Mendengkus 120 Kali Sehari Menyembuhkan Hidung Buntu dan Rhinosinusitis Kronis

Rhinosinusitis Kronis adalah masalah kesehatan besar yang diperkirakan diderita oleh 50 juta orang Amerika dan Eropa. Penyakit radang kronis pada saluran hidung dan sinus yang bisa berlangsung lebih tinggi tiga bulan, gejalanya termasuk hidung buntu, susah bernafas, penurunan penciuman, juga pembentukan polip hidung pada beberapa kasus yang lebih berat.

Penyebabnya tidak pasti, meskipun sebuah studi Klinik Mayo, Minnesota, meyakini bahwa jamur di dalam hidung sebagai penjahatnya. Dalam usahanya untuk melenyapkan jamur tersebut, sistem imun sepertinya memicu respons radang yang mengakibatkan hidung berair, batuk, tenggorokan kering, dan nyeri gigi serta kepala.

Perawatan konvensional yang digunakan untuk mengatasi gejala ini termasuk antibiotik, pereda nyeri, kortikosteroid, dan pembedahan untuk membersihkan saluran hidung yang tersumbat, namun penyembuhannya belum ditemukan secara konvensional.

Jika jamur yang bertanggung jawab, maka salah satunya cara mengatasinya bisa jadi dengan menggunakan nitrik oksida. Beracun bagi bakteri dan jamur, gas ini secara alami dilepaskan dalam saluran pernafasan manusia, jadi secara teori inilah cara membunuh jamur. Namun bagaimana anda bisa mendapatkan cukup konsentrasi gas tersebut di tempat infeksi jamur terjadi?

Jawabannya sederhana: mendengkus. Menurut George Eby of Texas, seorang peneliti, tingkat nitrik oksida hidung meningkat 15-20 kali lipat dengan mendengkus. Dalam risetnya, dia yang sembuh dengan mendengkus adalah seorang pria berusia 64 tahun. Dia mengalami rhinosinuitis dengan sakit kepala berat, batuk dan insomnia, dan dia sudah mencoba segalanya -suntik steroid, aspirin, permen pelega tenggorokan yang mengandung seng, antihistamin, dekongestan, dan antibiotik- tapi pengobatan itu entah tidak bekerja sama sekali atau efektivitasnya minimal.

Saat itulah dia mencoba mendengkus. Bukan sembarang mendengkus, mendengkus harus dilakukan pada frekwensi yang benar dan interval yang teratur. Mendengkus dengan frekwensi rendah, sekitar 130 Hz, rupanya memproduksi nitrik oksida dalam jumlah yang paling besar.

Pria itu mendengkus kuat selama satu jam dengan kecepatan 18 dengkus permenit saat tidur malam saat malam pertama, dan mendengkus kuat dengan nada rendah sekitar 60 sampai 120 kali sebanyak empat sesi sehari selama empat hari berikutnya. Mendengkus dipandang meningkatkan getaran hidung.

Pagi hari setelah sesi mendengkus yang pertama, pria tersebut bangun dengan hidung lega dan bernafas dengan mudah. Satu-satunya efek samping perawatan ini adalah rasa pening yang bisa terjadi akibat mendengkus kuat secara berlebihan.

Menurut laporan tersebut, mendengkus selama setengah setengah jam juga bisa membantu mencegah mengatasi influenza biasa. “Dengan mendengkus 60-120 kali, empat kali sehari, termasuk sesi saat tidur, gejala lenyap secara esensial dalam empat hari. Sekarang ada harapan metode mendengkus akan sangat efektif dalam merawat pasien. Metode ini hanya membutuhkan sedikit atau sama sekali tanpa obat atau pembedahan setelah diagnosa,” kata laporan tersebut. Meskipun demikian laporan tersebut memperingatkan bahwa wanita dan anak kecil sebaiknya berhati-hati: “Kemampuan menggertakkan hidung secara kuat dengan mendengkus bisa menurun akibat fitur wajah yang kecil, ini mengindikasikan bahwa wanita bertubuh kecil dan anak-anak mungkin harus berusaha lebih keras daripada pria untuk menangani penyakit dengan endengkus.”

Pengemudi juga perlu waspada: “Efek samping mendengkus kuat-kuat dan sering, yaitu kepala pening, menyebabkan mendengkus tidak boleh dilakukan saat mengendarai kendaraan bermotor atau melakukan aktivitas yang memerlukan konsentrasi penuh.”

Referensi: G. A. Eby, “Strong humming for one hour daily to terminate chronic rhinosinusitis in four days : A case report and hypothesis for action by stimulation of endogenous nasal nitric oxide production”, Volume 66, hlm. 851-854.


Register New Account
Reset Password