DAN SIAPAPUN. Obatnya adalah PIKIRAN TERBUKA, OBYEKTIF, dan RENDAH HATI.

Perusahaan MLM yang menjual suplemen memiliki segudang produk-produk kesehatan yang sangat canggih, alami – tanpa efek samping, lebih manjur, dan lebih murah dibandingkan perusahaan obat kimia manapun. Bahkan raksasa farmasi paling mahal dan canggih sekalipun tidak akan bisa menandingi kehebatan produk-produk perusahaan MLM.

Kalau Anda “alergi” karena ditawarkan produk-produk kesehatan oleh para distributor/sales MLM, sadari pula bahwa para dokter dalam prakteknya juga “menjual” obat-obatnya kepada Anda lewat resep mereka. Para dokter dalam prakteknya juga mendapatkan bonus dan komisi dari perusahaan obat lho! Namun PERBEDAAN BESAR nya adalah perusahaan MLM menjual produk alami yang ramah lingkungan dan bersifat menyembuhkan, sedangkan raksasa farmasi menjual produk sintetis yang tidak ramah lingkungan, banyak efek sampingnya, dan sekedar merawat.

Saya sendiri banyak belajar pengobatan dari berbagai perusahaan MLM, yang tentu saja DENGAN PIKIRAN TERBUKA, OBYEKTIF, DAN RENDAH HATI.

Berikut saya bagikan kepada Anda kumpulan kesaksian dari 2 Perusahaan MLM yang memakai propolis dalam pengobatan mereka. Disini akan Anda dapati bahwa SEBELUMNYA mereka juga memakai pengobatan medis konvensional tapi tidak membuahkan hasil.

.

B. Mulyati, 41 tahun. Surabaya

Pada bulan Juni 2004, saya mengalami sakit pada persendian dan badan saya, hingga menderita kesemutan. Saya menjalani pemeriksaan di laboratorium, dan ternyata saya menderita asam urat, kolesterol, dan diabetes. Saya menjalani perawatan rutin di puskesmas selama beberapa waktu, tetapi tidak juga membaik. Keluhan yang saya rasakan malah bertambah, nyeri di dada, sesak nafas dan tensi darah saya pun meningkat.

Pada tanggal 29 April 2005, seorang distributor X, Ibu B. Istichanah, menawarkan kepada saya produk pelangsing tubuh dari X, yaitu Produk A dan Produk B. Ketika itu, ibu Istichanah melihat bengkak pada kaki saya dan langsung menyarankan agar saya memeriksakan diri ke laboratorium di RSU Jombang. Ternyata hasil SGOT dan SGPT saya tinggi. Saya lalu menceritakan hasil pemeriksaannya kepada ibu Istichanah, dan beliau menyarankan agar saya berkonsultasi kepada dr. Aslichah. Oleh dr. Aslichah, saya dianjurkan untuk mengkonsumsi Propolis X dan Madu X.

Setelah saya mengonsumsi produk X secara rutin, saya kembali memeriksakan diri pada tanggal 16 Mei 2005. Ternyata hasil lab menunjukkan bahwa angka gula, angka SGOT, SGPT, dan kolesterol telah kembali normal. Saya tetap mengonsumsi produk X sampai saat ini.

.

Fransiscus Magal, 63 Tahun. Timika

Kesehatan saya mulai mengalami penurunan sejak musibah tabrakan pada bulan Juli 2003, hingga jari kaki kiri saya harus di amputasi. Lukanya tidak pernah sembuh seperti sediakala, walaupun telah menjalani perawatan secara teratur selama satu tahun. Saya juga telah mencoba pengobatan tradisional.

Pada bulan Oktober 2004, saya pergi periksa ke dokter dan ternyata saya mengidap diabetes, dengan kadar gula darah 270 mg/dl. Saya lalu menjalani rawat jalan, hingga pada suatu ketika ibu Maria Lois datang ke rumah saya, dan menyarankan agar saya mengonsumsi produk X.

Saya mencoba bee pollen X, propolis X, dan royal jelly x tablet, serta menggunakan krim propolis untuk dioleskan pada luka. Dua minggu kemudian lukanya mulai kering dan membaik. Satu bulan kemudian, pada bulan Maret 2005, saya memeriksakan gula darah saya dan sudah berada pada angka yang normal yaitu 79 mg/dl. Tiga bulan kemudian, luka saya sudah benar-benar mengering, dan hasil pemeriksaan pada bulan November 2005 menunjukkan angka gula darah dalam batas normal, dengan angka glukosa puasa yaitu 62 mg/dl, dan glukosa 2 jam PP yaitu 94 mg/dl. Saya sangat berterima kasih kepada ibu Maria yang telah memperkenalkan produk X kepada saya.

.

Jumi, 61 Tahun. Pati

Pada tahun 2000, saya mulai merasakan beberapa gejala diabetes. Saya sering merasa lapar dan selalu haus. Berat badan saya terus menurun. Saya terlihat pucat, mudah lelah, dan sering merasa kesemutan. Saya telah mencoba berbagai macam pengobatan, dari mulai tradisional sampai alternatif, namun tidak ada kemajuan.

Pada bulan Mei 2005, terdapat benjolan pada kaki saya yang semakin membesar dan akhirnya pecah sehingga saya harus menjalani perawatan di rumah sakit, namun lukanya justru semakin membusuk. Akhirnya saya memutuskan untuk merawatnya sendiri. Pada bulan agustus 2005, saya mendapat informasi mengenai produk perlebahan yang dapat membantu mempercepat proses penyembuhan suatu penyakit dari seorang distributor X, Bpk Ramido. Beliau menganjurkan saya untuk mengonsumsi propolis X, royal jelly X tablet, bee pollen, dan krim propolis X untuk dioleskan pada luka dua kali sehari.

Setelah beberapa minggu, saya menyadari bahwa luka di kaki saya mulai sembuh. Dan akhirnya pada tanggal 9 November 2005, luka tersebut benar-benar sembuh. Terima kasih X, yang telah membantu kesembuhan saya melalui produk yang luar biasa ini.

.

Azizah (55 tahun), Palembang

Setahun yang lalu Ibu Azizah, 55 tahun, memeriksakan bisul di kakinya yang tak kunjung sembuh di dokter penyakit dalam. Setelah pemeriksaan kadar gula darah, pewiraswasta ini diketahui menderita diabetes mellitus dengan kadar gula darah 470 mg/dl.

“Awalnya, saya sering merasa haus, malas makan, sering buang air kecil, dan berat badan menyusut. Tapi saya mengabaikannya karena tidak mengetahui bahwa itu adalah gejala penyakit DM. Lama-kelamaan, saya merasa kulit di kedua kaki pecah-pecah dan ada bisul berisi air di kaki kanan. Saya lalu memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam dan dianjurkan untuk memeriksa kadar gula darah.

Hasilnya kadar gula darah saya sangat tinggi, 470mg/dl. Dokter memberi obat untuk mengontrol kadar gula darah dan mengobati bisul di kaki saya. Saya juga langsung menerapkan pola makan (dari dokter) dengan mengonsumsi kentang sebagai pengganti nasi, gula khusus bagi penderita DM, serta satu jenis buah saja, yaitu melon.

Namun, bisul itu tak juga sembuh, bahkan bertambah parah hingga mengeluarkan darah dan nanah. Betis kanan saya juga terlihat bengkak seperti menyimpan nanah. Dokter menyarankan agar kaki kanan saya diamputasi. Saya dan keluarga tidak menyetujuinya dan memutuskan untuk berobat alternatif ke seorang shinse. Pengobatan alternatif tidak menjadikan kondisi saya lebih baik, sehingga saya memutuskan untuk menghentikannya.

Ibu Sri Handayani, distributor produk X memperkenalkan dan menjelaskan manfaat produk X. Produk yang dianjurkan adalah bee pollen X, propolis X, dan krim propolis X untuk dioleskan pada luka di kaki. Saya tertarik untuk mencobanya.

Setelah 10 hari mengonsumsi produk X, radang luka di kaki saya berangsur rapat dan hilang. Dua puluh hari kemudian, kadar gula darah saya turun menjadi 84 mg/dl. Luka di kaki semakin baik sehingga tidak perlu diamputasi.”

.

H. Una

Sudah 3 tahun diabetes saya kambuh, kurang lebih 120 juta saya habiskan untuk mengobati penyakit ini, tapi mungkin Allah SWT belum memberikan kesembuhan kepada saya, hingga pada akhirnya saya kedatangan tamu yang menawarkan suatu produk yang katanya dapat menyembuhkan segala macam penyakit, baru kali ini saya mendengar yang namanya propolis. Setelah saya membaca brosur tentang propolis, saya sangat yakin sekali bahwa ini merupakan petunjuk dari Allah SWT sebagai perantara kesembuhan penyakit yang saya derita. Alhamdulillan atas izin Allah SWT penyakin yang saya derita selama ini berangsur-angsur pulih dan kondisi badan saya pun makin hari makin membaik, mulai dari kadar gula menurun, dan penglihatan saya membaik juga. Alhamdulillah saat ini kondisi kesehatan saya terasa jauh lebih baik.

.

Aturan Konsumsi Propolis untuk Diabetes

Berikut aturan konsumsi propolis baik dalam bentuk tablet, kapsul ataupun cair.

  • Propolis tablet/kapsul: 3 x 1-2 tablet ½ jam sebelum makan atau 1-2 jam sesudah makan.
  • Propolis cair: 3 x 5-10 tetes ½ jam sebelum makan atau 1-2 jam sesudah makan.

Untuk meningkatkan prosentase kesembuhan, lebih baik menggabungkan propolis dengan bee pollen 3 x 1 tablet sebelum makan dan royal jelly 1 sendok teh sebelum tidur malam.

.

Pengobatan Medis Holistik Bukanlah Pengobatan yang Sempurna

Mungkin ada dari pembaca yang bertanya-tanya, “Apa dengan propolis atau pengobatan holistik lainnya, sakit saya PASTI sembuh? Apa ada jaminannya?”

Jawabannya adalah tidak ada yang pasti dan sempurna di dunia yang tidak sempurna ini.

Jadi tidak ada jaminan apapun atau kepastian sembuh dari pengobatan holistik. Semua obat, baik yang kimia maupun alami, tidak bisa dan tidak boleh mencantumkan jaminan KEPASTIAN kesembuhan 100% karena faktor berikut:

  • Kesembuhan 100% hanya ada di tangan Tuhan. Siapa tahu ada rencana Tuhan lainnya yang tidak mengijinkan seseorang untuk sembuh. Mungkin orang tersebut “belum lulus ujian hati” dari Tuhan (belum bertobat dan berubah).
  • Komitmen dan keseriusan pasien untuk berjuang sembuh sangat mempengaruhi kesembuhan. Berkat Tuhan akan diberikan setengah-setengah kepada orang yang berjuang setengah-setengah.
  • Tiap orang memiliki metabolisme yang berbeda sehingga tingkat kesembuhan maupun kecepatan proses penyembuhan juga berbeda. Bahkan ada juga orang yang alergi pengobatan alami tertentu, sama seperti ada orang yang alergi telur, ikan atau ayam.

.

Apa yang Diajarkan di Sekolah Kedokteran Konvensional adalah Kesalahan Pengobatan

Dalam sekolah kedokteran konvensional, penyakit diabetes diajarkan sebagai penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan gejala penyakitnya HANYA bisa dikendalikan dengan obat kimia dan suntik insulin.

Namun realita yang terjadi di masyarakat (bahkan seluruh dunia) malah menunjukkan fakta sebaliknya dimana diabetes adalah penyakit yang bisa disembuhkan dan obatnya telah ditemukan!

“Lho, jika memang benar sudah ditemukan obat untuk MENYEMBUHKAN diabetes, tapi kenapa tidak dijadikan standar pengobatan di semua rumah sakit dan diajarkan di sekolah kedokteran konvensional?”

Jawabannya: Karena jika RAHASIA ini dijadikan standar pengobatan di semua rumah sakit dan diajarkan di sekolah kedokteran konvensional, maka banyak pihak akan kehilangan uang besar, seperti misalnya raksasa farmasi, rumah sakit, dan para oknum “dokter nakal”.

Dengan vonis TAK BISA DISEMBUHKAN dan obat kimia (juga suntik insulin) SEUMUR HIDUP itu artinya “pihak-pihak nakal” mendapatkan bisnis besar dengan repeat order selama-lamanya, tentu saja, selagi pasien masih hidup. Kalau pasien sembuh total, mereka sudah tentu kehilangan “pelanggan kesayangan” mereka. Boleh dikata, tidak ada penyakit, tidak ada uang.

Belum lagi jika menghitung berapa keuntungan yang diperoleh dari penjualan obat kimia dan operasi untuk mengatasi efek samping obat dan komplikasi diabetes (gangren, gagal ginjal, sakit jantung, kebutaan, kelumpuhan, dll). Wow, betapa kayanya Anda dan saya jika menjadi “dokter nakal”!

Jadi alangkah beruntungnya Anda mendapatkan informasi SUPER BERHARGA ini sehingga Anda diperlengkapi dengan pengetahuan untuk menyelamatkan diri sendiri dan oranglain dari kejahatan terselubung mafia kesehatan kasus diabetes.

Rahasia sederhana tapi besar ini telah Anda miliki. Namun jangan biarkan informasi berharga ini hanya ada pada Anda saja! Gerakkan jari Anda dan klik untuk menyebarluaskannya ke rekan-rekan, teman, atau keluarga Anda sehingga mereka pun bisa terhindar dari mafia kesehatan kasus diabetes!

Healindonesia, Dt Awan (Andreas Hermawan)

.

Note: Anda bisa melihat testimoni penyembuhan diabetes lainnya beserta obat alaminya DI SINI.

.

“Salah satu tugas utama seorang dokter adalah mendidik masyarakat untuk tidak mengambil obat kimia”

Sir William Osler (Bapak Kedokteran Modern)

“Dokter masa depan tidak lagi memberi obat, namun akan menempatkan kepentingan pasiennya dalam rangka bimbingan kemanusiaan, bimbingan pengaturan pola makan, dan mengenai penyebab serta pencegahan penyakit.”

Thomas Alva Edison

 

Register New Account
Reset Password

KONSULTASI GRATIS

Konsultasikan permasalahan kesehatan Anda dengan cara klik DI SINI.

Konsultasi!