Paparan Hairspray Berlebih Bisa Mengakibatkan Kanker

Salah satu dari banyak misteri mengenai kanker adalah mengapa terjadi begitu banyak perbedaan dalam jumlah kasus kematian di antara kelompok etnik yang berbeda di negara yang sama.

Banyak faktor risiko penyakit kanker yang sudah dikenal, yaitu usia awal menstruasi, menopause dan bayi pertama, jumlah kerabat yang terkena kanker payudara, juga mutasi gen, serta obesitas dan konsumsi alkohol berlebih merupakan hal yang umum di semua kelompok. Meskipun demikian, wanita Afrika-Amerika memiliki tingkat risiko yang sangat berbeda dengan wanita kulit putih. Secara keseluruhan, mereka berpeluang lebih kecil terkena kanker payudara daripada wanita kulit putih, tapi pada usia berapa pun mereka berpeluang lebih besar untuk meninggal karenanya. Dan kejadian penyakit ini pada wanita Afrika-Amerika berusia 20-29 tahun hampir 50% lebih tinggi ketimbang pada wanita kulit putih yang seusia. Wanita Afrika-Amerika berusia di bawah 40 tahun juga lebih banyak terkena kanker payudara ketimbang wanita kulit putih, meskipun mereka cenderung punya anak pada usia yang lebih muda, hal yang sebenarnya pada wanita kulit putih merupakan faktor yang menurunkan risiko terkena kanker.

Dengan pengecualian gen keturunan yang meningkatkan risiko terkena penyakit ini, kebanyakan faktor risiko kanker payudara yang umum diketahui berhubungan dengan penumpukan paparan estrogen, dan risiko seumur hidup wanita terkena kanker payudara meningkat bersamaan dengan paparan estrogen yang lebih besar. Jadi, apakah mungkin terjadinya beda paparan bisa menjelaskan perbedaan prevalensi kanker payudara di antara ras? Apakah wanita Afrika-Amerika terpapar lebih banyak estrogen, dan jika benar begitu, apa penyebabnya?

Menurut para peneliti di Institut Kanker Universitas Pittsburgh, Universitas New York, dan Universitas Texas, produk perawatan tubuh yang dipakai secara luas – hairspray dan produk kulit yang mengandung hormon atau plasenta – kemungkinan besar adalah penjahatnya.

Wanita Afrika-Amerika bisa memiliki risiko lebih besar, diduga, karena menggunakan lebih banyak produk semacam ini. Para peneliti mengatakan terdapat bukti bahwa orang dewasa dan anak-anak Afrika-Amerika 6-10 kali lebih banyak menggunakan produk perawatan tubuh yang mengandung hormon daripada orang kulit putih. Untuk perawatan rambut dan kulit, wanita Afrika-Amerika bisa jadi menguunakannya lebih dini, selaku bayi dan anak balita, dan bisa jadi mereka juga terpapar saat di dalam rahim ketika ibu mereka menggunakan produk tersebut selagi hamil.

Teorinya, estrogen di dalam produk ini masuk ke jaringan payudara entah saat usia dini atau saat si bayi masih di rahim. Begitu masuk dalam jaringan, estrogen bisa menstimulasi pertumbuhan payudara pada usia dini, hal yang kelak meningkatkan risiko kanker payudara.

Para peneliti mengatakan bahwa beberapa laporan menunjukkan produk yang mengandung estrogen bisa mengakibatkan perkembangan seksual prematur pada bayi atau anak batita. Pada sebuah kasus, salep yang mengandung estrogen pada popok sekali pakai mengakibatkan perkembangan seksual dini pada seorang anak berusia delapan bulan.

“Paparan estogen, senoestrogen, dan senohormon yang terjadi di dalam rahim, pada usia dini, dan terus-menerus selama hidup bisa jadi turut berperan dalam terjadinya lebih banyak kanker payudara pada wanita muda Afrika-Amerika. Paparan terus-menerus bisa jadi juga berperan dalam peningkatan keganasan kanker payudara baik pada wanita Afrika-Amerika yang lebih muda maupun yang lebih tua,” kata para peneliti. Mereka menambahkan, “Orang berhak tahu apakah produk yang dipakainya untuk diri sendiri atau anak mereka mengandung senyawa yang bisa meningkatkan risiko mereka terkena penyakit, termasuk kanker. Di bawah kebijakan yang saat ini berlaku di banyak negara, hak tersebut tidak diakui.

“Karena merupakan masalah kebijakan kesehatan masyarakat, pabrikan seharusnya diminta menyediakan informasi mengenai penyertaan hormon dalam produk perawatan tubuh mereka, baik yang sekarang maupun yang lalu. Sementara itu, orang tua dan wali harus diberi penjelasan agar menghindari menggunakan produk apapun yang diketahui atau dicurigai mengandung hormon dan/atau plasenta pada anak-anak.”

Referensi: M. Donovan, D. M. Tiwary, D. Axelrod, A. J. Sasco, L. Jones, R. Hajek, E. Sauber, J. Kuo, dan D. L. Davis, “Personal care products than contain estrogens or xenoestrogens may increase breast cancer risk,” Volume 68, hlm. 756-766.


Buat Akun Baru
Reset Password