Konspirasi Dokter dan Perusahaan Farmasi

Oleh: Maximillian

Perusahaan farmasi adalah sebuah ”bisnis”, paham? Jadi, ini adalah masalah profitabilitas, penguasaan pasar, pengaturan kapital, investasi riset – inovasi teknologi, dan pertumbuhan bisnis. Obat, adalah ”produk” yang membutuhkan pasar – Dan pastikan juga bahwa pasar memang butuh produk, walaupun dengan ”dipaksa – merasa – butuh” -. Dan pasarnya adalah pasien, ya? Anda butuh konsumen untuk membeli produk Anda, jika Anda ingin profitabilitas perusahaan Anda sehat, ya kan? Dan, jika produk perusahaan Anda adalah obat, maka Anda membutuhkan jejaring pemasar yang dipercaya konsumen, alias pasien, yaitu dokter (dokter punya merek personal yang dipercaya secara emosional oleh pasien dan secara kognitif-kompetensi oleh perusahaan obat). Mutualisme yang positif secara bisnis, namun ilegal di mata hukum positif negara, ini ada aturan yang membatasi.

Likuiditas pasar obat, sangat terbatas, apalagi jika menyasar hanya pada konsumen kuratif (penyembuhan), beda cerita jika produk bersegmen konsumen promotif (pertahanan) dan preventif (pencegahan), semacam makanan fungsional, vitamin, dan suplemen energi. Ketiga produk tersebut, sama masuk ke kategori standar produksi farmasi, tetapi pasarnya sangat likuid, dan yang pasti profitabilitasnya ”basah kuyup”, tidak aneh jika raksasa Pfizer, Merck, Bayer, Glaxo Smith-Kline, IMS Health, dan Takeda- produk Takeda yang Vitamin C walaupun dosis tinggi dan melebihi kadar yang sebaiknya dikonsumsi harian konsumen, ternyata laku juga. Endorser memanfaatkan Miss Universe- yang perempuan itu – yang ”enak dipandang” itu memang efektif membujuk konsumen (contohnya penulis blog ini – yang laki- laki ini – sendiri) – selalu punya derivasi produk yang menyumbang kas signifikan bagi profitabilitas korporasi (kalau mau contoh yang lebih luar biasa, Red Bull [KratingDaeng] bisa dijadikan contoh bagus).

Investasi riset yang biasanya masuk pada angka 10% sudah tinggi, bisa lebih tinggi untuk perusahaan farmasi, belum lagi faktor uji klinik hingga tiga tahap serta uji bioekuivalensi produk kompetitor yang membutuhkan investasi SDM dan teknologi tidak murah. Sangat wajar jika perusahaan farmasi membutuhkan kapital besar, berikut pemasaran agresif untuk kesehatan profitabilitas dan pertumbuhan perusahaan yang positif.

Kasus berikut adalah yang masih hangat dibicarakan di Amerika Serikat, hingga Juli 2008 ini :

Penggunaan obat anti rokok dari Pfizer memicu debat tentang apakah pasien seharusnya diberi tahu soal ikatan antara perusahaan farmasi dan para dokter. Pada April 2008, empat pakar menerbitkan makalah untuk mengusulkan bahwa perokok dirawat analog dengan pasien penyakit kronis semacam diabetes. Artikel yang diterbitkan dalam jurnal prestisius Annals of Internal Medicine ini mungkin akan menyelinap secara sembunyi- sembunyi ke dalam tumpukan literatur anti merokok lain apabila dua paragraf terakhirnya tidak dibaca dengan seksama.

Disitu, para penulis, Dr. Michael B. Steimberg dan Dr. Jonathan Foulds, mengaku telah menerima bayaran dari pembuat produk- produk anti merokok. Salah satunya adalah Pfizer. Obat kontroversial dari perusahaan itu, Chantix, mendapat tanggapan positif dari para dokter. Padahal, penggunaan Chantix secara berlebihan dapat menimbulkan pemikiran untuk bunuh diri dan gejala penyakit kejiwaan lainnya.

Pengakuan ini memperkuat kecurigaan adanya dokter yang “bermain mata” untuk mendongkrak penjualan produsen farmasi. ”Ada keuntungan tersendiri bagi perusahaan obat yang menjual produk mereka kepada para perokok seumur hidup – dan bukan hanya selama enam minggu-,” ujar Adriane J Fugh- Berman, ahli dari Georgetown University yang turut menulis serangan internet terhadap makalah itu untuk The Hastings Center, kelompok riset etika kesehatan dari Garrison (New York). ” Obat- obatan dapat menjadi tambahan yang berguna bagi mereka yang ingin berhenti merokok. Tapi, tujuan utamanya haruslah penghentian (kebiasaan merokok) itu sendiri,” katanya.

Makalah di Annals muncul hampir bersamaan dengan dipertegasnya tanda peringatan pada label Chantix oleh Pfizer atas desakan Food and Drug Administration ( FDA) atau POM-nya AS. Adanya tanda peringatan ini justru menimbulkan kekhawatiran bahwa ada dokter yang dibayar oleh industri farmasi untuk melindungi obat itu, yang penjualannya di AS bernilai lebih dari $ 680 juta pada 2007.

”Kalau Chantix mempunyai cacat, akibatnya bisa sangat besar,” ujar Dr. Daniel Seidman, direktur klinik yang bertugas menangani pasien yang ingin berhenti merokok di Columbia University. ”Orang- orang itu mungkin berpikir uang dari industri tidak mempengaruhi pendapat mereka mengenai obat tersebut. Tapi kenyataan berkata sebaliknya. Jika ada seseorang yang menggaji Anda, akan ada bias,” katanya. Dalam menjalankan praktek, Seidman mengaku tidak menerima bayaran sepeser pun dari para produsen.

Hingga saat ini, Pfizer belum mengambil posisi resmi tentang apakah dokter seharusnya mengungkapkan sumber dana mereka kepada pasien. Cathryn M. Clary, wakil presiden urusan kesehatan eksternal perusahaan itu, mengatakan transparansi yang berlebihan bisa menciptakan kebingungan. ”Makin banyak informasi yang tersedia, makin sulit bagi pasien mencernanya, ” ujarnya. Pfizer menginstruksikan kepada para periset yang mereka bayar agar mengungkapkan kompensasi itu sewaktu bicara di konferensi profesional. Baru-baru ini perusahaan itu telah mulai mengungkapkan hibah untuk pendidikan kedokteran melalui internet.

Pada akhir 2007 ( setahun setelah produk ini resmi diluncurkan), Chantix telah melipatgandakan pasar produk berhenti merokok di AS pada $ 1,3 M. Pfizer juga memberikan dana bantuan bagi dokter yang ingin mempelajari obat itu dalam lingkungan pemeriksaan di luar proses persetujuannya. Penelitian semacam ini dapat memperluas pasar potensial obat tersebut. Steinberg menerima hibah sebesar $ 30.000 dari Pfizer pada April 2007 untuk mempelajari dampak Chantix pada pasien yang terpaksa tidak merokok selagi menjalani rawat inap akibat penyebab lain. Steinberg mengatakan dana itu sebagai bantuan penelitiannya yang pertama yang ia dapatkan dari sebuah perusahaan obat. (The Robert Wood Johnson Foudation, secara terpisah, menyediakan $ 300.000 untuk penelitian rumah sakit)

Source : Businessweek, Juli 2008

Sebagai yang pernah mengalami berdagang – yang pernah mengalami kesusahan memasarkan barang dan jasa-, tentunya cara-cara yang akan penulis lakukan untuk meningkatkan penjualan perusahaan adalah :

  1. Memberikan beasiswa kepada para calon dokter, dalam rangka membangun ikatan emosional berbasis balas-budi. Untuk membeli loyalitas pasti membutuhkan alokasi dana pemasaran yang cukup wah. Ini juga berlaku bagi dokter yang ingin melanjutkan jadi spesialis, karena menurut saya, dokter spesialis lebih memiliki strong brand di mata konsumen kelas tertentu dengan daya beli tinggi terhadap obat berharga mahal, semacam obat kanker. Loyalitas semacam ini jangka panjang, apalagi mengingat investasi kuliah di jurusan kedokteran lumayan tinggi, berikut status sosial pasca kelulusan yang lumayan wah, jadi investasi semacam ini cocok untuk menjadi pemasar produk segmen high end dengan daya beli tinggi.
  2. Memberikan semacam bonus plus plus, semacam seminar, pelesir, atau ongkos naik haji (kali…) bagi dokter yang mampu memacu pertumbuhan pasar positif sebuah produk tertentu. Bisa disegmentasi sesuai dengan spesialisasi sang dokter. Loyalitas semacam ini sifatnya jangka pendek, efektif untuk produk dengan likuiditas cepat basi dan dengan daya beli konsumen rendah.
  3. Membentuk ” ARMADA MARKETING DOKTER”. Yang militan dan loyal, berikut dengan kredo ”menyelamatkan bangsa” akan menjadi memetika berbasis pelayanan masyarakat yang sangat efektif untuk pemasaran produk-produk bermargin rendah.

Ya, Ranbaxy – India punya – saja bisa menjadi perusahaan multinasional – dengan standar farmasi global? Wow. Taruhan, dari semua pemain farmasi kelas atas Indonesia ini, siapa yang menggunakan strategi seperti Pfizer? Coba?

Sumber: http://bisnisfarmasi.com/2008/07/21/konspirasi-perusahaan-farmasi-dan-dokter-kah/
.

Buat Akun Baru
Reset Password