Cahaya Lampu Berlebih di Malam Hari bisa Meningkatkan Resiko Kanker

Matikan lampu, cabut kabel tv, tutup gorden, lepaskan penutup mata… dan ada kemungkinan Anda hidup lebih lama.

Mematikan lampu bisa jadi tidak hanya baik bagi pemanasan global, menyelamatkan planet, dan mengurangi emisi karbondioksida (carbon footprint) Anda, tetapi juga bisa menurunkan risiko terkena kanker. Di masa modern, kebanyakan orang menghabiskan hampir semua waktu terjaga mereka – baik pada siang maupun malam hari – di bawah siraman cahaya alami atau buatan dari beragam jenis sumber, sangat berbeda dengan lingkungan tempat tubuh manusia dan jam tubuh berevolusi.

Di masa lalu, semuanya sangat berbeda. Keadaan kurang lebih hitam atau putih, dengan terang pada siang hari dan gelap pada malam hari. Itu artinya kehidupan berjalan tidak rumit bagi jam tubuh dan penyokong utamanya, hormon melatonin yang diproduksi kelenjar pineal sebagai respons terhadap kegelapan dan membantu kita tahu kapan harus tidur dan kapan harus bangun.

Produksi hormon ini memuncak pada tengah malam, lalu perlahan menurun hingga menjelang fajar. Produksinya dihambat oleh cahaya, dan itu artinya cahaya berlebih pada malam hari bisa mengakibatkan tubuh tidak mendapat cukup hormon melatonin, yang juga memiliki peran penting sebagai antioksidan pelawan penyakit. Beberapa studi terhadap hewan mengindikasikan melatonin bisa mencegah kerusakan DNA yang disebabkan oleh perkembangan beberapa jenis kanker.

Stephen Pauley, peneliti dari Idaho, mengatakan bahwa tertekannya produksi pada melatonin oleh paparan cahaya pada malam hari bisa jadi merupakan satu alasan mengapa tingkat kanker payudara dan usus yang lebih tinggi terjadi di negara berkembang dan bahwa teori ini pantas lebih diperhatikan. Dia mengatakan bahwa sekarang ada bukti yang mengaitkan paparan terhadap cahaya pada malam hari dengan kanker payudara dan usus pada pekerja shift. Dia menunjukan bahwa pada lampu modern memancarkan lebih banyak panjang gelombang biru daripada lampu gas, minyak tanah dan pijar yang terdahulu, dan bahwa cahaya biru diduga lebih efektif memblokir melatonin.

Pauley mengatakan bahwa tindakan pencegahan perlu dimulai dari sekarang dan semua pemasangan lampu seharusnya dirancang untuk meminimalkan gangguan terhadap ritme tubuh harian. Kita seharusnya tidur dalam kegelapan total, menggunakan lampu luar maupun dalam yang non biru dan tidak menyilaukan, dan kantor-kantor seharusnya menggunakan cahaya siang alami atau jika hal itu tidak mungkin, menggunakan cahaya putih berspektrum lengkap.

Pencahayaan ruang dalam pada malam hari harus redup, dan panjang gelombang harus digeser ke kuning dan oranye. Membaca menggunakan lampu pijar, bukan lampu fluoresen, dan TV tidak boleh dibiarkan menyala selagi kita tidur. Kerai harus ditutup jika ada penerangan jalan, dan pekerja shif harus tidur siang dalam kegelapan total dengan bantuan penutup mata.

“Sampai lebih banyak riset secara langsung menghubungkan paparan terhadap cahaya pada malam hari dengan naiknya tingkat kanker manusia, ada baiknya mempertimbangkan usaha preventif dalam aplikasi penggunaan cahaya sehari-hari,” kata para peneliti. “Pekerja shift harus diberi tahu bahwa studi pendahuluan sekarang mengindikasikan adanya risiko kesehatan yang diasosiasikan dengan pekerjaan yang dilakukan pada jam kerja dini hari, dan bahwa risiko kanker payudara dan usus meningkat sejalan dengan naiknya jumlah hari kerja shift.”

Referensi: S. M. Pauley, “Lighting for the human circadian clock: recent research indicates that lighting has become a public health issue”, Volume 63, hlm. 588-596.


Buat Akun Baru
Reset Password