Seks Mengakibatkan Tekanan Darah Tinggi Pada Kehamilan

Pre-eklampsia merupakan misteri. Meskipun umum terjadi, pada lebih dari empat juta wanita hamil di seluruh dunia setiap tahun, namun penyebabnya masih belum diketahui.

Ciri-ciri utamanya adalah tekanan darah tinggi dan ditemukannya protein di urine. Gejalanya bisa termasuk bertambahnya berat badan, sakit kepala, dan perubahan pandangan.

Dulu pre-eklampsia dikenal sebagai etoksemia karena diduga disebabkan oleh toksin dalam darah, tapi hal itu terbukti salah. Saat ini terdapat lebih dari selusin penjelasan potensial, termasuk kurangnya aliran darah ke rahim, cedera pembuluh darah, masalah sistem imun, diet buruk, dan kurangnya beragam mineral.

Riset di sekolah Pengobatan Albert Einstein, New York, mengindikasikan alasan lain-aktifitas seksual selama kehamilan dan efeknya pada tubuh wanita.

Kecurigaan para peneliti bahwa ini bisa menjadi penyebab pre-eklampsia awalnya muncul dari observasi biasa oleh dokter di ruang persalinan bahwa wanita yang mengalami kondisi tersebut biasanya ditemani pria, sementara yang tidak mengalami pre-eklampsia biasanya ditemani wanita.

Pada studi berikutnya, 72 orang remaja yang dipilih secara acak ditanyai tentang aktifitas seksual mereka selama kehamilan. Dua puluh dua remaja yang didiagnosis mengalami pre-eklampsia semuanya dilaporkan melakukan aktivitas seksual setelah pembuahan, 19 orang selama kehamilan, dan 3 orang hanya pada tiga bulan pertama. Tiga belas pasien yang mengatakan bahwa mereka tidak melakukan aktivitas seksual selama kehamilan tidak menderita pre-eklampsia. Sisanya, 37 pasien, aktif secara seksual, tetapi pre-eklampsia tidak terjadi.

Tidak jelas bagaimana aktifitas seksual bisa menyebabkan kondisi ini pada beberapa wanita. Transfer infeksi dan reaksi stres merupakan kemungkinan, tapi para peneliti mengatakan sebab yang lebih mungkin ada hubungannya dengan apa yang ada di dalam semen (air mani). Salah satu dari banyak senyawa yang terkandung di dalam semen adalah prostaglandin E2, zat mirip hormon yang diketahui berperan mengendalikan tekanan darah. Kemungkinan yang lain, ada senyawa lain yang mengakibatkan terciptanya antibodi protektif pada wanita, yang pada gilirannya memengaruhi pembuluh darah dan tekanan darah.

Para peneliti mengatakan bahwa gagasan ini memberi penjelasan bahwa rasional terhadap menurun tajamnya kasus pre-eklampsia yang tercatat di Jerman selama Perang Dunia I dan II, sekaligus meningkatnya kasus selama pengepungan Madrid. Selama perang, para pria tidak dirumah, sementara waktu pengepungan Spanyol, pria dan wanita menghabiskan lebih banyak waktu bersama.

Teori ini bisa jadi juga menjelaskan mengapa beberapa wanita yang tidak mengalami pre-eklampsia pada kehamilan pertama mengalaminya pada kehamilan kedua saat mereka memiliki pasangan yang berbeda. Ada kemungkinan pada kehamilan pertama mereka tidak berhubungan seks selama hamil, namun pada yang kedua, dengan partner yang baru, mereka melakukannya.

“Konsep penyebab pre-eklampsia ada hubungannya dengan seks bisa menjelaskan mengapa hal ini tidak terjadi pada hewan, sama halnya dengan beberapa fakta pasti tentang penyakit yang ada pada manusia,” kata mereka. “konsep ini akan mengklarifikasikan fakta yang sudah banyak diketahui bahwa hewan tidak mengalami penyakit ini secaara spontan. Penerimaan seksual pada hewan betina pasti tergantung pada status hormonal mereka. Aktifitas awal kehamilan bisa jadi menginduksi proses penyakit ini dengan satu atau lain cara. Pre-eklampsia mungkin disebabkan infeksi dan reaksi stress, tetapi penyebab yang lebih mungkin ada hubungannya dengan cairan semen.”

Referensi: G.F. Marx, S. H. Naushaba, dan H. Schulman, “Is pre-eclampsia a disease of the sexually active gravida?”, Volume 7, hlm. 1397-1399.


Buat Akun Baru
Reset Password