Jaringan Listrik Bisa Mengakibatkan Depresi

Depresi merupakan salah satu problem kesehatan yang paling cepat tumbuh. Tingkat depresi naik terus tanpa henti di hampir setiap negara tanpa alasan yang jelas. Stres akibat kehidupan modern, penurunan pada keluarga dan sistem pendukungnya, ketersediaan obat baru, dan perbaikan dalam diagnosis sudah pernah diduga sebagai penyebabnya, begitu pula gen, perubahan hormonal, variasi cahaya musiman, serta makanan.

Kemungkinan lain yang sampai sekarang jarang ditanggapi serius adalah jaringan listrik atas. Jaringan listrik sangat cocok setidaknya dalam satu hal yaitu bahwa kedatangan dan penyebarannya terjadi pada periode yang sama dengan kemunculan dan penyebaran depresi. Dan seperti pasien penderita depresi, jaringan listrik ada hampir di mana-mana. Namun, apakah ada kaitan sebab-akibat di antara keduanya?

Menurut seorang peneliti di Universitas Bristol, ada kaitannya; dan di Inggris saja, jaringan listrik bisa jadi secara tahunan bertanggung jawab atas 9.000 kasus depresi pada orang dewasa, dan 60 kasus bunuh diri. Lebih dari itu, jaringan listrik mungkin bertanggung jawab atas 200-400 kasus kanker paru-paru, 2.000-3.000 kasus penyakit lain, dan 2-6 kasus leukimia pada masa kanak-kanak.

Riset ini memusatkan penelitian pada efek medan listrik maupun medan magnet di sekitar jaringan listrik tegangan tinggi di Inggris. Menurut riset ini, medan magnet frekuensi listrik bisa mempengaruhi depresi melalui aksi mereka pada melatonin, hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar pineal di otak, yang memainkan peran penting dalam mengatur ritme harian tubuh. Riset menunjukkan bahwa beberapa penderita depresi bisa dibantu dengan meminum suplemen melatonin; sementara studi lain mengatakan bahwa medan magnet dikaitkan dengan perubahan cara kerja kelenjar pineal, yang mengurangi jumlah melatonin yang diproduksi. Dinyatakan bahwa teori semacam itu juga bisa menjelaskan mengapa selama terjadi badai geomagnetis jumlah penderita depresi yang masuk rumah sakit dilaporkan meningkat.

“Secara keseluruhan, bukti menegaskan adanya potensi kaitan antara medan magnet frekuensi listrik dan depresi serta bunuh diri,” kata laporan tersebut. Pada kanker paru-paru, menurut laporan tersebut, ada bukti yang mengindikasikan bahwa risiko terkena penyakit ini berkaitan dengan polusi udara sekaligus merokok. Teori yang melibatkan jaringan listrik dengan kanker menjelaskan bahwa saat terisap, partikel aerosol yang bermuatan listrik berpeluang lebih besar untuk tertimbun di dalam paru-paru daripada aerosol yang tidak bermuatan listrik. Semua partikel yang ada di udara, termasuk karbon, bakteri, virus, dan polen, rentan menerima muatan listrik dari jaringan listrik, dan akibatnya, menurut laporan tersebut, penyakit pernapasan dan kardiovaskular akut, termasuk asma dan alergi berat, semua bisa terjadi dengan frekuensi yang lebih tinggi di dekat jaringan listrik tegangan tinggi. Di Inggris saja, diperkirakan secara total 2.000-3.000 kasus penyakit yang berkaitan dengan polusi bisa terjadi setiap tahun di dekat jaringan listrik.

“Hipotesis ini mengajukan dugaan bahwa paparan terhadap medan magnet dan medan listrik dari jaringan listrik mengakibatkan meningkatnya risiko berbagai macam penyakit, baik kanker maupun non kanker, baik pada orang dewasa maupun anak-anak,” kata laporan tersebut. “Jika, sesuai dengan hipotesis, beberapa ribu kasus tambahan kesehatan yang buruk terjadi setiap tahun di dekat jaringan listrik bertegangan tinggi di Inggris, maka jelas hal ini akan menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Implikasinya memerlukan pertimbangan mendesak dari para ilmuwan, badan kesehatan, dan berbagai regulator.”

Referensi: D. L. Henshaw, “Does your electricity distribution system pose a serious risk to public health?”, Volume 59, hlm. 39-51.

.

.

Buat Akun Baru
Reset Password