Kata-kata Sayang Orang Tua Ibarat ‘Pelet’, Mampu Ikat Emosi Anak

Banyak cara mengungkapkan rasa sayang kepada anak dan anggota keluarga yang lain, antara lain melalui kata-kata. Mungkin kadang terdengar ‘lebay’ lantaran jadi mirip sinetron, tapi ternyata membisikkan kata-kata sayang kepada keluarga bisa membangun ikatan emosional yang kuat. Bahkan bagi anak, kata-kata sayang orang tua bisa jadi semacam ‘santet’ pengasihan.

“Kata-kata sayang itu ibarat ‘santet’ bagi mereka. Kata-kata itu yang mengikat emosi mereka untuk selalu pulang ke pangkuan kita. Jangan bosan puji mereka untuk hal-hal kecil yang mereka lakukan. Katakan misalnya, ‘My life would not be the same without you, my lovely son/daughter’,” ujar psikolog klinis, seksolog, hipnoterapis, sekaligus aktivis HIV/AIDSBaby Jim Aditya, dalam acara Sosialisasi Perindungan Anak dan Pendidikan Seks bagi Kepala Sekolah dan Komite SMP Negeri/Swasta DKI Jakarta, di Balai Yos Sudarso, gedung Kantor Walikota Jakarta Utara, dan ditulis pada Minggu (3/11/2013).

Dengan paparan kata-kata sayang semacam itu, menurut Baby, lama-lama kata-kata itu akan terngiang dan tertanam dalam hati anak-anak. Sehingga jika mereka sudah kenyang dipuji di rumah, mereka tidak akan mempan dirayu-rayu orang yang berniat jahat di luar sana.

“Kalau mereka menyadari bahwa diri mereka berharga bagi kita, mereka akan merasa berdosa kalau menyembunyikan sesuatu dari kita,” sambung Baby.

Dia menjelaskan ketika anak menginjak usia belasan tahun, ada beberapa bagian di otaknya yang berkembang lebih cepat, yang berpengaruh pada kondisi mentalnya. Bagian tersebut adalah korpus kalosum (penghubung otak kanan dan kiri), prefrontal cortex (fungsi judgement atau penilaian), dan amygdala (fungsi emosional). Akibat perkembangan yang lebih cepat dari ketiga bagian otak tersebut, tak heran jika seorang anak yang menginjak masa remaja memiliki emosi yang tidak stabil dan rasa ingin tahu yang sangat tinggi.

“Di masa itu mereka sering mempertanyakan diri sendiri, perubahan apa yang terjadi dalam dirinya. Kalau Anda bukan orang tua yang bisa menjadi sahabat mereka, mereka akan lebih nyaman dan percaya perkataan orang lain, seperti temannya. Pendapat teman kemudian menjadi yang paling penting,” sambungnya.

Baby mewanti-wanti jika pada masa tersebut orang tua tidak hadir dalam kehidupan mereka untuk memberikan bimbingan, maka jangan salahkan kalau mereka salah mengambil langkah. Misalnya saja dengan menjadi salah bergaul, terlibat seks bebas atau obat-obatan terlarang, dan lain-lain.

Sumber: Vela Andapita – detikHealth, Minggu, 03/11/2013

Buat Akun Baru
Reset Password