Sarung Tangan Lateks Menyebabkan Asma

Kedengarannya mustahil, tapi mungkinkah tangan penuh kasih yang pertama memegang bayi yang baru lahir menjadi sumber epidemi asma di seluruh dunia? Ataukah hanya kebetulan bahwa ledakan global jumlah kasus asma, alergi, dan eksim muncul pada saat yag sama dengan peningkatan besar-besaran pemakaian sarung tangan lateks berbedak di antara para bidan, perawat, dan dokter?

Menurut peneliti jenifer Worth, sekarang satu dari lima anak menderita asma atau eksim pada masa kanak-kanak, dan banyak bayi sepertinya entah dilahirkan dengan satu atau keduanya, atau terkena penyakit ini hanya beberapa hari setelah dilahirkan.

Meskipun investasi yang dicurahkan untuk riset sangat besar, tidak seorang pun bisa menjelaskan mengapa penyakit di masa kanak-kanak ini meningkat begitu tinggi, padahal ratusan tersangka telah diselidiki, termasuk tungau debu rumah, susu sapi, gandum, serbuk sari, dan hewan peliharaan.

Namun sampai sekarang, tidak seorang pun menunjuk pada sarung tangan lateks. Sebenarnya, menurut laporan riset ini, dalam lebih dari 700 tulisan mengenai alergi lateks yang diperiksa, tidak satu pun yang menyebutkan tentang paparan lateks terhadap bayi yang baru lahir. Alergi terhadap lateks dipandang terbatas sebagai penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan pada orang dewasa.

Karet lateks alami berasal dari Hevea brasiliensis dan mengandung bayak komponen, yang beberapa di antaranya merupakan alergen yang kuat. Meskipun sarung tangan bedah yang terbuat dari karet telah digunakan selama hampir satu abad, pada awalnya sarung tangan itu dibuat secara lebih sederhana, kata laporan tersebut. Prosesnya melibatkan merebus lateks pada suhu tinggi, dan panas menghancurkan sebagian besar protein alami yang mengarah ke alergi. Sarung tangan itu dipasok tanpa bedak, dan sebagian besar dibuat di Inggris dan Eropa. Selama tahun 1970-an, tidak lama sebelum melonjak tajamnya kasus asma dan alergi, teknik pabrikasi berubah. Sarung tangan menjadi murah, sekali pakai, serta sudah dibedaki, dan bahan kimia ditambahkan ke lateks mentah untuk mempercepat proses pabrikasi. Banyak dari zat kimia ini, kata laporan tersebut, tidak diketahui karena adanya perlindungan paten.

Bayi harus sesedikit mungkin terpapar alergen dan zat kimia, meskipun demikian, tepat pada saat kelahirannya, bayi yang lahir di ruang bersalin terpapar lateks dan zat kimia melalui kontak dengan sarung tangan lateks yang sudah dibedaki yang dipakai oleh bidan dan dokter, kata laporan tersebut. Zat kimia itu juga masuk ke udara, dan ruang bersalin, berpeluang besar mengandung serbuk kanji yang melekat pada lateks yang menurut laporan tersebut, akan dihirup oleh bayi bersamaan dengan napas pertamanya. Kontak itu, diduga, merupakan kejadian yang menimbulkan sensitivitas yang mengarah ke reaksi asma dan alergi di kemudian hari.

“Bukti yang ada sesuai dengan hipotesis bahwa paparan lateks pada bayi yang baru lahir, yang berasal dari sarung tangan yang dipakai saat persalinan bisa merupakan kejadian yang menimbulkan sensitivitas,” kata laporan tersebut. “Sarung tangan lateks yang sudah dibedaki sudah dipakai selama sekitar 35 tahun. Satu generasi penuh telah terpapar sarung tangan itu saat dilahirkan, dan kemungkinan mengakibatkan banyak anak menjadi sensitif.”

Referensi: J. Worth, “Neonatal sensitization to latex”, Volume 54, hlm. 29-33.


Buat Akun Baru
Reset Password