Apakah Acara TV Bisa Menyebabkan Demensia?

Selama setengah abad terakhir jumlah orang yang menonton televisi meningkat secara dramatis. Selama periode yang sama, kasus demensia juga bertambah dengan tingkat yang patut diwaspadai. Hanya kebetulan, atau mungkinkah ada kaitan antara keduanya? Lagi pula, kebanyakan orang yang sekarang didiagnosis menderita demensia pastilah sudah menonton televisi selama beberapa jam per hari selama hidupnya.

Banyak yang mengklaim bahwa medan magnet, radiasi, dan efek lain dari peralatan elektronik TV bisa membahayakan kesehatan, tetapi kali ini bahayanya bukan berasal dari peralatan melainkan dari isi tayangan TV, berikut efek psikologis serta mental dari tayangan itu.

Demensia merupakan masalah kesehatan yang meningkat yang menimpa sekitar 1 dari 20 orang yang berusia lebih dari 65 tahun, dan 1 dari 5 orang berusia 80 tahun. Alzheimer adalah bentuk yang paling umum, dan sejauh ini tidak ada faktor tunggal yang diidentifikasi sebagai penyebab penyakit ini. Umur, warisan genetis, faktor lingkungan, makanan, dan kesehatan umum secara keseluruhan adalah beberapa faktor yang telah diteliti.

Menurut riset di Universitas Tel-Aviv, Israel, ada dua problem dengan televisi yang menimbulkan kecurigaan adanya kaitan dengan demensia. Pertama, acara TV pasif dan tidak terlalu menantang secara intelektual; dan kedua, banyak kejadian yang diliput TV membuat stres. Kedua efek ini, menurut riset tersebut, berkontribusi pada berkembangnya demensia.

Beberapa riset menunjukkan bahwa risiko demensia lebih rendah pada kalangan yang berpendidikan lebih tinggi dan pada mereka yang terlibat dalam pekerjaan atau aktivitas yang stimulatif. Satu interpretasi atas temuan ini dalam hal otak dan demensia adalah teori “pakai atau hilang”. Dengan kata lain, mereka yang aktif secara mental dan lebih banyak menggunakan sel otak berpeluang lebih kecil atau lebih lambat terpengaruh proses penuaan, dan karena itu berkemungkinan lebih kecil terkena penyakit ini. Sebagai contoh, kasus demensia di antara cendekiawan Talmudic di Israel sangat jarang terjadi.

Sebaliknya, menonton TV adalah aktivitas pasif, dengan tantangan intelektual yang sedikit, dan kebanyakan manula menonton TV selama sebagian besar hidup mereka.

TV juga mengakibatkan stres. Menurut para peneliti, pada saat seorang anak Amerika meninggalkan sekolah dasar, dia akan telah melihat 8.000 pembunuhan dan 100.000 tindak kekerasan di televisi. Peningkatan yang cepat dalam liputan berita 24 jam berarti lebih banyak kejadian yang meresahkan, termasuk bencana alam, perang, dan terorisme, jauh lebih banyak diliput dan ditonton lebih banyak orang.

Menurut riset tersebut, stres yang muncul akibat tayangan TV yang berisi kejadian menyedihkan atau menakutkan dalam hidup lebih kuat daripada media lain karena elemen visual kehidupan-nyatanya dan karena tidak ada cara mudah bagi penonton untuk melepas ketegangan tersebut. Stres semacam itu, diduga, mempengaruhi neuron di hippocampus, wilayah otak yang terlibat dalam memori. Kerusakan serupa juga tampak pada otak yang dipengaruhi penyakit alzheimer.

Para peneliti merekomendasikan agar saat pertama pasien penderita demensia muncul, detail mengenai kebiasaan menonton TV mereka sebaiknya ditambahkan ke catatan kasusnya: “menimbang bahwa banyak individu sekarang telah menonton televisi selama beberapa dekade, tidak jarang dengan tingkat rata-rata empat jam atau lebih per hari, mungkin saja kerusakan kumulatif akibat stres bisa memperbesar risiko proses demensia pada penonton yang biasa melakukannya dalam jangka waktu sepanjang itu,” kata para peneliti.

Referensi: M. Aronson, “Does excessive television viewing contribute to the development of dementia?”, Volume 41, hlm. 465-466.

.

.

Klik untuk gabung.
Buat Akun Baru
Reset Password