Hujan Menyebabkan Sumbatan Darah

Saat menganalisis hasil pemindaian dan catatan kasus pasien mereka, para spesialis menemukan hal yang membangkitkan rasa ingin tahu. Perbandingan tanggal masuk pasien dengan cuaca pada tanggal itu menunjukkan bahwa kecenderungan pasien masuk saat terjadi hujan atau saat tekanan uap, suatu ukuran untuk kelembapan, lebih tinggi.

Para pasien tersebut masing-masing masuk rumah sakit akibat embolisme paru-paru, suatu kondisi saat arteri di paru-paru tersumbat, biasanya oleh satu atau lebih gumpalan darah yang berasal dari bagian tubuh lain, sering kali dari betis. Embolisme paru-paru merupakan penyebab signifikan kematian di rumah sakit, terutama pada orang yang pernah menjalani pembedahan dan merupakan ancaman yang semakin meningkat terhadap penumpang yang bepergian jauh menggunakan pesawat terbang.

Yang selama beberapa waktu membuat para peneliti bingung adalah bahwa meskipun dalam banyak kasus penyebabnya diketahui, tampaknya ada juga variasi musiman dalam terjadinya penyumbatan aliran darah dan embolisme paru-paru. Pandangan umumnya: cuaca dingin, yang membuat darah mengalir lebih lambat, atau tekanan udara yang lebih tinggi, yag bisa menekan pembuluh darah sehingga menurunkan aliran darah, bisa jadi penyebabnya.

Para peneliti Rumah Sakit Royal Surrey Country di Guildford mengatakan departemen gawat darurat mendapati bahwa tidak mungkin memprediksikan berapa banyak kasus embolisme paru-paru yang akan terjadi dalam satu hari. Mungkin pada satu hari bisa banyak, lalu kemudian tidak ada sama sekali selama beberapa hari atau bahkan beberapa minggu. Rumor di departemen gawat darurat, kata mereka, embolisme cenderung terjadi lebih sering saat cuaca buruk atau saat hujan.

Saat pasien masuk rumah sakit dengan dugaan embolisme, merupakan praktik rutin untuk melakukan pemindaian pengobatan nuklir. Jadi, untuk melihat apakah ada kebenaran dalam rumor tersebut, tim Surrey menilik lebih dari 300 hasil pemindaian yang diambil dalam periode enam tahun. Total hasil pemindaian bulanan kemudian dibandingkan dengan data iklim bulanan yang tercatat di stasiun cuaca di dekat rumah sakit. Pengukuran yang dilakukan termasuk suhu, kelembapan, tekanan uap, tekanan udara, dan curah hujan.

Hasil yang mengejutkan menunjukkan bahwa meskipun terdapat perubahan tekanan udara yang kerap terjadi pada bulan musim dingin, hal ini tidak mempengaruhi masuknya pasien akibat embolisme paru-paru ke rumah sakit, begitu juga kelembapan maupun suhu. Akan tetapi, terdapat kaitan dengan tekanan uap dan curah hujan. Kesamaan yang dimiliki hujan dan uap air adalah keduanya meletakkan titik-titik kelembapan di udara. Uap air masuk ke atmosfer akibat penguapan air dari laut, danau, jalan basah, dan vegetasi.

Mungkinkah ada sesuatu di dalam kelembapan itu yang bertanggung jawab atas meningkatnya risiko terkena embolisme paru-paru saat musim hujan? Menurut teori Surrey, mungkin yang patut disalahkan adalah polutan yang terjebak di dalam kelembapan. Saat terhirup oleh orang yag berisiko, partikel ini masuk ke paru-paru dan bisa membantu proses penyumbatan.

“Dipostulasikan bahwa polutan semacam partikel knalpot disel atau pesawat terbang, yang terjebak di dalam titik uap yang terbawa angin terhirup oleh orang yang terpapar polusi ini, entah karena tinggal di area yang terpolusi atau karena terkena angin dari sana,” kata para peneliti. “Titik uap yang terpolusi ini diserap oleh paru-paru dan mempercepat penggumpalan aliran di dalam darah. Hal ini bisa mengarah ke trombosis dan meningkatkan terjadinya embolisme paru-paru dalam kondisi tekanan uap yang tinggi. Dengan faktor kombinasi seperti keadaan sebelumnya yang buruk atau keberdiaman saat penerbangan jarak jauh, risiko trombosis dan embolisme sebagai konsekuensinya bisa meningkat secara substansial.”

Referensi: R. Clauss, J. Mayes, P. Hilton, dan R. Lawrenson, “The influence of weather and environment on pulmonary embolism: pollutants and fossil fuels”, Volume 64, hlm. 1198-1201.

.

Register New Account
Reset Password