Minum Air Menurunkan Resiko Sakit Jantung

Deposit lemak pada dinding arteri yang banyak disalahkan bisa jadi ternyata tidak bersalah sama sekali. Faktanya, deposit yang disalahkan karena memperkeras arteri atau atherosklerosis, dan menyebabkan risiko sakit jantung serta stroke yang lebih tinggi, mungkin sebenarnya hanya mencoba melindungi tubuh.

Sepertinya bukan lemak yang kita makan, melainkan temperatur dada yang harus disalahkan atas terselimutinya pembuluh darah. Memakan makanan padat kalori, menurut mereka, meningkatkan temperatur dada dan perut, dan saat panasnya tidak hilang, arteri perut dan koroner menggunakan lipid atau lemak sebagai insulator untuk membatasi arteri agar suhu tubuh tidak naik.

Meskipun demikian, kenaikan suhu yang tidak diinginkan itu bisa dicegah dengan minum air: “Air harus diminum selama, atau persis sebelum atau sesudah makan untuk mengurangi osmolalitas makanan. Penting sekali memerhatikan bahwa dalam kondisi lebih hangat konsumsi air harus lebih banyak,” kata para peneliti dari Departemen Layanan Kesehatan Negara Bagian California.

Atherosklerosis terjadi saat deposit zat lemak, termasuk kolesterol, membentuk lapisan berlemak di bagian dalam arteri. Pelapisan ini bisa mengurangi aliran darah dan juga mengakibatkan pembentukan bekuan darah yang bisa memicu serangan jantung atau stroke. Inilah penyebab utama kematian di seluruh dunia, dan beberapa peneliti menduga pemicunya adalah kerusakan inisial pada jaringan arteri, dengan menyalahkan tingkat kolesterol tinggi, diabetes, merokok, dan tekanan darah tinggi.

Para peneliti dari California mengatakan bahwa meskipun beberapa teori telah diajukan, tidak satu pun bisa menjelaskan perkembangan penyakit ini, dan sekarang saatnya menggeser paradigma berpikir. Menurut laporan tersebut, terdapat bayak bukti ilmiah bahwa makanan padat kalori memang menaikkan suhu. Riset pada hewan, misalnya, menunjukkan bahwa memakan fruktosa meningkatkan suhu di dalam usus, sementara minum air tidak. Laporan ini mengatakan bahwa jika tidak dipindah, maka panas ini akan menaikkan suhu tubuh sekaligus suhu darah. Setelah itu, menurut laporan, tubuh lalu sulit membuang panas di sekitar dada dan perut akibat tingginya tingkat lemak di area tersebut.

Menurut teori ini, aorta, arteri terbesar di dalam tubuh, mengisolasi diri sendiri dari panas dengan menyimpan materi berlemak di dinding. Dan hal inilah yang menyebabkan atherosklerosis, bukan makan lemak: “Pencernaan lemak tidak mengakibatkan termogenesis berlebihan, dan karena itu tidak menyebabkan atherosklerosis. Baik orang kurus maupun orang yang menderita obesitas memiliki risiko terkena atherosklerosis,” kata laporan itu.

Jika panas penyebabnya, maka air bisa jadi terapi baru untuk menghindari penyakit jantung. Air tidak hanya mendinginkan perut dan dada, tetapi juga menyerap kelebihan panas yang dihasilkan dan mengeluarkannya dari tubuh melalui urine. Laporan tersebut merekomendasikan 1-1,5 liter air harus dikonsumsi untuk setiap kilo kalori energi yang dipakai. “Ini merupakan sebuah hipotesis baru dan meyakinkan yang didukung oleh riset ilmiah,” tambah laporan tersebut.

Sumber: R. K. Mathur, “The role of hypersomolal food in the development of atherosclerosis”, Volume 64, hlm. 579-581.

.

.

Buat Akun Baru
Reset Password