Toilet Modern Merusak Kaki

Sejarah menunjukkan bahwa toilet diatas permukaan tanah muncul pertama kali sekitar 5000 tahun yang lalu.

Selama sebagian besar masa itu dan peradaban sesudahnya, tempat duduk yang di tinggalkan sebagian besar diperuntukkan bagi kaum aristrokrat. Rakyat jelata tetap berjongkok diatas lubang tanah.

Akhirnya dengan berjalannya waktu, setiap orang dinegara berkembang melepaskan diri dari tanah dan naik kedudukan yang ditinggalkan, dudukan semacam ini lebih nyaman, lebih muda dijaga kebersihannya, dan saat sanitasi dipindah kedalam rumah, lebih higienis dan tidak termakan cuaca.

Fakta yang menarik, tetapi baru sedikit diketahui, adalah bahwa naiknya toilet diikuti hampir persis oleh naiknya insiden nyeri kaki dan lutut—kadang-kadang, serta salah, dianggap disebabkan osteoarthritis-juga kram kaki. Diperkirakan 7 dari 10 orang suatu saat akan menderita nyeri kaki, tapi dibeberapa bagian dinegara berkembang, dimana berjongkok merupakan kebiasaan, insiden tersebut jauh lebih rendah.

Menurut dua peneliti  Amerika, hal ini bukan kebetulan. Lenyapnya kebiasaan berjongkok dan datangnya commode (toilet duduk) juga kursi berarti membuat kita tidak lagi menggunakan otot sendi seperti yang dilakukan nenek moyang kita yang bebas nyeri. Akibatnya, menurut para peneliti, otot dan tendon memendek, mengakibatkan nyeri dan mengarah ke penyakit yang disebut para peneliti syndrom kaki kaku.

Para peneliti dari sekolah kedokteran  Universitas Loyola tersebut telah menangani lebih dari 100 pasien, yang sebagian besar menangani penyakit nyeri dan kekakuan lutut, dan kram kaki. Sekitar satu dari tiga pasien mengalami kesulitan bangkit berdiri dari posisi duduk. Mereka diberi sejumlah latihan peregangan sederhana yang meniru efek berjongkok.

Hasilnya memperlihatkan efek latihan ini seketika dan dramatis. Seorang pria berusia 88 tahun direferensikan kepada mereka setelah tes yang dilakukan gagal menemukan penyebab pening dan kehilangan keseimbangan, kram betis dan hamstring, sekaligus nyeri lutut dan sindrom kaki yang terus bergerak (restless leg syndrome). Terapi obat yang sebelumnya gagal, tetapi para peneliti mengatakan bahwa setelah latihan peregangan bertipe berjongkok selama 3 menit, pria itu bisa berlari kecil di korodor rumah sakit. Empat bulan kemudian dia tetap bebas dari kram kaki, serta nyeri lutut, kekakuan dan kaki gelisah serta berjalan kaki satu setengah kilometer tiap hari.

Pada kasus lain, seorang pria berumur 62 tahun yang sudah 15 tahun dirawat karna nyeri lutut dan kaku diberi latihan, dan setelah menyelesaikan setengah jam latihan peregangan, dia bisa berjalan tanpa nyeri dan berdiri dari posisi duduk tanpa menggunakan lengan.

“Penyebab utama kram kaki, nyeri lutut, dan kaku adalah peregangan otot yang tidak memadai yang merupakan akibat langsung  dari meninggalkan praktik popular berjongkok saat bersosialisasi dan buang air besar, dan mengadopsi posisi peneliti. “Toilet dan kursi kita merusak kaki. Kenapa kita berhenti berjongkok? Hidup akan lebih mudah duduk makan bersama dan bersosialisasi dengan bokong didekat tanah, kita tinggal berjalan sedikit ke lubang terdekat yang ada ditanah saat perlu buang air besar. Kaki kita dulu begitu lentur dan kita bergerak dengan begitu mudah.

Referensi: S. J. Sontag dan J. N. Wanter, “The cause of leg cramps and knee pain: A hypotesis and effective treatment”, Volume 25, hlm 35-41

.

 

.

 

Buat Akun Baru
Reset Password