Selama dua sampai tiga tahun pertama kehidupan, bayi mengisap hampir apa saja.

Pada 12 bulan pertama, periode paling intens untuk mengisap atau mengulum, hampir apa saja yang ada dalam jangkauan tangan akan masuk ke mulut. Persisnya kenapa hal itu terjadi tidak jelas. Dalam kerangka evolusi, hal tersebut merupakan ciri yang seharusnya sudah lenyap karena tampak tidak menguntungkan kemampuan bertahan hidup, dan malah, faktanya, merugikan. Di Amerika Serikat, antara 1 sampai 18 dari setiap 100.000 bayi meninggal setiap tahun akibat keracunan tak disengaja, dan empat dari 100.000 bayi kehilangan nyawa akibat tersedak benda asing.

Agar ciri semacam itu bisa tetap bertahan, seharusnya ada sisi positif dari mengulum yang mengalahkan sisi negatif dari perilaku beresiko setinggi itu. Seleksi alam mengatur agar perilaku itu merupakan produk sampingan dari hal lain yang tidak bisa dihindarkan, fitur yang diinginkan, atau memiliki manfaat yang mungkin tidak langsung kelihatan yang lebih penting daripada resiko potensialnya.

Tidak heran, pendapat sigmud Freud mengenai mengulum adalah hal itu bersumber dari pemuasan sensual yang muncul dari mulut sebagai satu-satunya sumber nutrisi. Teori berikut yang diterima luas adalah bayi meletakkan objek dimulut mereka sebagai cara mengeksplorasi dan mempelajari lingkungan mereka. Namun para kritikus megatakan bahwa manfaat pengumpulan informasi semacam itu tidak sepadan dengan potensi risikonya yang sangat tinggi. Mereka juga mengatakan bahwa untuk mengumpulkan informasi semacam itu, bayi dan anak balita menggunakan cara-cara lain yang jauh lebih kecil risikonya.

Teori yang dikedepankan oleh antropolog di Universitas California menyatakan bahwa kegiatan mengisap memiliki peran yang jauh lebih penting dan vital, dan bisa jadi merupakan cara melindungi bayi dari berbagai macam penyakit berbeda seperti asma dan rheumatoid arthritis.

Pada saat kelahiran, sistem imun bekerja tapi masih dalam tahap pekembangan. Hipotesisnya, dengan meletakkan benda di mulut, bayi mendidik sistem imun mereka yang belum matang untuk mengidentifikasi benda yang baik dan buruk, semua ini dilakukan menurut argumen mereka, dibawah payung pelindung pemberian ASI yang melindungi si bayi dari apa pun yang benar-benar berbahaya.

Dengan mengekspos diri mereka terhadap racun, kuman, dan bakteri secara acak pada benda yang mereka masukkan de dalam mulut, akibatnya bayi menentukan ukuran atau penyempurnakan sistem imun mereka. Risiko gagal menentukan secara benar bisa berarti meningkatnya risiko alergi, asma, dan gangguan autoimun yang lain.

Keseluruhan proses harus dilengkapidi bawah perlindungan pemberian ASI. Sudah diketahui bahwa pemberian ASI memang menawarkan perlindungan dan terbukti mengurangi insiden diare, pneumonia, dan infeksi telinga pada bayi. Beberapa riset juga menunjukan bahwa yatim piatu tanpa ibu susu memiliki tingkat kematian lebih tinggi.

“Kami mengajukan teori bahwa mengulum berguna secara proaktif mengekspos saluran gastrointestinal yang polos terhadap antigen dan bakteri lingkungan selagi berbeda dalam perlindungan pemberian ASI,” kata para peneliti tersebut “Sistem imun memiliki periode kritis kalibrasi, saat bayi yang baru lahir menyesuaikan investasinya dalam sistem imun dengan lingkungan tempat dia dilahirkan. Kegagalan mengekspos sistem imun secara akurat terhadap cukup antigen dalam periode kritis bisa berbuntut resiko yang signifikan, termasuk meningkatnya resiko alergi, asma, dan gangguan autoimun.”

Mereka menambahkan, “meskipun alergi, asma, dan penyakit autoimun kebanyakan terjadi didunia bara dan perkotaan, perubahan cara pandang mengenai kebersihan di negara berkembang bisa meningkatkan jumblah terjadinya penyakit tersebut.”

Referensi: D. M. T. Fessler dan E. T. Abrams, “Infant mouthing behaviour: the immunocalibration hypothesis”, Volume 63 hlm 925-932

.

Tags:

©2020 Healindonesia. All Rights Reserved

Kontak via Email

Silahkan Anda menghubungi kami via Form Kontak ini.

Mengirim
WhatsApp chat

Masuk dengan data akun Anda

atau    

Lupa rincian login Anda?

Buat Akun